"Sepuluh kali sehari, Anda pergi kepada orang miskin, sepuluh kali pula Anda akan menemukan Tuhan "(St. Vinsensius A Paulo)
Tampilkan postingan dengan label Sharing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sharing. Tampilkan semua postingan

20 Mei 2012

Hujan Yang Dinanti

Jalanan masih tampak basah oleh sisa guyuran hujan. Hujan deras yang turun semalam mendinginkan  suasana yang sudah sekian lama terasa panas. Betapa menyegarkan, bak rasa dahaga yang tak tertahankan lalu disegarkan oleh tetesan air dingin yang mengalir di tenggorokan.  Betapa kontrasnya hari-hari sebelumnya dengan tadi malam. Musim kemarau kali ini datang lebih panjang daripada tahun-tahun sebelumnya. Udara panas yang menerpa tubuh juga membuat pikiran serasa cepat “panas”. Bahkan kadang cenderung mempermainkan emosi kita. Ada seorang psikolog yang mengatakan bahwa pikiran dan badan kita adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Apa yang dirasakan oleh tubuh juga dirasakan oleh pikiran. Demikian pula sebaliknya apa yang ada di pikiran kita juga dirasakan oleh tubuh kita. Rasanya Air Conditioning di kamarpun tidak mampu mendinginkan gelombang panas yang menerpa akhir-akhir ini. Namun kegembiraan menyambut datangnya hujan tidak disikapi sama oleh setiap orang. Setidaknya itu yang aku lihat pagi ini…..

Seorang Bapak penjual Koran di perempatan jalan Ngagel yang biasa aku lewati tampak tengah berjuang dengan susah payah melewati genangan air yang ada. Mungkin genangan itu tidak terlalu menjadi masalah bagi kebanyakan orang, namun Bapak tadi “terpaksa” harus berjalan dengan tongkat penyangga karena ia tidak memiliki kaki kanan lagi. Entah apa yang menyebabkan ia harus kehilangan sebuah kakinya… Dengan bantuan sepasang tongkat itu Ia berusaha mendekati mobil-mobil yang berhenti diperempatan, berjalan dengan susah payah sambil tangan kanannya menggenggam tumpukan Koran sekaligus juga tongkat penyangga. Ia menawarkan koran dari mobil ke mobil dengan wajah tersenyum, berharap ada yang mau membelinya. Koran itu dibungkus dengan plastik kumal untuk melindunginya dari siraman air. Sementara semprotan air sisa hujan semalam yang ada diaspal entah berapa kali sudah menghantam dirinya dan seolah menjadi sahabat akrabnya pagi itu.

Read More..

14 Maret 2012

Cinta dan Perjumpaan

Rm. Agus Setyono, CM

Pagi itu, dalam kesempatan ngobrol sambil makan bersama, seorang sahabat bercerita mengenai rasa jengkelnya. Rasa jengkel itu muncul karena dia dan lembaga yang dia pimpin dicap tidak peduli terhadap nasib orang miskin. “Bagaimana mungkin saya dinilai tidak mencintai orang miskin? Setiap tahun – kalau dihitung – saya mengeluarkan sedikitnya 300 juta untuk orang miskin.” “Oh… berarti kamu mengukur cinta kepada orang miskin dengan seberapa rupiah yang kamu keluarkan?” Pikirku dalam hati.



Dengan pola pikir ini rasanya kita tidak terlalu sulit untuk membuat kesimpulan tentang sikap kita terhadap orang miskin: semakin sedikit uang dan barang yang kita berikan kepada orang miskin, maka semakin kecil pula rasa cinta kita kepada orang miskin. Sebaliknya, kita dapat dikatakan mencintai orang miskin jika semakin besar jumlah uang dan barang yang kita sumbangkan untuk menopang hidup orang miskin. Benarkah demikian? Bernarkah uang dan barang itu adalah ukuran utama untuk mengatakan bahwa saya mencintai orang miskin atau tidak? Kalau itu benar, maka selama saya tidak memiliki uang dan barang, maka saya pasti tidak bisa dikatakan mencintai orang miskin. Dan sebaliknya saya akan dapat dikatakan mencintai orang miskin, jika saya mempunyai uang dan atau barang yang bisa saya sumbangkan untuk orang miskin. Logika ini sekurang-kurangnya semakin menyadarkan saya akan fenomena yang sering terjadi saat ini. Bukan hanya sahabat saya, ternyata mayoritas orang jaman sekarang seringkali mengukur partisipasinya dalam kehidupan orang lain, terutama mereka yang miskin, dengan pemberian materi. Dan logika inilah yang menghantarkan orang-orang jaman ini dalam keengganan untuk memasuki kehidupan orang miskin. Keengganan ini biasanya disertai banyak alasan. Misalnya: saya sibuk, tidak punya waktu, itu bukan tugas saya, dan seterusnya. Tidak hanya berkaitan dengan keengganan, tetapi logika di atas seringkali menjebak kita pada sikap-sikap mengadili orang miskin, keputus-asaan, dan seterusnya. Ada sahabat lain pernah bercerita: “menolong orang miskin… untuk apa? Saya sudah mengorbankan puluhan juta, tetapi ternyata orang miskin masih tetap miskin. Rasanya sia-sia saya mengorbankan banyak hal untuk orang miskin”. Inilah efek yang langsung kentara jika kita mengukur keterlibatan dalam hidup orang miskin dengan uang dan materi. Kita akan merasa sia-sia. Putus asa. Dan mungkin justru akan membenci orang miskin. Apakah memberi uang dan materi kepada orang miskin itu salah? Tidak. Tetapi uang dan materi tidak bisa secara serta merta dijadikan patokan dalam pelayanan kepada orang miskin. Seorang tokoh Jerman, Frederic Williem Raiffeisen mengatakan: “Yang bisa menolong orang miskin adalah orang miskin itu sendiri!” Kalau kita setuju dengan pendapat Frederic, maka uang dan materi yang kita berikan kepada orang miskin sebenarnya hanyalah salah satu dari sekian banyak faktor pelayanan atau keterlibatan dalam kehidupan orang miskin. Di atas uang dan materi ada faktor yang lebih mendasar, yaitu orang miskin itu sendiri. Frederic hendak mengatakan bahwa kalau kita ingin menolong orang miskin, maka faktor pertama yang harus menjadi fokus perhatian kita adalah orang miskin itu sendiri, dan bukan uang atau barang. Mengapa demikian? Ya tentu saja karena orang miskin adalah subjek atau pelaku utama perubahan. Kita tidak mungkin merubah orang miskin. Maka yang mungkin untuk kita lakukan adalah mengupayakan piranti-piranti yang meniscayakan orang miskin untuk bangkit, tumbuh dan berkembang. Sudah barang pasti, agenda ini tidak bisa kita tempuh hanya melalui pemberian uang dan barang. Kebangkitan, komitmen untuk tumbuh kembang akan menjadi keniscayaan jika kita sungguh-sungguh masuk dalam dunia dan kehidupan orang miskin. Dan untuk itu tidak bisa tidak kita harus berjumpa dengan orang miskin. Apa pentingnya perjumpaan? Seperti halnya perjumpaan-perjumpaan pada umumnya, perjumpaan dengan orang miskin akan menghantar kita pada dialog kehidupan. Saling berbagi. Saling mendengarkan. Saling belajar dan memberi inspirasi. Saling memupuk empati. Tataran paling mendalam dari perjumpaan adalah lahirnya benih-benih relasi yang didasari ketulusan kasih cinta yang saling menumbuhkan dan memberdayakan. Kalau perjumpaan sudah mencetuskan benih-benih kasih cinta, maka relasi dengan orang miskin niscaya bukan lagi merupakan relasi subjek (saya sebagai manusia) dengan objek (orang miskin yang harus dimanusiakan). Sebaliknya relasi dengan orang miskin akan menjadi relasi subjek (manusia) dengan subjek (manusia) yang setara. Setara. Apa maksudnya? Seringkali orang miskin, karena kemiskinannya, kita anggap sebagai pribadi yang martabatnya lebih rendah dari kita. Padahal yang terjadi hanyalah “nasib” yang berbeda. Kita lebih beruntung, lebih kaya, dan seterusnya. Sementara orang miskin tidak beruntung, lebih miskin dari kita. Kondisi (nasib) yang berbeda tentu tidak bisa langsung digunakan sebagai pondasi untuk mengatakan bahwa martabat kita berbeda. Kita yang berada dalam situasi hidup yang lebih baik adalah manusia. Orang miskin yang hidup miskin juga adalah manusia. Maka apa yang membuat kita berpandangan bahwa kita lebih superior dan orang miskin lebih inferior? Tentu tidak ada alasan yang sangat mendasar dalam hal ini. Kita dan orang miskin sesungguhnya memiliki martabat yang sama. Kita dan orang miskin sebenarnya memiliki kesetaraan. Inilah sesungguhnya pondasi yang harus kita tanamkan dalam diri kita jika kita hendak melakukan pelayanan dan berelasi dengan orang miskin. Pondasi relasi dengan orang miskin adalah cinta, dan bukan uang atau barang. Pondasi relasi dengan orang miskin adalah keyakinan bahwa saya dan orang miskin adalah manusia yang memiliki kesamaan martabat.


Rm. Agus Setyono, CM
www.dokasg.wordpress.com

Read More..

17 November 2011

Matahari Terbit di Panti Semedi

Konferensi Santa Maria Immaculata - Klaten dalam kegiatannya juga melayani koor atau paduan suara, baik untuk mengiringi Ekaristi Minggu di Gereja ataupun Ekaristi untuk ujub tertentu seperti Ekaristi Perkawinan dan sebagainya. Kelompok koor tersebut kami beri nama Paduan Suara SSV “Kevin Choir”. Dalam mengiringi Ekaristi untuk Ujub tertentu biasanya kami mendapat honorarium yang nominalnya tidak kami tentukan melainkan seikhlasnya saja dan hasilnya bisa untuk menambah kas konferensi.
Merupakan sebuah kenangan indah yang tak terlupakan bagi PS “Kevin Choir” ketika kami diminta untuk mengiringi Perayaan Ekaristi Bapak Uskup. Saat itu, tanggal 19-20 Maret 2011 bertempat di Rumah Retret Panti Semedi diselenggarakan rekoleksi Keluarga Besar Dokter Katolik se Jogja-Solo-Semarang. Pada hari Minggu, 20 Maret 2011 kegiatan tersebut ditutup dengan Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Bapak Uskup Agung Semarang, Mgr. Yohanes Pujosumarto dan PS “Kevin Choir” mendapat kesempatan emas sebagai koor pengiring. Berhubung di kapel Panti Semedi yang tersedia adalah buku Madah Bakti, oleh panitia kami diminta untuk mengambil lagu-lagu dari Madah Bakti. Tepat pukul 11.00 kami lantunkan lagu “Dijenjang Maaf” sebagai lagu pembuka, dan selanjutnya menggemalah tembang-tembang kenangan era tahun 80an, harap maklum bahwa mulai tahun 1990 di Paroki Klaten dalam Perayaan Ekaristi tidak lagi memakai buku Madah Bakti melainkan telah menggunakan buku yang baru yaitu Puji Syukur.


Dalam kotbahnya Bapak Uskup mengharap para Dokter Katolik dapat menjadi dokter yang penuh welas asih, sebagaimana telah dicontohkan Yesus Sang Maha Dokter yang telah menyelamatkan manusia dari kematian akibat dosa dengan mengorbankan nyawaNya sendiri. Sebagai ilustrasi Bapak Uskup bercerita, ketika menghadiri undangan acara doa bersama pada masa tanggap bencana erupsi Merapi. Saat menyampaikan sambutannya Bapak Uskup mengisahkan mimpinya, suatu ketika disebuah pondok pesantren Pak Kyai tengah memberikan wejangan kepada para santrinya.
Kata Pak Kyai : “Anak-anakku apakah kalian sudah mengerti, kapan atau bilamana matahari terbit ?” setelah berpikir sejenak beberapa santrinya mencoba memberikan jawaban. Ada yang menjawab pukul 05.30 habis subuh, santri yang lain menjawab pada saat ayam jantan berkokok, dan santri lainnya lagi menjawab pada saat langit timur semburat kemerahan. Dari jawaban-jawaban para santri tersebut tidak satupun yang berkenan bagi Pak Kyai. “Anak-anakku jawabanmu semuanya tidak salah, namun ada jawaban yang merupakan kebenaran hakiki : bahwa sesungguhnya matahari terbit dari lubuk hatimu ketika kamu memandang mereka yang memerlukan pertolongan, mereka yang membutuhkan bantuan, mereka yang mengharapkan santunan, mereka semua adalah sebagai saudara-saudaramu sendiri….you are my sunshine”.


               You're my sun when the rain is falling
               You're the moon when the night comes
               You're the air that I am breathing
               You're the one that makes me believe in destiny


Klaten, 20 Maret 2011


R. Tri Wahyanto

Read More..

28 Maret 2011

Lebih Baik Dibohongi Orang Miskin

Suatu ketika bersama-sama teman-teman SSV, kami bertemu dengan seorang penderita HIV di sebuah rumah sakit milik Pemerintah. Pasien ini, sebut saja A, dalam pengakuannya terinfeksi virus HIV karena suntikan. Dia mengaku berasal dari Makasar dan di kota ini tidak ada keluarga sama sekali yang bisa dihubungi. Tidak begitu jelas bagaimana kisahnya, hingga dia bisa dirawat di rumah sakit ini, karena pengakuannya berbeda-beda.
Dia merasa bahwa pihak rumah sakit tidak begitu suka akan kehadirannya ditempat itu. Perawat bersikap sinis dan bahkan bersikap "kasar" terhadap dia, begitu keluhannya. Mungkin karena A dianggap tidak memiliki dana untuk pengobatannya. Singkat cerita, karena merasa kasihan, kami akhirnya berbagi tugas untuk melayani A. Ada yang datang membesuk di pagi hari, ada yang sore hari. Tiap hari ada saja yang kami bawakan untuk A. Selimut, makanan, sarung, baju dll. Itu kami lakukan dengan senang hati.


Sampai suatu saat A merasa bahwa harapan hidup baginya sudah tidak ada, maka ia berharap agar bisa dibantu untuk keluar dari Rumah Sakit dan pulang kembali ke tanah kelahirannya di kota Makasar.



Kami mendiskusikan permintaan A dan akhirnya diputuskan untuk mencari donatur yang bisa membantu rencana itu. Beberapa orang yang aku hubungi menyanggupi untuk memberi sumbangan. Bahkan istriku juga bersemangat untuk mencarikan tiket ke Makasar. Nah....untuk pertimbangan kemanusiaan, mengingat waktu yang mendesak, aku berinisiatif memberikan uang sekitar 3 jutaan ke A dengan maksud agar ia sendiri yang membayar hutang biaya pengobatannya. Harapan kami agar dia menjadi lebih percaya diri dihadapan petugas dan perawat RS. Uang itu sebenarnya masih uang pribadi, karena masih belum sempat bertemu para donatur. Setelah menerima uang tersebut, A bergegas ijin untuk mengurus administrasi keluar dari RS. Setelah ditunggu 1 jam lebih......eh ternyata A menghilang. Pihak administrasi RS juga menyatakan bahwa A tidak datang ke bagian administrasi. Lemaslah badanku.




Perasaan marah dan jengkel bercampur aduk menjadi satu. Kami merasa kesal. Ditipu oleh orang yang selama ini kami beri perhatian..... Umpatan dan makian keluar. Dalam hati kami menyadari kebodohan kami. Terlalu percaya dengan A. Dari informasi yang berhasil kami telusuri, ternyata dia juga menjadi buronan polisi di kota lain. Dia juga sering menipu kesana kemari.

Selama beberapa hari aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Hati ini begitu sakit, mengingat uang yang dilarikan adalah uang pribadi. Nilai uang itu sangat berarti bagi keluargaku. Peristiwa ditipu oleh orang miskin sudah pernah kami alami. Namun yang terakhir ini benar-benar membuat aku kecewa. Sampai terlintas dipikiranku, ....ah sebaiknya aku berhenti saja untuk berkarya di bidang sosial ini.

Sampai suatu saat aku diingatkan oleh seorang Romo tentang Vinsensius, seorang santo yang berasal dari Perancis. Vinsensius sangat dekat dengan orang miskin. Meskipun dia memiliki tugas rutin sebagai seorang imam, namun dia tetap memberikan waktunya untuk menolong dan mengunjungi orang-orang miskin. Hidupnya sangat bersahaja. Dia mencoba meneladani sang Guru Agung. Vinsensius pun pernah mengalami hal yang sama, namun dia tidak pernah berhenti untuk melayani sesamanya yang menderita. Ada kata-katanya yang patut untuk direnungkan "lebih baik aku ditipu oleh orang miskin, daripada aku tidak berbuat apa-apa ketika ada orang miskin yang meminta tolong."

Vinsensius tidak ingin peristiwa yang pahit itu menjadi halangan untuk menolong orang-orang lain yang barangkali betul-betul membutuhkan uluran tangan kita. Vinsensius ingin mengingatkan bahwa apapun yang terjadi, kita tetap harus concern untuk penderitaan mereka, walau kadang-kadang hal itu menyakitkan. Karena bagaimanapun mereka tetap bagian dari saudara kita. Merekapun ciptaan Allah yang maha kasih.

Aku sadar....kadang-kadang berbagai cara dilakukan bagi orang miskin untuk tetap bisa bertahan hidup. Banyak yang bisa tetap berada di jalur yang direstui oleh-Nya, meskipun hidup terasa berat. Namun, ada juga yang ingin mengatasinya dengan jalan pintas.

Hingga suatu hari.....
saat membaca sebuah majalah rohani nasional, ada sebuah artikel yang memuat kisah tentang A dari yang bersangkutan. Kisahnya memilukan dengan alur cerita yang luar biasa. Membaca kisahnya orang akan bersimpati. Disana ...rupanya sang wartawan tidak tahu apa yang sebenarnya telah dilakukan oleh A.

Namun.... belajar dari semangat Vinsensius, aku mencoba untuk memaafkannya.

Semoga Allah menyertai langkah hidupnya.

Oleh: Erik

Read More..

16 Juni 2010

General Assembly di Salamanca – Spanyol



Pada tgl. 28 Mei s/d 1 Juni 2010 bertempat di Salamanca, Spanyol telah diadakan General Assembly yang dihadiri oleh 180 peserta dari 110 negara dari seluruh dunia. Agenda utama dalam pertemuan itu adalah pemilihan ketua SSV ke-15 untuk menggantikan Juan Ramon Torramocha (Spanyol). Setiap negara memiliki satu suara untuk ikut berpartisipasi dalam pemilihan itu. Indonesia mengirimkan Bpk. Erik Subiyanto, wakil ketua DeNas, dalam pemilihan itu. Berikut ini sebagian laporannya.

Hari ke-1
Misa pagi selalu mengawali hari-hari pertemuan. Pada kesempatan itu Hymne SSV untuk pertama kali diperkenalkan dalam bahasa Perancis, Inggris dan Spanyol. Sungguh ini suatu kebanggaan bagi kita bersama bahwa lagu ini bisa membantu kita untuk saling membina persaudaraan SSV dengan semua orang, dengan semua bangsa tanpa terkecuali. Mengingatkan bahwa kita punya rekan kerja seiman dimana-mana.

Ketua Juan Ramon membuka acara sekaligus melaporkan aktivitas Dewan Umum SSV selama periode kepemimpinannya. Laporan itu juga meliputi laporan keuangan yang disampaikan oleh Ian Mcturk, bendahara Dewan Umum. Secara keseluruhan ada kemajuan dalam perkembangan SSV di seluruh dunia. Kerjasama di tingkat Internasional semakin berkembang dengan dilibatkannya SSV dalam proyek Unesco. Kondisi keuangan Dewan Umum tahun ini juga memperlihatkan perbaikan dari tahun sebelumnya, ini disebabkan karena semakin banyak negara yang ikut memberikan kontribusinya.


Dalam sambutannya, Juan Ramon mengharapkan agar SSV semakin terlibat dalam kerjasama yang dibangun oleh Family Vincentian ( Keluarga Vinsensian ). Kerjasama ini penting mengingat kita mempunyai tujuan yang sama yaitu menolong orang miskin. Didalam keluarga Vinsensian, tidak ada yang boleh merasa paling penting. CM bukan paling penting meskipun St. Vinsensius yang mendirikan, Putri Kasih juga bukan paling penting meskipun dia yang membimbing SSV pertama kali juga bukan SSV yang paling penting meskipun memiliki cabang yang terbanyak. Tapi yang terpenting karena kita disatukan dalam satu semangat kerasulan. Kita diundang untuk melayani sesama, melayani Kristus. Kekuatan kita adalah Allah sendiri. Banyak jalan menuju Yerusalem, tetapi Allah sendiri yang akan memberi jalan / kekuatan.
Selain itu beliau juga mendorong kita untuk terus berbuat seperti apa yang dilakukan oleh Frederic Ozanam bersama teman-temannya di thn 1833. Kita harus membuat gerakan nyata untuk mengentas kemiskinan.

Siang harinya dilakukan pemilihan suara. Bagi mereka yang tidak datang, suara dikirim melalui surat. Setiap negara berhak atas satu suara. Dari 5 orang nominasi calon ketua, akhirnya terpilih Michael Thio dari Singapore dengan jumlah suara meyakinkan sebanyak 87 %. Terpilihnya Michael Thio yang mewakili benua Asia merupakan sejarah baru dalam organisasi SSV. Mengapa demikian? Sebab ketua sebelumnya selalu berasal dari benua Eropa. Ini membuktikan bahwa SSV sebagai organisasi sosial berhasil menunjukkan sifat internasionalnya dan tidak membedakan ras sesuai dengan semangat yang dibawa oleh pendiri SSV, Frederic Ozanam dan rekan-rekannya, ketika mendirikan serikat ini di Paris.

Michael Thio seperti diketahui selama ini sangat aktif memperjuangkan SSV dimana-mana. Terlibat di SSV selama 43 tahun. Posisi sebelumnya sebagai Wakil Ketua Dewan Umum SSV mengantarnya untuk terlibat aktif dalam pengembangan SSV di beberapa negara. Selain itu kemampuan organisasinya yang cukup baik (pernah menjadi Direktur Operasional British Company) diharapkan mampu membuat SSV menjadi organisasi yang lebih efektif dalam membantu orang miskin.

Hari ke-2
Dr. John Falzon (CEO SSV Australia) menyampaikan tentang Social Justice. John mengingatkan bahwa SSV merupakan sebuah gerakan sosial yang harus maju kedepan. SSV berkomitmen untuk melakukan perubahan sosial dimasyarakat yang lebih adil dan penuh kasih sayang. Selain itu SSV juga merupakan sebuah gerakan spiritual. Dalam SSV kita juga digerakkan oleh kasih Allah. Kita menjadi saksi dari kehadiran Allah didunia. ”Berbahagialah kamu yang miskin dihadapan Allah....karena kamulah pemilik kerajaan Allah.” Lukas 6: 20, 24. Kita harus meniru pendiri kita, Frederic Ozanam, yang selalu belajar melihat penyebab kemiskinan dan penindasan agar bisa mencegahnya dikemudian hari.

Diskusi berikutnya mengenai topik Kaum Muda dibawakan oleh Julien Spiewak (Perancis), International Youth Coordinator CGI, yang sangat bersemangat dalam menggerakkan anak muda.
Kita diingatkan kepada sejarah bahwa sekelompok mahasiswa, dalam hal ini anak muda, di bulan April 1833 mulai bekerja dengan komitmen untuk melayani orang miskin. Meskipun saat ini banyak konferensi yang anggotanya tidak muda lagi, namun sangat penting bahwa ”semangat muda” untuk berinovasi dan beradaptasi harus selalu ada diantara kita. Julien mengingatkan kita untuk selalu memberikan kesempatan kepada anak muda untuk terlibat aktif. Memberi ruang dan tempat bagi mereka untuk bersuara. Saat ini ditingkat Internasional sudah beberapa kali diadakan pertemuan kaum muda mulai di Salamanca (2008), Filipina (2009) dan di delapan negara di Amerika Selatan. Ada rencana pertemuan kaum muda di Salamanca pada tgl. 13-15 Agustus 2011.

Di sore hari peserta diajak berdiskusi dalam kelompok untuk membicarakannya tentang Social Justice dan Kaum Muda. Hasil diskusi ini dituangkan dalam laporan yang disampaikan kepada panitia.

Hari ke-3
Kardinal Paul J. Cordes dari Roma juga menyempatkan hadir dalam pertemuan ini. Pada kesempatan itu, Kardinal memberikan penghargaan dari Bapa Paus Benediktus kepada Juan Ramon atas usahanya melalui SSV yang telah berkarya menolong orang miskin di seluruh dunia.
Kardinal Cordes mengingatkan bahwa sebagai Vinsensian, kita harus menjadi alat Kristus untuk menyatakan cinta Allah. Pelayanan kita tidak bisa dipisahkan dari Gereja. Melalui Gereja, Tuhan memberikan kekuatan untuk melayani orang miskin. Tuhan memberikan contoh dirinya sendiri dalam mencintai manusia. Yesus mau hidup dan mengalami sengsara yang luarbiasa demi cintaNya kepada manusia. Ini merupakan contoh paling baik bagi karya kita. Kita juga perlu belajar melihat pengalaman dari Beato Frederic Ozanam. Semasa hidupnya pendiri SSV ini sempat mengalami keraguan akan kehadiran Tuhan. Sampai suatu saat, Ia berkata: ”Aku akan mempersembahkan diri sepenuhnya untuk kebenaran”. Setelah bergulat dalam pelayanan kepada orang miskin, pada akhirnya, Frederic bisa mengatakan ”mengapa aku harus takut dengan Tuhan ? Aku mencintainya.”

Para peserta General Assembly hari ini juga mendapat kesempatan mengunjungi kota Avilla tempat kelahiran St. Theresia. Perjalanan dari Salamanca ke Avilla ditempuh dalam waktu 1 jam dengan bus yang sudah disediakan oleh panitia. Kota Avilla sendiri sebenarnya merupakan kota tua yang didirikan pada abad ke-9. Yang membuatnya menarik adalah kota ini dikelilingi oleh benteng yang tampak kokoh dari kejauhan. Didalam kota benteng ini ada beberapa gereja, katedral, kapel, museum, situs tempat St. Theresia, pasar, toko-toko dan bangunan tempat tinggal penduduk. Suasana kristen tampak terasa ketika kita berada didalam benteng ini.

Hari ke-4
Romo Robert Maloney, CM membahas topic mengenai Systemic Change and the poor dengan cara yang menarik berupa pemutaran beberapa film tentang studi kasus. Topik bahasan dimulai dari kisah awal impian untuk membuat proyek Systemic Change.
Saat ini Romo Greg Gay, Superior Jenderal CM, telah membentuk suatu komisi untuk menyebarluaskan pemikiran tentang Systemic Change terutama kepada para anggota Keluarga Vinsensian (Family Vincentian) di seluruh dunia. Sytemic Change bertujuan untuk menghentikan lingkaran kemiskinan yang ada. Dalam Systemic Change kita perlu memutus rantai kemiskinan yang ada sehingga bisa memperbaiki kondisi bagi masyarakat miskin. Contoh Lingkaran tsb sebagai berikut:
1. Seseorang tidak memiliki pekerjaan, maka tidak bisa punya uang
2. Tidak punya uang membuat mereka tidak memiliki makanan yang baik
3. Konsumsi makanan yang tidak baik menyebabkan kesehatan menurun
4. Kesehatan yang buruk membuat mereka tidak bisa bersekolah dengan baik
5. Jenjang pendidikan yang tidak tinggi menyebabkan mereka tidak bisa bersaing untuk mendapat pekerjaan dan akhirnya mereka menjadi pengangguran

Beberapa kriteria dari proyek Systemic Change:
1. Punya dampak sosial yang luas dalam kehidupan orang miskin
Proyek membantu perubahan secara keseluruhan terhadap hidup mereka yang terlibat.
2. Berkelanjutan
Proyek ini juga dapat merubah secara permanen dalam diri orang miskin, seperti mendapat pekerjaan, pendidikan, perumahan dan tersedianya air bersih dan makanan yang cukup dan lain-lain
3. Bisa ditiru
Proyek ini bisa juga diterapkan untuk masalah yang sama di tempat lain. Strategi dan tehnik bisa diimplementasikan di berbagai lingkungan.
4. Innovasi
Proyek juga bisa mengadaptasi inovasi / temuan baru. Systemic Change diharapkan bisa membantu kita ”untuk belajar melihat dunia baru” seperti yang dikatakan oleh Albert Einstein.
Kita bisa mengadaptasikan beberapa contoh keberhasilan proyek yang berbasis model Systemic Change untuk digunakan pada lokasi yang berbeda. Beberapa pelatihan tentang Systemic Change sudah dilakukan, yang terakhir adalah dalam pertemuan Keluarga Vinsensian di Thailand bulan November 2010 yang lalu. Selain memenuhi kebutuhan mendasar dari individu, sebagai Vinsensian kita juga dituntut kejelian dalam memutus rantai kemiskinan.

Contoh kasus adalah apa yang terjadi di Okoa – Guatemala dimana kerjasama antara Romo Louis (misionaris dari Kanada), SSV dan masyarakat setempat berhasil mengentas kemiskinan dengan membuat saluran air untuk memperbaiki lingkungan masyarakat. Akibatnya pengangguran berkurang. Proyek ini menjadi percontohan bagi proyek sejenis yang sekarang berlokasi di 120 desa.
Romo Maloney juga memberi contoh proyek pengerjaan sampah yang dilakukan di Madagaskar dimana sekarang masyarakat akhirnya memiliki sekolah sendiri, punya rumah sakit modern, setiap keluarga memiliki rumah.

Seperti dihari ke-3 para peserta juga dibagi dalam kelompok dan mendiskusikan pengalaman masing-masing negara terkait dengan Systemic Change Project.

Hari ke-5
Pada hari terakhir ini, para peserta mendapatkan kesimpulan hasil workshop selama pertemuan di Salamanca. Hasil pertemuan ini diharapkan dapat disosialisasikan di semua negara. Harapannya SSV bisa berkembang lebih maju dan mempunyai jaringan kerjasama yang lebih solid di masa yang akan datang.
Sebagai penutup, ketua SSV yang baru, Michael Thio menyampaikan banyak terima kasih atas partisipasi yang aktif dari seluruh peserta. Beliau juga memaparkan rencana kerja dan hal-hal yang menjadi fokus perhatiannya untuk membuat SSV menjadi organisasi Internasional yang lebih baik dalam memberikan pelayanan kepada orang miskin. Beliau juga menginginkan adanya pengembangan kepemimpinan di SSV.
SSV adalah sebuah organisasi yang menginspirasikan nilai-nilai katolik pada karya kasih diseluruh penjuru dunia. Dengan rahmat Tuhan dan kerjasama dengan teman-teman Vinsensian, kita akan menumbuhkan nilai-nilai itu lebih jauh sehingga tujuan dan misi pendiri kita tercapai.” demikian yang disampaikannya pada CatholicNews. Pada kesempatan itu beliau juga menyebutkan nama-nama yang akan mendampinginya untuk periode mendatang, yaitu:
1. Brian O Reilly - Vice President General (Irlandia)
2. Bruno Menard - Secretary General (Perancis)
3. Liam Fitzpatrick - Treasurer General (Irlandia)

Read More..

08 April 2010

Mencintai yang Miskin



Siapakah yang paling miskin dari yang miskin ? Mereka adalah orang-orang yang tidak dikehendaki, yang tidak dicintai, yang diabaikan, yang lapar, yang telanjang, yang tidak punya rumah, yang menderita lapar, dan yang kecanduan alkohol, yang berada ditengah-tengah kita…. Agar dapat melihat dan mencintai Yesus didalam orang miskin, kita harus bersatu dengan Kristus melalui sebuah kehidupan doa yang mendalam.
Yesus menghidupkan kembali kesengsaraanNya diantara orang-orang miskin. Orang-orang miskin itu sungguh-sungguh menghayati kesengsaraan Kristus. Kita harus memperlakukan mereka secara manusiawi…..
Berikanlah pertolongan kepada Kristus dalam selubung kesengsaraan-Nya. Yesus yang miskinlah yang kauberi makan, yang kauberi pakaian, dan yang kauberi tumpangan. Lakukanlah semuanya itu dengan cinta yang besar dan utuh.
Orang miskin tidak membutuhkan belas kasihan kita; mereka membutuhkan uluran tangan kita. Kita memerlukan mata iman yang mendalam agar bisa melihat Kristus yang tubuh-Nya remuk dan berpakaian kotor, karena dibalik itulah Orang yang Paling Mulia diantara anak-anak manusia bersembunyi.
Orang Miskin adalah orang-orang yang sangat pantas dicintai, merekalah yang lebih banyak memberi kepada kita, bahkan jauh lebih banyak dari yang kita berikan kepada mereka. Pengetahuan akan membimbing kita kepada cinta; cinta akan menuntun kita kepada pelayanan.

Tidaklah jelek kalau kita mempunyai paling tidak satu kongregasi yang memanjakan orang-orang miskin, saat orang-orang lain memanjakan orang orang kaya. Aku sungguh terkesan dengan kenyataan bahwa sebelum menjelaskan Sabda Allah dan sebelum memaparkan Delapan Sabda Bahagia kepada banyak orang, Yesus telah berbelaskasih kepada mereka dan memberi mereka makan. Kemudian barulah Dia mulai mengajar mereka.
Orang-orang miskin adalah orang-orang yang mengagumkan. Mereka punya martabat sendiri, yang dapat kita lihat dengan mudah….. Tetapi lebih dari itu, orang-orang miskin punya keberanian yang besar untuk menapaki jalan kehidupan yang mereka lewati. Mereka dipaksa untuk hidup seperti itu; kemiskinan telah memaksa mereka untuk menerima kehidupan semacam itu. Jangan pernah meninggalkan orang miskin. Kalau kau melakukan hal itu, engkau-pun meninggalkan Yesus Kristus. Bahkan semenjak awal aku tidak pernah meminta uang. Aku ingin melayani orang miskin semata-mata berdasarkan cinta kepada Allah. Aku ingin orang miskin menerima secara gratis segala sesuatu yang didapat orang kaya dengan uang.

From : Anugerah-anugerah Cinta by Ibu Teresa

Read More..

30 Maret 2010

Pedulikah Kita





Wajah-wajah lugu dan sederhana mulai berdatangan sejak pagi itu. Kebanyakan adalah ibu-ibu tua, mengenakan kebaya sederhana dan sewek/jarik. Aku menebak umur mereka antara 60-80 tahun. Mereka adalah sebagian penduduk dari kota kecil Ngawi, tepatnya di desa Ngrambe dan hidup di pelosok-pelosok desa.
“Pinten (berapa) nak?” tanya seorang ibu ketika kami memberikan sembako.
“Gratis bu,” salah seorang teman kami menyahut.
Sontak terpancar raut kaget dan tak percaya di wajah ibu itu ketika mendengarnya.
“Mboten bayar?” tegasnya lagi sambil menatap kami tak percaya. Kami mengangguk. Lalu serta merta terucap kata-kata penuh syukur dan wajahnya bersimbah air mata.
“Matur nuwun. Alhamdulilah!”
Aku terkesiap. Kurasakan sensasi aneh di relung hatiku, kurasakan seluruh tubuhku bergetar dan sesuatu seakan mendesak di bola mataku, berlomba-lomba saling mendahului. Kucoba untuk menahan agar aku tidak menangis, namun tidak bisa dan akhirnya pertahananku jebol. Air mataku mengalir tanpa dapat kucegah. Semakin lama semakin deras. Kususut dengan cepat, secepat dia mengalir di pipiku lalu memalingkan wajah ke arah lain. Berharap hal itu tidak terlihat oleh teman-teman yang lain.
Ini pertama kali aku melibatkan diri disini. Seorang teman mengajakku ikut serta dalam perjalanan ini. ‘Serikat Sosial Vinsensius’ secara rutin mengadakan perjalanan amal seperti ini. Selain membagikan sembako, mereka juga memberikan pengobatan gratis kepada warga yang tidak mampu. Ada donatur yang secara teratur memberi dana dan ada tenaga-tenaga yang membantu menyalurkannya. Banyak juga yang terlibat disini. Ada Romo, dokter, beberapa pejabat Gereja dan para awam.
Semakin siang yang berdatangan semakin banyak dan mereka bersikap tertib sehingga tidak menyulitkan kami. Setiap orang, usai menerima sembako mengucapkan kata-kata yang sama dengan ibu tadi. Puji Tuhan, Alhamdulilah, Duh Gusti, terimakasih! Dan selalu aku memandang mereka dengan air mata haru.
Tidak hanya disini sebenarnya kita melihat hal-hal seperti itu. Di perempatan jalan, di panti asuhan, para pemulung di jalan, pengemis, sering kutemukan wajah-wajah lugu yang memancarkan ucapan terimakasih yang tak terhingga ketika kita memberikan sesuatu pada mereka. Entah itu sembako, nasi bungkus atau hanya sekedar uang receh. Namun pancaran mata yang tulus ‘selalu’ mengagetkanku sampai detik ini. Walaupun tidak banyak yang kita berikan, itu sangat berharga buat mereka.
Karena kepedulian kita sudah cukup membuat mereka “BERHARGA".

by Widjaja Maladewi - Sharing Baksos SSV di Ngrambe - Ngawi

Read More..

Berjumpa Sesama Lewat Bhakti Luhur






Bersama Romo Iswandir, CM, sebanyak 11 orang pengurus dan eks pengurus konferensi mahasiswa St. Benoit Labre – Surabaya melakukan refleksi bersama di Biara Suster Passionis - Malang. Acara yang digelar tgl. 13-14 Maret 2010 itu bertujuan untuk menumbuhkan kebersamaan dan semangat pelayanan para pengurus. Hari Sabtu malam diisi dengan Pembekalan yang diberikan Romo Iswandir, CM. Dilanjutkan dengan sharing pengalaman dari pengurus Dewan Nasional selama terlibat di SSV.
Yang menarik dari rangkaian refleksi tersebut adalah acara kunjungan ke Bhakti Luhur pada hari Minggunya. Saat mengikuti Misa didalam kompleks Bhakti Luhur, kami dikejutkan dengan kehadiran sebagian peserta misa yang memiliki cacat fisik. Hati kami terasa ditusuk melihat berbagai macam penderitaan yang dialami oleh para asuhan disana. Terutama melihat anak-anak dari berbagai kalangan. Ada yang menderita Celebral Palsy, ada yang punya kaki dan jari dengan ukuran besar (mirip kaki gajah), ada yang tidak punya tangan dan kaki, ada yang buta, ada yang tidak bisa menegakkan kepala dan banyak lagi.
Kami tersentuh dengan ketabahan mereka.

Meskipun kondisi fisik yang tidak memungkinkan, namun sebagian besar masih bisa mengikuti Misa dengan baik. Misa yang dipimpin oleh Romo Gigih, CM dan Romo Iswandir, CM itu terasa mengharukan. Kunjungan ke Bhakti Luhur sebenarnya bukan yang pertama kali kami lakukan dan berjumpa dengan para penghuninya, namun mengikuti Misa dengan mereka baru kali ini kami alami. Ada berbagai macam perasaan yang bercampur aduk. Terharu, karena melihat penderitaan yang mereka rasakan. Bersyukur, karena Tuhan memberi kami fisik yang mendekati sempurna dibandingkan mereka. Bahagia karena bisa berdekatan dan bersama-sama mereka memuji Tuhan.
Selesai Misa, kami diajak berkeliling melihat dari dekat wisma-wisma tempat tinggal mereka bersama bu Yayuk. Kami sangat tersentuh melihat seorang anak yang bernama Hendra. Hendra merupakan penderita autis yang saat ini berusia 12 tahun. Akibat sering memukul kepalanya sendiri, tangannya oleh para perawat Bhakti Luhur terpaksa diikat kebelakang dengan kain. Siang itu kami juga melihat dia membawa kemana-mana kursi dibadannya. Oleh orang tuanya dia dititipkan disana sejak kecil.
Ada lagi gadis cilik berusia 8 tahun. Intan panggilannya. Meskipun tampak ada perbedaan dengan anak-anak diusianya, ia tampak terlihat cantik. Wajahnya yang imut-imut menimbulkan iba bagi siapa saja yang melihat. Terlebih bila mendengar cerita latar belakang sampai ia disana. Seakan-akan orangtuanya sudah tidak menghendaki dia lagi. Duh…gusti kasihan sekali anak ini.
Ada pula ibu-ibu dan nenek-nenek yang menempati wisma terpisah. Beberapa dari mereka sudah tidak pernah dikunjungi lagi oleh keluarganya. Ada yang masih berusaha mengingat-ingat anggota keluarganya. Namun ada juga yang sudah lupa melupakan keluarganya. Bahkan ada yang tidak suka ketika didekati. Seakan ada trauma mendalam yang dialami.
Saat ini anggota asuh ada kurang lebih 300 orang yang tinggal di Bhakti Luhur. Sedangkan para perawat dan sukarelawan yang bertugas dan sedang belajar mencapai 500 orang. Suatu angka yang besar. Untuk kebutuhan beras saja sebulan mereka membutuhkan kurang lebih 8 ton.
Kami juga belajar banyak dari para perawat dan suster yang bertugas disana. Para sukarelawan itu hidup sehari-hari bersama mereka tanpa dibayar. Mereka tampak tahu betul masalah dan cara mengatasi masing-masing orang yang menjadi tanggung jawabnya. Mereka melayani dengan penuh sukacita. Ada pula yang menjadi suster atau perawat setelah mereka sendiri pernah tinggal disana sewaktu kecil. Apa yang mereka lakukan menjadi teladan bagi kami dalam melayani para anggota asuh SSV.
Siang itu kami mensharingkan apa yang dijumpai di Bhakti Luhur. Masing-masing dari kami menceritakan perasaan, pengalaman yang didapat dari perjumpaan dengan anggota asuhan Bhakti Luhur. Bertemu dengan mereka, membuat kami, para pengurus Benoit Labre, merasa disegarkan dan disemangati.
Kami berjanji untuk melayani anggota asuh kami dengan lebih baik…….semoga.

Read More..

21 Juni 2009

500 ribu anak muda menghadiri World Youth Day 2008



Setelah acara Famvin di Bathurst, Australia berakhir (9-13 Juli 2008), semua peserta berangkat menuju ke Sydney dengan menggunakan 7 bus besar untuk mengikuti WYD 2008. Sesuai rencana, para peserta Famvin akan makan siang bersama di komplek gereja St. Vincent di daerah Ashfield. Setelah makan siang, peserta akan diantar ke tempat dimana kita akan menginap selama mengikuti WYD 2008. Untuk acara WYD, kami minus Romo Tetra CM menginap di De La Salle College sekitar 1 menit berjalan kaki dari gereja St. Vincent dan 5 menit berjalan kaki dari stasiun kereta Ashfield. Kami mendapat satu ruang kelas untuk bertujuh. Akomodasi jauh berbeda dengan di Famvin yang sangat terjamin, kami tidur di lantai dengan sleeping bag, gak ada heater, kamar mandi terbatas, tapi konsumsi tetap terjamin lho. Untuk acara WYD, setiap peserta yang ikut disebut pilgrim atau peziarah. Berdasar informasi yang aku peroleh, WYD 2008 diikuti oleh 170 negara dengan jumlah peserta mencapai 500 ribu orang. Acaranya terdiri dari acara umum dan pilihan. Acaranya cukup beragam seperti misa, katekese, jalan salib, adorasi, pengakuan dosa, konser musik, pemutaran film, pameran dan masih banyak lagi. Setiap hari kita harus membuat program acara untuk hari berikutnya dan yang menjadi patokan adalah acara umum, sehingga kita menyesuaikan acara pilihan kita. Tapi yang paling aku tunggu-tunggu adalah bertemu dengan Paus Benediktus XIV. Selama WYD berlangsung, setiap peserta mendapat pilgrim passport yang berfungsi sebagai ID card, kupon makan, tiket gratis kereta CityRail dan bus kota ke venue- venue acara. Jadi mobilitas kita sangatmudah dan cepat. Acaranya cukup padat, setiap hari acara dimulai jam 06.30 pagi dan kita harus kembali ke penginapan diberi batas waktu sebelum jam 12 malam, karena seluruh transportasi baik CityRail maupun bus kota akan berhenti beroperasi pada jam tersebut. Dalam rangkaian acara WYD 2008, kami mengikuti beberapa acara gathering seperti Indonesian Gathering dan St. Vincent de Paul Society International Youth Gathering. Kami mengikuti Indonesian Gathering bersama peserta WYD lainnya yang berasal dari Indonesia dan masyarakat Indonesia yang bermukim di Australia, sekitar 2000 orang hadir dalam acara tersebut baik muda maupun tua. Khusus SSV Indonesia, kami bertiga mendapat undangan untuk mengikuti St. Vincent de Paul Society International Youth Gathering, disini kami bertemu lagi dengan anggota SSV dari seluruh dunia yang sebagian besar juga ikut acara Famvin. Kami diajak mengikuti berbagai presentasi tentang: SSV, Salamanca Meeting, kaum muda, karya sosial SSV seperti pendampingan anak, kunjungan dan bantuan bencana tsunami dari beberapa negara. Acara ini dihadiri oleh Barbara Ryan ( Ketua SSV negara bagian New South Wales), John Falzon (Ketua Denas SSV Australia) dan Jose Ramon Diaz Torremocha (Ketua Dewan Umum SSV). Meskipun acara padat, kami sempat mengunjungi Opera House dan cari oleh-oleh, kapan lagi bisa ke Australia he.....he....... Selama mengikuti WYD kita dapat jatah makan 3 kali dari panitia, untuk menu makan pagi dan siang perut kita masih bisa terima tapi kalau untuk menu makan malam kita gak berani makan soalnya rasanya aneh. Untuk makan malam kita biasanya bikin mie instant di penginapan atau kalau pas pengin makan nasi kita hunting masakan Indonesia di China Town. Jauh-jauh ke Australia makannya apa? Tetap menu lokal Indonesia seperti nasi goreng, nasi uduk, nasi kuning, gado-gado dll. Untung dech, meskipun rasanya agak beda tapi cukup menghibur. O, iya ada satu cerita yang menggelikan selama WYD berlangsung. Kalo di Indonesia kita bisa mandi 2 sampai 3 kali sehari. Tapi selama di WYD kita hanya bisa mandi sehari sekali. Bukan karena terbatasnya air dan shower atau udara dingin, tapi lebih dikarenakan jadwal kegiatan yang sangat padat serta menguras tenaga yang kita ikuti setiap hari. Maka untuk mensiasatinya, kami mandi sehari sekali pada malam hari menjelang tidur. Untuk pagi hari? Mana mungkin kita bisa bangun pagi untuk mandi, jadi cukup cuci muka dan sikat gigi beres dech. Maklumlah kita baru tidur sekitar jam 1 – 2 pagi setelah kita mengevaluasi kegiatan kita hari itu dan doa malam dalam satu kelompok, dan pagi jam 6.30 kita harus segera keluar dari ruang tidur untuk memulai aktivitas kita. Hari terakhir menjelang misa penutupan bersama Paus Benediktus XIV, semua peziarah berkumpul di North Sydney untuk memulai perjalanan kita ke Randwick tempat diselenggarakannya misa penutupan. Untuk acara ini kita wajib membawa peralatan perang seperti jaket, syal, sarung tangan, sleeping bag, makanan dan minuman. Seluruh peserta berjalan kaki menuju ke tempat acara. Spektakuler!!!! Karena ratusan ribu peziarah berjalan kaki bersama-sama melalui rute yang sudah ditentukan panitia. Kami sama sekali tidak merasa lelah karena kami melewati tempat-tempat yang indah dan belum pernah kita lihat dari dekat, apalagi pada saat kita melewati Harbour Bridge yang menjadi ikon kota Sydney. Dari situ kita bisa melihat Opera House ikon kota Sydney yang lain dari arah yang berbeda dan melihat pemandangan kota Sydney yang penuh dengan gedung-gedung tua yang terawat baik dan gedung bertingkat yang tertata rapi. Ternyata kota Sydney dibangun dengan konsep satu kesatuan yang direncanakan dengan matang. Selama perjalanan itu peserta WYD disambut dengan sukacita oleh warga setempat dengan lambaian tangan. Tak hanya sambutan positif yang kami terima tapi beberapa demo negatif juga kami jumpai di beberapa lokasi. Tapi para peserta WYD tidak mempedulikannya. Selama perjalanan, secara berkelompok para peserta berdoa jalan salib, doa rosario dan menyanyi lagu-lagu pujian. Apalagi kami satu kelompok Kevin, berjalan beriringan dengan teman-teman dari Meksiko yang membawa alat musik lengkap dan bernyanyi di sepanjang jalan, pokoknya full music dech. Oh betapa indahnya..... dan betapa eloknya....... bila saudara seiman....... hidup dalam kesatuan....., begitulah kira-kira gambaran suasana saat itu yang aku rasakan. Kurang lebih 3 jam perjalanan kita sampai di Randwick sekitar pukul 5 sore. Ya, hari itu semua peserta WYD akan tidur di lapangan. Cuaca saat itu cukup dingin. Malam harinya kita mengikuti ibadat malam yang dipimpin langsung oleh Paus Benediktus XIV, kita berdoa sambil menyalakan lilin. Kemudian acara dilanjutkan dengan konser musik sampai jam 10 malam. Pagi harinya kita persiapan untuk misa penutupan, setelah makanpagi, kami bersiap-siap menyambut kedatangan Paus, dengan mobil kebesarannya, Paus berkeliling lapangan dengan pengawalan ketat untuk memberi salam dan memberkati kaum muda yang hadir. Suatu pengalaman yang gak akan aku lupakan bisa melihat Paus dalam jarak dekat meskipun Cuma beberapa detik. Misa berlangsung sekitar 3 jam. Setelah misa selesai kami kembali ke penginapan untuk persiapan pulang ke Indonesia. World Youth Day 2008 yang diselenggarakan di Sydney, Australia ini berjalan dengan sukses dan lancar. Sungguh sebuah pengalaman terindah dan tidak terlupakan bisa berkumpul dengan kaum muda dari seluruh penjuru dunia. Kami tidak melihat perbedaan warna kulit, status social ataupun masalah politik, tapi aku hanya melihat persaudaran, persahabatan, kegembiraan. Meskipun kami tidak bisa mengenal secara personal, tapi Tuhan Yesus punya kuasa untuk menyatukan kami dalam acara tersebut. Sungguh, Tuhan membuat kita menjadi gila, gila akan persahabatan, persaudaraan dan perdamaian. God is good all the time, all the time God Is good.Terima kasih saya sampaikan kepada Dewan Nasional atas kepercayaan, dukungan dan kesempatan yang diberikan kepada kami untuk mengikuti WYD 2008. Buat Vinsensian muda ayo segera bergabung dalam kegiatan SSV ditempatmu. Siapa tahu World Youth Day berikutnya yang akan dilaksanakan di Madrid, Spanyol, kamu yang terpilih untuk mewakili SSV Indonesia.


By : Ferdinan Wahyu Aria - DD Magetan

Read More..

Family Vincentian - 2008 di Australia





Pada tanggal 9 – 13 Juli 2008 yang lalu, saya mengikuti acara Famvin (Keluarga Vinsensius) 2008 yang diselenggarakan di Bathurst, Australia. Saya berangkat ke Australia bersama Devina (DD Bandung) dan Josi (Denas). Kami bertiga berangkat dari Bandara Juanda, Surabaya pada hari Selasa, 8 Juli 2008. Pesawat yang kami tumpangi berangkat pada Pk. 17.00 WIB menuju Denpasar, Bali untuk transit untuk selanjutnya berangkat menuju Sydney, Australia pada Pk. 23.55 WITA. Sesampainya di Sydney International Airport, ternyata kami sudah dijemput oleh salah seorang panitia yaitu Bec Bromhead.
Setelah berkenalan, kami menuju kantor SSV Australia untuk beristirahat sambil menanti kedatangan teman-teman SSV dari negara lain yang kedatangannya dikoordinir oleh SSV Australia. Saat di Kantor SSV Australia, kami diberikesempatan untuk sarapan pagi dan berkenalan dengan Vinsensian muda dari negara lain yang sudah datang sebelum kami. Menjelang makan siang seluruh peserta diajak berjalan-jalan menuju sebuah mall, kami diberi kesempatan untuk belanja keperluan kami masing-masing. Setelah belanja kami diajak makan siang di food court di mall tersebut. Setelah belanja dan makan siang, kami kembali ke kantor SSV Australia untuk persiapan berangkat ke tempat dimana akan dilangsungkannya acara Family Vincentian.
Pada Pk. 14.00 waktu Sydney, kami berangkat ke tempat acara dengan menumpang bus yang sudah disiapkan oleh panitia. Famvin dilaksanakan di Bathurst Region, sekitar 3 jam dari Sydney dan diikuti oleh 31 negara termasuk Indonesia dengan jumlah peserta sekitar 300 orang. Delegasi Indonesia berjumlah 8 orang terdiri dari SSV 3 orang, JMV 2 orang, PK 2 orang dan CM 1 orang. Meskipun satu delegasi, kami dari Indonesia tidak berangkat bersama-sama .
Sesampainya di Bathurst, kami baru tahu kalau seluruh peserta menginap di asrama St.Stanislaus’ College. Pada saat registrasi kami mendapat ID card, mini bagpack dan kaos. Panitia juga menyiapkan perlengkapan untuk musim dingin bagi peserta secara cuma-Cuma seperti syal, sarung tangan, dan penutup kepala. Setelah itu kami menuju kekamar untuk beristirahat dan persiapan pribadi menjelang acara pembukaan. Sebelum acara pembukaan kami makan malam bersama. Wow! Sungguh luar biasa, hampir seluruh peserta sudah hadir, tapi delegasi Indonesia yang lain mana ya? Disitu kami berkenalan satu sama lain, pengalaman yang sangat berarti buat kami. Pada saat berkenalan banyak orang yang mengira kami orang Filipina, wah Indonesia kemana nich? Memang untuk acara Famvin sendiri, delegasi dari Filipina cukup besar sekitar 50 orang coba bandingkan dengan delegasi. Indonesia yang hanya 8 orang itupun kami belum bertemu satu sama lain di makan malam tersebut.
Acara pembukaan diawali dengan tarian selamat datang dari suku Aborigin, pengenalan logo Famvin 2008, penyalaan lilin oleh organisasi/tarekat yang mempunyai semangat Vinsensius dan dari negara-negara yang ikut serta dalam acara tersebut. Saat itu saya mewakili Indonesia
dalam penyalaan lilin. Tema dari Famvin 2008 ini adalah “Experience Family, Witness and Mission, God’s Story and Ours”.
Hari kedua, acara dimulai dengan makan pagi pada Pk. 06.30 waktu setempat. Setelah doa pagi, kemudian dilanjutkan dengan presentasi oleh Romo Richard Benson, CM tentang visi dan misiSanto Vinsensius terhadap kaum miskin. Untuk informasi, kami dibagi dalam beberapa kelompok kecil dengan anggota sekitar 10 orang. Ada 3 pertanyaan yang menjadi bahan diskusi kelompok:
1. Apa saja 3 karakter terpenting dari Santo Vinsensius bagi kita dan mengapa?
2. Dapatkah visi Santo Vinsensius mengubah kehidupan kita?
3. Bagaimanakah cara mengenalkan Santo Vinsensius dan visinya kepada teman sebaya kita?
Setelah diskusi session 1 selesai , acara diselingi dengan ice breaking. Presentasi yang kedua disampaikan oleh Sr. Chaterine Salani, PK tentang Santa Louise De Marillac dan peransertanya dalam melayani kaum miskin. Presentasi ini cukup menyegarkan karena dikemas dengan ringan tapi cukup mengena. Ada pertanyaan refleksi yang diberikan untuk bahan diskusi: Dukungan atau faktor apa saja yang kita butuhkan untuk hidup dengan hati? Dalam perjalanan rohani kita? Dalam pelayanan kita kepada kaum miskin? Dalam pemahaman tentang Sejarah Santo Vinsensius?
Setelah makan siang seluruh peserta berkumpul di ruang registrasi, sesuai jadwal kami akan mengikuti acara “Justice Pilgrimage” semacam napak tilas. Peserta dibagi dalam beberapa kelompok besar. Delegasi Indonesia tergabung dengan Filipina,Thailand, Myanmar, Fiji, Bangladesh, Sri Lanka dan Ethiopia. Setelah mendapat pengarahan dari panitia, kami diberangkatkan dengan jeda 5 menit tiap kelompok.Selama napak tilas kami berhenti di 5 pos dan mendapat materi yang berbeda-beda. Rute perjalanan ini kurang lebih 5 km mengeliling kota Bathurst yang cukup indah. Cuaca di Bathurst saat itu sangat dingin sempat minus 2 derajat. Meskipun cuaca dingin dan rasa lelah menyerang, kami sangat menikmati acara tersebut. Setelah makan malam kami semua menuju ke gedung olahraga yang berada di komplek St.Stanislaus’ College, ternyata di sana telah siap sebuah grup musik tradisional yang siap menghibur kita.
Acara ini dinamakan bush dance, karena kami disini diajak berdansa ala Kate Winslet dan Leonardo Dicaprio di film “Titanic” itu lho, seluruh peserta berdansa bersama-sama dengan musik yang energik. Heboh dan bener-bener hilang rasa dinginnya, malah semua peserta melepas peralatan perangnya seperti jaket, syal dan sarung tangan karena kepanasan.
Hari ketiga setelah sarapan dan doa pagi, kami mengikuti Sesi 3 tentang Frederic Ozanam, Sr. Rosalie Rendu dan latar belakang terbentuknya SSV yang dibawakan oleh DR Andy Marks dari SVDP. Setelah break acara dilanjutkan dengan sesi ke 4 tentang Santa Catherine Labour yang dibawakan oleh Anna Maria P. Escano dari JMV Filipina. Setelah makan siang kami berkumpul di Marble Hall tempat dimana kita melakukan registrasi. Kami akan mengikuti acara social outing, untuk acara ini peserta dibagi dalam 3 kelompok besar. Saya berada di kelompok B, sedang Josi dan Devina berada dikelompok C. Kelompok B saat itu dijadwalkan mengunjungi museum tambang emas.
Kami berangkat dengan menumpang 2 bus besar, cuaca saat itu sangat cerah apalagi pemandangan disepanjang perjalanan sangat indah, di dalam bus kami berkesempatan untuk mengenal lebih dekat teman-teman dari negara lain. Sampai dilokasi kami dipandu oleh seorang guide. Kami diajak berkeliling lokasi bekas tambang emas tersebut, mencoba beberapa peralatan yang digunakan untuk menambang, mencoba mendulang emas dan melihat jenis-jenis bebatuan yang ditemukan di tempat tersebut. Sungguh pengalaman yang luar biasa dan tidak akan terlupakan. Sekitar 2 jam kami berada disana dan kita harus kembali ke tempat penginapan untuk mengikuti misa.
Setelah makan malam, seluruh peserta berkumpul di PAC tempat dimana kita selama ini mengikuti presentasi. Malam itu kami diberi kesempatan untuk melakukan pengakuan dosa. Sebelum pengakuan dosa, panitia memutar slide dan diiringi lagu yang membantu kita untuk merenung dan bermeditasi. Tiap peserta yang telah melakukan pengakuan dosa menyalakan lilin yang menjadi simbol terang bagi diri kita.
Hari keempat setelah sarapan, kami mengikuti misa pagi, kemudian dilanjutkan dengan diskusi dengan kelompok kecil tentang menjadi Vinsensian sejati, disini kami sharing pengalaman tentang karya Vinsensian di negara masing-masing. Setelah break kami berkumpul dalam delegasi negara masing-masing untuk berdiskusi tentang panggilan untuk beraksi dan hasilnya disampaikan kepada forum. Sebelum makan siang, panitia mengadakan ice breaking, saat itu Indonesia yang kebagian tugas untuk memimpin. Saya dan Windhidari JMV Indonesia memimpin acara tersebut. Kami mengajak para peserta untuk bernyanyi “Train of Love” sambil melakukan gerakan. Ternyata para peserta sangat antusias dan bergembira dengan persembahan kami, bahkan beberapa peserta meminta dibuatkan catatan syair lagunya. Hidup Indonesia !!!
Setelah makan siang kami mengikuti acara social outing, hari itu kelompokku mengunjung peternakan dan rumah pemotongan hewan. Disini kami melihat jenis-jenis hewan ternak yang ada di Australia, melihat cara memotong bulu biri-biri, cara memerah susu dan berkeliling peternakan yang cukup luas dengan naik traktor.Di sini juga ada kangguru yang diternakan lho. Setelah puas kami kembali ke penginapan untuk mengikuti doa novena / rosario. Setelah makan malam kami melakukan persiapan untuk acara malam. Panitia mengadakan malam International Festival, masing–masing delegasi diberi kesempatan untuk tampil. Delegasi Indonesia menampilkan Tari Merak yang dibawakan oleh Sr. Kristi PK, Sr. Stefani PK, dan Windhi dari JMV, sedang aku, Josi, Devina dan Juanli dari JMV, memakai pakaian tradisional sedangkan Romo Tetra CM jadi fotografer kami. Antusiasme peserta yang lain sangat bagus lho. Setelah tampil kita bagi-bagi souvenir ke audience. Acara tersebut berlangsung sangat meriah. Kami berfoto bersama dengan negara-negara lain dan bertukar souvenir.
Hari kelima, setelah sarapan, kami mengikuti misa penutup yang dipimpin oleh Romo Gregory Gay, CM. Misa diawali dengan perarakan bendera negara-negara peserta, dari Indonesia diwakili oleh Juanli dari JMV. Misa tersebut berlangsung sangat meriah apalagi tiap-tiap negara ambil bagian dalam misa tersebut. Delegasi Indonesia mendapat tugas untuk doa umat multibahasa, dari Indonesia diwakili oleh Devina dan kita juga menyanyikan lagu Kudus dalam bahasa Indonesia.
Misa yang panjang itu terasa singkat karena kami bergembira dan bersemangat dalam mengikutinya. Setelah misa, kami makan siang dan dilanjutkan dengan acara social outing, kelompokku saat itu mendapat tugas untuk menjadi sukarelawan lingkungan untuk melakukan penanaman pohon disekitar kota Bathurst. Kami diajari cara menanam pohon dan melakukan penanaman di lokasi yang telah ditentukan. Malam hari setelah makan malam, di lapangan St.Stanislaus’ College diadakan Bathurst Diocesan Festival yaitu konser musik dan pameran.
Tapi malam itu rata-rata peserta Famvin tidak mengikuti acara itu sampai selesai karena harus berkemas-kemas untuk berangkat ke Sydney keesokan harinya untuk mengikuti acara World Youth Day 2008.
Dengan ikut acara FamVin 2008, aku makin merasa kecil, ternyata yang aku lakukan di SSV selama ini belum ada apa-apanya dibanding dengan yang dilakukan oleh teman-teman dari negara lain. Suatu sharing pengalaman yang cukup berguna buat aku. Lama atau tidaknya kita ikut SSV bukan suatu jaminan kita total dalam pelayanan, tetapi kesungguhan kita dalam melayani kaum miskinlah yang diharapkan. Dengan mengikuti acara ini aku makin tertantang dan makin bersemangat dalam melayani kaum miskin.
Dalam konteks kaum muda memang kita harus memberi perhatian lebih dalam pembinaan kaum muda. Ada satu pengalaman yang membuat saya berpikir, ada beberapa orang yang bisa saya katakan sudah tua, ikut dalam acara FamVin, setelah ngobrol beberapa saat, aku baru tahu kalau salah satu dari mereka adalah Ketua Denas SSV dari sebuah negara di ASEAN. Beliau cerita kalau mereka kesulitan dalam merekrut kaum muda jadi terpaksa yang berangkat ketua Denasnya. Kasihan deh tu bapak. Begitu susahkah mengajak kaum muda untuk terlibat dalam SSV ataukah ada sesuatu yang salah dengan regenerasi dalam organisasi kita. Bagaimana Bagaimana dengan SSV Indonesia? Kalau dari segi pembinaan dan perekrutan kaum muda, Indonesia tidak kalah dengan negara lain bahkan hasil sharing pengalaman dengan negara lain, mereka memuji kita karena kaum muda Indonesia banyak terlibat dalam kegiatan SSV. Tapi apakah itu sudah merata di semua konferensi?
Kita memang tidak bisa mengharapkan buah matang secara instant, tetapi harus dipupuk, disirami dan dirawat secara berkesinambungan dan terus-menerus seperti kita dalammengenalkan SSV dan semangat Vinsensius kepada kaum muda. Hasilnya mungkin tidak seperti yang kita inginkan tetapi kita harus tetap berusaha dan bersemangat dalam pembinaan kaum muda. Semangat!!!

By : Ferdinan Wahyu Ariya (DD Magetan)

Read More..

15 Mei 2009

Menyapa - Memberi Perhatian


Berbicara tentang orang miskin, benar kalau dikatakan orang yang paling miskin adalah mereka yang miskin kasih sayang, miskin perhatian. Aku punya satu cerita.


Ada seorang lelaki yang konon puluhan tahun silam begitu aktif di salah satu karya pelayanan gereja. Tetapi saat ini, ibarat benda yang sangat berat, dia tenggelam begitu saja. Tapi untung masih aktif misa entah mingguan atau pun harian. Uniknya lelaki ini setiap pulang misa selalu cepat-cepat. Pokok begitu romo usai kasih berkat, dia langsung ngacir, jalan cepat kayak kereta ekspress, dengan wajah tertunduk.


Suatu hari aku berkesempatan ke rumahnya, walau tidak terlalu kenal sih. Memasuki rumahnya aku berkata dalam hati, ini potret orang miskin. Di ruangan berukuran sekitar 2x3 m dia melakukan semua aktivitasnya, termasuk makan, masak dan tidur.Aku berbicara lebih lanjut dengan dia,termasuk kenapa selalu terburu-buru pulang setelah misa. Jawabannya satu Minder.

Minder, jawaban itu menunjukkan satu hal, bahwa sering kita cuek bahkan tersenyum pun tidak terhadap mereka yang merasa tersisih. Mendengar jawabannya, aku berjanji untuk selalu menyapanya setiap kali pulang misa. Tapi masalahnya, setiap kali aku selesai doa penutup, lelaki itu sudah menghilang.

Teman-teman ....... kita bisa mengulurkan tangan dalam hal apa pun bagi sesama untuk membuat mereka 'kaya'. Bahkan dengan hal yang paling sederhana pun, yang setiap dari kita bisa melakukannya, memberi senyum, menyapa, memberi perhatian. Mari kita mulai dari hal-hal kecil ini. (It is the true story)

by Kurnia Dewi - Jember

Read More..

13 Mei 2009

Saya sedang Mencari Pekerjaan


Pukul 12 siang itu matahari sedang terik-teriknya. Udara panas di Jakarta terasa menyesakkan dada. Untung aku segera mendapat taxi Blue Bird yang melintas di depan kantor Mc Donald. Udara AC yang berhembus didalam taxi membuat perasaanku menjadi nyaman. Ah, seandainya taxi ini tidak memakai AC entah apa jadinya. Dirumah aku sudah terbiasa pakai AC. Baru berjalan 5 menit, tiba-tiba mataku tertuju pada seorang laki-laki kurus tinggi berbaju putih yang berdiri dipinggir trotoar. Pandangan matanya tampak sayu. Gurat-gurat dibawah kelopak matanya tampak jelas. Sambil memegang dadanya, laki-laki itu berdiri di pinggir jalan Terogong dengan membawa tulisan yang tertera pada kertas manila. Kertas itu digantungkan dilehernya dengan seutas tali rafia. Aku menaksir usia pria itu berkisar 40 – 45 tahun. Yang membuat hatiku tercekat adalah tulisan besar yang ia buat “saya sedang mencari pekerjaan”. Lalu lintas yang padat membuatku bisa agak lama memandangi pria itu.

Pria itu membentangkan tulisan itu didadanya. Tanpa bersuara, tampaknya ia berusaha agar setiap orang yang melintasi jalan itu bisa melihat apa yang dia bawa. Pikiranku mencoba untuk melihat apa yang dipikirkannya. Mungkin saja pria itu sudah berusaha mencari lowongan kerja dimana-mana. Mungkin saja dia sudah keluar masuk kantor. Kalau dia sudah berkeluarga, mungkin saja saat ini istrinya sedang menunggu dengan resah. Mungkin saja anaknya butuh uang untuk sekolah, mungkin saja….. Ah, segala kemungkinan bisa saja terjadi. Yang pasti pria itu menunggu seseorang yang bisa memberinya pekerjaan. Betapa angkuhnya Ibukota, batinku. Kota yang dikejar oleh banyak orang ternyata tidak bersahabat dengan pria itu. Apa yang dilakukan pria itu benar-benar butuh keberanian. Pasti dia sangat butuh pekerjaan, tampaknya dia tidak lagi malu untuk menyampaikannya keorang lain, dengan cara apapun.
“Pak, sudah sampai”, aku kaget saat supir mengingatkanku. Ternyata taxi itu sudah berhenti didepan hotel Sahid, tempat aku menginap di Jakarta.
Tiba-tiba, aku menjadi sadar betapa aku sering mengeluh. Betapa aku sering tidak bersyukur atas apa yang kudapatkan dari kebaikan Allah. Dibandingkan dengan pria itu, meskipun aku tidak tahu pasti bagaimana keadaan sesungguhnya, toh aku pikir masih lebih baik. Aku masih bisa bekerja, menghidupi anak-istriku. Penghasilanku juga masih diatas rata-rata masyarakat yang lain. Aku masih bisa menikmati rekereasi disela-sela hari liburku. Namun, aku seringkali merasa kurang. Aku masih sering berpikir bahwa aku belum punya ini, belum punya itu. Kadangkala aku sering membandingkan dengan teman-teman yang lebih berhasil dari sisi ekonomi. Berapa kali aku tergoda untuk mencari pekerjaan lain dengan tawaran yang lebih menarik.
Aku juga teringat akan keadaan yang dihadapi para anggota asuhan SSV yang aku kenal. Mereka sangat sering berhadapan dengan kesulitan hidup terutama dari segi ekonomi, tapi banyak diantara mereka yang tetap tampak bahagia.
Aku menangis. Pria itu mengingatkanku untuk selalu bersyukur. Ampuni aku, Tuhan.

Read More..