22 November 2012
Pertemuan Umum Lampung 26-28 Oktober 2012
03 Oktober 2012
Perayaan Tahun Emas SSV Indonesia
Misa dipersembahkan oleh Romo Antonius Sad Budianto CM, Penasehat Rohani Dewan Nasional (Denas) SSV, Romo Adi Sapto Widodo CM, Penasehat Rohani Dewan Wilayah Malang, dan Romo Thomas Suparno CM, Koordinator Keluarga Vinsensian (KeVin) Kediri dan kepala Paroki St. Yosef.
Dewan Nasional SSV memilih kota Kediri sebagai tempat pembukaan Rangkaian Tahun Emas didasarkan fakta sejarah pembentukan konferensi SSV pertama kali di Indonesia berawal di Paroki St. Vinsensius Kediri pada 19 Juli 1963 atas prakarsa Romo Gerard Boonekamp CM.
Dari kota Kediri inilah Romo Gerard berusaha agar SSV dapat berkembang di seluruh Indonesia. Melalui korespondensinya dengan para pastor di seluruh Indonesia maka SSV hadir di berbagai daerah diantaranya Onekore, Ende (1964), Kisol, Ruteng (1964), Jember (1964), Bandung (1964), Surabaya (1964), Cicurug, Bima, Makale, Garut, Batu, Malang, Minanga, Atambua, Probolinggo, Situbondo, Balige, Medan, Kotabumi, Tampo dan Cilacap.
Di Gereja St. Yosef Kediri yang dulunya Seminari Tinggi Katolik, menjadi tempat bersejarah terbentuknya organisasi Dewan Wilayah pertama yang menjadi dasar terbentuknya Dewan Nasional SSV Indonesia.
Sebelum perayaan Ekaristi dimulai umat diajak menyaksikan video dokumenter tentang karya-karya SSV dari masa ke masa. Di akhir perayaan Ekaristi diadakan launching logo Tahun Emas SSV Indonesia dengan moto “Setiaku Melayani-Mu” sebagai tanda dimulainya Rangkaian Kegiatan Perayaan Tahun Emas SSV Indonesia.
Direncanakan selama Perayaan Tahun Emas, SSV akan mengadakan kegiatan kerohanian dan sosial di berbagai daerah di Indonesia, termasuk puncak acara Pertemuan Nasional SSV di Sawiran yang dihadiri oleh semua anggota SSV di Indonesia, yang diadakan pada Juni 2013.
Usai Misa diadakan ramah tamah dan pementasan tablo oleh Vinsensian Kediri dengan bimbingan Ibu Agnes tentang kesetiaan pelayanan dan dilanjutkan dengan pemberian penghargaan kepada J. Soeparlan dan Ibu C.P Soebari atas kesetiaan mereka selama 49 tahun menghayati panggilan menjadi Vinsensian sejati sehingga dapat menjadi teladan bagi generasi muda.
SSV, sebuah organisasi internasional kaum awam Katolik yang diakui oleh kepausan, yang didirikan oleh Beato Frederic Ozanam dan kawan-kawannya di Paris tahun 1833. Organisasi ini diilhami oleh karya dan pemikiran Santo Vinsensius a Paulo sebagai pelindungnya.
Hingga saat ini SSV Indonesia memiliki 8 Dewan Wilayah, 36 Dewan Daerah dan 358 Konferensi yang tersebar di seluruh Indonesia dengan melibatkan lebih dari 4.000 Vinsensian.
Artikel ini dikirim oleh Lana Sari dari Depart Komdok Denas SSV Indonesia
01 Februari 2012
Menarik Kaum Muda
Problem yang dialami oleh SSV juga sering dihadapi oleh kelompok-kelompok kategorial yang lainnya. Apa penyebab dari kurangnya minat kaum muda untuk terjun di aktivitas sosial ? Perilaku Hedonisme yang berkembang di kalangan muda ditunjuk sebagai salah satu “kambing hitam”. Di kota-kota besar tumbuhnya mal-mall, pusat perbelanjaan serta hypermarket ikut mempengaruhi perilaku anak muda. Tayangan televisi dengan berbagai macam acara hiburannya banyak yang menampiljan pesan-pesan kemewahan, menggelontor setiap hari dalam waktu 24 jam. Selain itu perkembangan dalam dunia teknologi yang sangat pesat juga membuat berkurangnya hubungan sosial atau antar pribadi di masyarakat. Internet merupakan sesuatu yang bukan lagi aneh bagi anak muda dimana mereka bisa mencari informasi apapun disana selama 24 jam sehari.
23 Agustus 2011
SSV Bertumbuh Dewasa
Michael Thio, 66, baru saja memulai jabatannya sebagai ketua umum ke-15 dari International Confederation of the Society of St. Vincent de Paul (SSVP) atau yang lebih dikenal dengan SSV (Serikat Sosial Vinsensius). Terpilih dengan suara 87 persen pada 28 Mei, 2010 dalam Sidang Umum di Salamanca, Spanyol, pria asal Singapura ini merupakan orang Asia pertama dan orang non-Eropa pertama yang memimpin serikat kerasulan awam sedunia itu sejak didirikan 1833 di Perancis.
Thio secara resmi memulai tugasnya pada 27 September, pesta
ucanews.com: Apa artinya menjadi orang
Setelah 177 tahun sejak didirikan, gerakan global di 146 negara itu untuk pertama kalinya memilih seorang ketua umum non-Eropa. Ini tak terduga dan merupakan sebuah momen sejarah bagi Serikat tersebut. Menurut saya, dalam perjalannya yang cukup lama, Serikat ini telah bertumbuh dan menjadi dewasa. Sementara negara-negara Eropa kini memiliki 30 persen keanggotaan, keanggotaan global dari Afrika dan Asia /
Lingkungan demografis, politik, ekonomi, budaya, dan profesional di luar Eropa telah menghasilkan orang yang mampu untuk mengelola organisasi global. Kenyataan bahwa orang non-Eropa terpilih, ini menunjukkan bahwa demokrasi dan keterbukaan ada dalam Serikat ini, yang berani menghadapi tantangan dalam mengatasi kebutuhan orang miskin dan tertindas yang semakin meningkat di seluruh dunia. Serikat ini merupakan sebuah Serikat Katolik global yang benar-benar Kristiani.
Dewasa ini, kita ada di 147 negara yang tersebar di setiap benua. Kita beroperasi di bawah delapan wilayah, masing-masing dipimpin oleh Wakil Ketua Internasional Tingkat Teritorial (ITVP, International Territorial Vice President) yang memberi melapor untuk Dewan Umum Internasional,yang berpusat di Paris. Serikat ini kini menjadi salah satu kerasulan amal yang sangat bersemangat, bertumbuh, terkenal, dan disegani di dunia.
Sebagai ketua umum, apa rencana Anda untuk SSV?
Ketika terpilih Mei lalu, saya men-sharing-kan tujuan-tujuan saya sebagaimana tercatat dalam manifesta saya kepada Sidang Internasional di Salamanca. Tujuan saya, antara lain, meningkatkan pembinaan spiritual anggota, membina dan mengembangkan pemimpin untuk melayani orang miskin di abad ke-21, dengan terus meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan bagi orang miskin.
Saya juga ingin memusatkan perhatian pada orang muda dengan membuka kesempatan bagi mereka untuk ikut terlibat dalam pelayanan, mengembangkan komunikasi efektif guna meningkatkan pemahaman dan pengetahuan yang lebih baik tentang kegiatan dan karya Serikat, bekerjasama dengan berbagai organisasi Kristen lainnya dalam karya amal dan keadilan, dan memelihara hubungan yang dekat dan kuat dengan hirarki Gereja. Inilah tujuan manifesto untuk mendorong perkembangan Serikat untuk menerobos ke negara-negara baru guna memberi pelayanan kepada lebih banyak orang yang membutuhkan dengan suatu pandangan yaitu perubahan sistematis dari orang miskin yang kami layani dan bantu. Ini berarti membantu orang miskin untuk menjadi mandiri dan meningkatkan martabat kemanusiaan mereka.
Apa rencana Anda untuk pembinaan spiritual dan pelatihan para anggota
Pembinaan spiritual para anggota itu perlu dan fundamental untuk bertumbuh dalam kerasulan dan spiritualitas Vincentian. SSV merupakan organisasi kerasulan awam Katolik dan Kristus menjadi pusat dari semua yang kita lakukan. Karya amal Kristen merupakan cinta kita kepada Kristus dalam bentuk pelayanan kasih kepada orang lain. Inilah salah satu nilai penting dari Spiritualitas Vincentian kami.
Banyak Dewan Nasional memiliki program pembinaan dan pelatihannya sendiri. Tanggung jawab ada pada mereka untuk memiliki tim pembina yang bertanggungjawab atas program pembinaan dan pengembangan bagi anggotanya. Jika mereka membutuhkan bimbingan dan bantuan, mereka bisa memintanya pada Dewan Umum atau dari para Vincentian di negara-negara yang lebih maju dan dewasa dalam bidang ini. Pembinaan dan pengembangan, baik spiritualitas maupun kepemimpinan, merupakan proses berkelanjutan.
Komunitas macam apa yang perlu mendapat perhatian khusus SSV?
Banyak konferensi SSV tidak memiliki orang muda sebagai anggota
Ini menjadi fenomena terutama di negara-negara maju.
Dampak yang sangat positif dari Hari Kaum Muda se-Dunia (WYD, World Youth Day) yang dihidupkan kembali oleh Paus Yohanes Paulus II, cukup peka dalam membawa banyak orang muda dari seluruh dunia kembali ke Gereja dan terlibat dalam berbagai kerasulan. Banyak orang muda mulai bergabung konferensi SSV dan beberapa dari mereka mampu melakukan pekerjaan luar biasa. Kita perlu fokus pada orang muda dan mempercayakan program yang cocok bagi mereka dan memberi mereka kesempatan untuk terlibat dalam pertumbuhan dan kepemimpinan. Biasanya, sekitar tiga hari sebelum program WYD yang sebenarnya, SSV memberi program-program khusus untuk Kaum Muda Vincentian yang datang dari berbagai belahan dunia.
Oleh C.Y. Lai, ucanews.com, Melaka, Malaysia
. Read More..
05 Agustus 2011
SSV - Sebuah Bentuk Devosi
Menemukan Kembali Spiritualitas Devosi
Rapat Pleno Komisi Liturgi Konferensi Waligereja
Read More..
04 Juli 2011
Michael Thio - Ketua Dewan Umum SSV Yang Baru
Michael Thio terpilih sebagai Ketua Dewan Umum XV SSV dengan perolehan suara 87 % pada tanggal 28 Mei 2010 di Salamanca, Spanyol. Secara resmi memulai tugasnya pada tanggal 27 September 2010 (Pesta St. Vinsensius de Paul). Beliau berasal dari Singapura dan merupakan orang Sejak 177 tahun SSV didirikan, untuk pertama kalinya memilih seorang ketua umum non-Eropa. Ini merupakan sesuatu yang tak terduga dan sejarah baru bagi Serikat. Menurut Michael Thio, Ketua Dewan Umum yang baru, SSV telah bertumbuh dan menjadi dewasa.
Rencana Ketua Dewan Umum ke depan adalah meningkatkan pembinaan spiritualitas anggota, membina dan mengembangkan kepemimpinan untuk melayani kaum miskin di abad 21. dengan terus meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan bagi orang miskin. Memusatkan perhatian pada kaum muda dengan melibatkan mereka dalam pelayanan, mengembangkan komunikasi efektif guna meningkatkan pemahaman dan pengetahuan yang lebih baik berkaitan dengan kegiatan dan karya Serikat. Bekerjasama dengan berbagai organisasi sosial kristiani sehubungan dengan karya dan keadilan dan menjalin hubungan yang dekat dan erat dengan hirarki Gereja.Mendorong perkembangan Serikat untuk menerobos ke negara-negara baru guna memberi pelayanan kepada lebih banyak orang yang membutuhkan dengan suatu pandangan baru yaitu perubahan sistematis (systemic change) dari orang miskin. Ini berarti membantu orang miskin untuk menjadi mandiri dan meningkatkan martabat kemanusiaan kaum miskin.
PERUBAHAN KEPENGURUSAN DEWAN UMUM
Awal Januari 2011, Dewan Umum mengumumkan susunan kepengurusan yang baru. Bro John Lee (China/Hong Kong) yang pernah hadir dalam Pertemuan Nasional SSV Indonesia di Sawiran 2010, pada periode yang lalu menjabat sebagai ASIA-OCENIA International Territorial Vice President sekarang menjabat sebagai General Vice President for the Structure. Jabatan Asia-Ocenia International Territorial Vice President digantikan oleh Bro Thomas Tan dari Singapura yang sebelumnya menjabat sebagai Koordinator Asia Grup 1. Thomas Tan pernah berkunjung ke
27 Juni 2010
Beato Frederic Ozanam - Pendiri SSV

Frederic Ozanam masuk kuliah hukum di Sorbonne, paris pada tahun 1831. Pada waktu itu terdapat banyak orang anti Gereja dan beberapa orang yang masih percaya merasa takut dan tidak aman karena serangan orang-orang tersebut. Tetapi Ozanam yang bergabung dengan seorang guru dan beberapa temannya (Prof. Emmanuel Bailly, Paul Lamache, Felix Clave, Auguste Le tailandier, Jules Devaux dan Francois Lallier) merasa tertantang untuk menjawab serangan tersebut. Mula-mula mereka mendirikan suatu kelompok yang dinamakan Konferensi Sejarah, yaitu suatu kelompok yang membicarakan tentang agama dan sejarah.
Tetapi ejekan dari musuh-musuh Gereja dengan pertanyaan:”Mana perbuatanmu yang membuktikan kebenaran imanmu?”, membuat Frederic Ozanam dan teman-temannya menyadari bahwa konferensi sejarah belum berhasil menjawab usaha mereka. Maka pada tahun 1833, mereka membentuk konferensi cinta kasih dengan kegiatan mengunjungi dan membantu orang-orang miskin.
Yang menjadi ketua konferensi pertama adalah mahaguru mereka yaitu Prof. Emmanuel Bailly dan kemudian kelak menjadi ketua dewan-dewan yang pertama. Dua tahun kemudian yaitu 1835 lahir suatu perkumpulan yang telah mempunyai tujuan dan peraturan-peraturan, yang mempunyai nama Serikat Sosial Vinsensius (Society of St. Vincent de Paul). Pada tahun 1841 Frederic Ozanam menikah dengan Amelie Soulacroix, seorang yang mempunyai perhatian yang sama dengannya dan dari pernikahan mereka mempunyai seorang putri bernama Marie. Ozanam lulus sarjana Hukum dan berpraktek di Lyons hingga menjadi mahaguru (professor) pertama di bidang hukum dagang di universitas tersebut. Tetapi ia menyadari bahwa bakat dan minat sesungguhnya terdapat di bidang pendidikan dan kesusastraan asing. Maka ia kembali kuliah kesusastraan di Universitas Sorbonne dan memperoleh gelar pada tahun 1835, gelar doctor pada tahun 1839 dan menjadi mahaguru di bidang kesusasteraan asing pada usia 31 tahun.
Di samping kehidupan Ozanam dalam dunia akademis, ia terus menerus bertugas melayani Gereja dan pengabdiannya yang penuh pada perkembangan Serikat Santo Vinsensius. Ia juga banyak menyumbangkan karyanya dan menjadi editor bulletin sosial dan majalah katolik yang terkenal. Ia bertindak sebagai penghubung antara dewan-dewan di Paris dan Lyon dan menjadi tuan rumah dalam pertemuan–pertemuan untuk kepentingan Gereja. Sayang karena fisiknya yang lemah dan penyakitnya berangsur-angsur melemahkan kekuatan dan tenaganya. Ozanam meninggal dunia di Marseilles pada tanggal 8 September 1853 di usia 40 tahun.
Proses pengajuan beatifikasi Frederic Ozanam telah dimulai tahun 1925. Tepat pada peringatan perayaan 160 tahun berdirinya SSV, yaitu tanggal 27 April 1993 di depan anggota-anggota SSV yang berkumpul di Roma Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II berkata:”Kita harus berterima kasih kepada tuhan atas berkah anugerah yang telah diberikan kepada Gereja, dengan adanya Ozanam. Suatu keajaiban yang luar biasa, dihasilkan dari karya Ozanam terhadap Gereja, masyarakat, dan orang miskin. Mahasiswa ini, Profesor ini, Bapa para keluarga ini, telah menimbulkan suatu keyakinan keluarga ini, telah menimbulkan suatu keyakinan keluarga ini, telah menimbulkan suatu keyakinan keluarga ini, telah menimbulkan suatu keyakinan yang kuat dan kasih sayang yang tiada henti. Namanya tidak lepas dengan nama St. Vinsensius a Paulo.... Bagaimana kita tidak akan berharap bahwa Gereja akan juga menempatkan Ozanam di antara orang-orang suci dan para Santo?”
Pada tanggal 6 Juli 1993, dihadiri oleh Mr. Amin A. De Tarrazi, Ketua Dewan Umum/Internasional SSV, Rev. Fr. Gioseppe Guerra, dari Kongregasi Misi (CM); para Postulator; Monsignor Luigi Porsi, Advocate; dan suster Maria Antonia Di Tano, PK; Bapa Suci mengumumkan suatu keputusan mengenai kebijakan Frederik Ozanam. Keputusan tersebut berarti bahwa Frederic Ozanam, pendiri utama SSV adalah “layak untuk dimuliakan”.Dengan pernyataan Bapa Suci tersebut, nampaknya jalan telah terbuka terhadap usaha-usaha yang berhubungan dengan proses beatifikasi Frederic Ozanam. Proses beatifikasi tersebut telah melalui usaha-usaha bertahun-tahun yang tidak mengenal lelah dengan doa-doa para anggota SSV dan harapan-harapan yang penuh dengan kesabaran, kini tampaknya telah menunjukkan suatu harapan.
Ucapan Frederic Ozanam yang terkenal adalah “saya ingin merangkul dunia dengan suatu jaringan cinta kasih.” Pada tahun 1993, Serikat impian Frederic Ozanam yang tersebar di 125 negara di seluruh dunia.
Melibatkan Kaum Muda dalam Pelayanan
11 Mei 2009
Semangat Kemiskinan antar anggota SSV
Di atas segala-galanya, semangat kemiskinan ini adalah juga semangat membagi-bagi, hasrat untuk tidak menimbun harta tanpa mempergunakannya dengan baik. Kecuali dalam hal-hal tertentu, "kaul kemiskinan " seperti yang diucapkan kaum biarawan, tidaklah cocok dengan tanggung jawab kaum awam. Namun demikian, jika harta dan bakat kita, kita peruntukkan bagi suatu kebajikan, yaitu untuk membantu sesama kita, inipun bisa dinamakan "kemiskinan".
Sekurang-kurangnya, semangat "membagi-bagi" itu kelihatan pada keinginan kita untuk memberi sesuatu dengan rendah hati. Seseorang memberikan waktunya dan selalu ada jika diperlukan. Yang lain membagikan uangnya, yang lain pengetahuannya, ataupun tenaganya. Ada pula yang memberikan hiburan dan kebahagiaan yang memancar dari dirinya. Tanpa pengecualian, setiap orang Kristen, sampai yang paling berkekurangan sekalipun, dapat mengambil bagian dalam semangat ini. Dengan demikian, sedikit demi sedikit ia pun belajar "menyerahkan dirinya sendiri", menurut ilham rahmat yang diterimanya. "Membagi-bagi" itu agak berbeda dengan "hadiah" dan sama sekali lain dari pada "sedekah". Dalam "membagi-bagi" terdapat pertukaran dan keuntungan timbal balik.
Serikat dengan semangat kaum muda
Jiwa kaum muda adalah dinamisme, semangat yang berkobar-kobar dan peneropongan masa depan. Mereka sanggup mengambil resiko, mempunyai daya khayal yang mencipta dan yang terutama ialah mereka memiliki daya penyesuaian diri; inilah yang merupakan ciri khas kaum muda. Hal ini jauh lebih penting dari pada penyesuaian yang agak dipaksakan. Karena jika seseorang tak sanggup lagi menyelaraskan dirinya, kelihatannya ia seperti sel yang membatu saja.
Dalam arti semangat kaum muda inilah, maka SSV dapat dinamakan suatu "gerakan cinta kasih dan kerasulan". Tentu saja karena masih muda dalam usia, tak selalu dapat terjamin mutu yang tinggi dari semangat kaum muda ini, meskipun tentunya serikat ini mempermudah hal itu. Untuk menambah anggota dan di lain pihak juga untuk menjaga kesetiaan pada tradisi-tradisi asli serikat dan Ozanam, perlulah dibina persaudaraan dengan kaum muda, memaklumi mereka, bercakap-cakap dengan mereka dengan penuh kesabaran, memberikan mereka tanggung jawab dan berlaku muda seperti mereka.
Suatu Panggilan : pelayanan langsung kepada kaum miskin
Panggilan ini dapat dinyatakan dalam banyak cara dan berbagai ungkapan. Suatu perbuatan yang nyata, "renungan", penyesuian diri dengan dunia yang berubah-ubah dan bermacam-macam - semua ini adalah hidup setiap anggota serikat, hidup SSV.
Mula-mula, pada masanya Ozanam, tugas itu dinyatakan sebagai "kunjungan ke rumah-rumah orang miskin", tugas yang dianggap sebagai ciri khas kegiatan SSV. Tetapi sekarang penafsiran harus diubah dan disesuaikan dengan zaman. Sekarang tak boleh kita puas dengan "pemberian sedekah" saja. Kita perlu juga mengadakan percakapan pribadi dengan yang menderita (dengan tak memandang corak penderitaannya).
Kita tak boleh menimbulkan kesan seolah-olah pihak kita adalah "bapak", tetapi sebaliknya dengan sikap saling mempercayai, dengan menghormati orang-orang ini dan kediamannya yang keramat, dengan persahabatan dan pelayanan timbal balik dan dengan segala kehangatan cinta.
Segala perbuatan amal yang dapat dijiwai semangat yang demikian itu cocok untuk pekerjaan dan usaha SSV.
Prinsip Umum Keanggotaan
Di beberapa negara situasi memungkinkan kita untuk menerima anggota dari Gereja kristen lain, bahkan orang non kristen yang dengan tulus mau menghargai dan menerima identitas katolik dan prinsip-prinsip Serikat. Namun kita harus melakukannya dengan hati-hati agar tidak membahayakan iman katolik dan penghayatannya dalam Serikat. Ketua, wakilnya, dan Pembimbing Rohani haruslah seorang katolik. Dalam hal ini sebaiknya Serikat berkonsultasi dengan Konferensi Waligereja setempat.
Serikat tidak membedakan gender, kekayaan, pekerjaan, status Santo atau suku dari anggotanya. Betapa menyenangkan dan mempesona melihat orang dari berbagai status Santo, posisi, pandangan, dan usia, dipersatukan ikatan iman yang kudus, belajar saling mengasihi (Pendahuluan Pedoman SSV 1845)
10 Mei 2009
Tujuan dan Panggilan Kita
Dalam iman tujuan diyakini sebagai panggilan dari Tuhan sendiri. Panggilan dari anggota Serikat yang disebut Vinsensian adalah mengikuti Kristus untuk melayani mereka yang membutuhkan dan dengan demikian memberi kesaksian tentang belaskasih dan cintaNya yang membebaskan. Panggilan ini diwujudkan dalam kontak langsung dan pribadi dengan Kristus dalam orang miskin. Kita melayani dalam pengharapan bahwa apa yang kita lakukan bersama Allah akan membawa kebaikan bagi orang miskin yang mereka kunjungi dan layani, dan dengan demikian juga membawa kebaikan bagi dunia sebagai tanda mulai hadirnya Kerajaan Allah sebagaimana diwartakan Tuhan Yesus Kristus. Optimisme inilah yang membuat kita melayani dengan penuh kegembiraan walaupun menghadapi berbagai masalah.
2. Panggilan untuk seluruh hidup kita
Panggilan Vinsensian mengikuti Kristus dihayati dalam seluruh hidup kita sehari-hari, setiap saat dan dalam segala situasi, membuat kita lebih peka dan penuh perhatian dalam keluarga kita, di tempat kerja, maupun dalam pergaulan. Keanggotaan kita dalam konferensi hendaknya tidak menjadi bagian yang terpisah dari seluruh hidup kita. Sebaliknya pengalaman kita dalam konferensi dan kontak kita dengan orang yang miskin dan menderita, doa pribadi maupun bersama kita, harus mewarnai seluruh hidup kita, bukan hanya sesaat, namun setiap saat; sebagai orang-tua, sebagai anak, sebagai karyawan atau majikan, sebagai sahabat. Kita harus memastikan bahwa dalam segalanya itu kita dipimpin oleh kasih kita kepada Kristus dengan bimbingan Roh Kudus.
Sejarah Serikat Sosial Vinsensius
Serikat ini diawali oleh sekelompok kaum muda dan mahasiswa yang prihatin akan keadaan Gereja dan masyarakatnya pada waktu itu. Saat itu masih jaman Revolusi Prancis yang mulai meletus 1789 dan terus berkepanjangan. Rakyat marah pada kaum bangsawan dan Gereja yang dianggap kurang peduli pada penderitaan rakyat, bahkan seringkali berpihak pada orang kaya dan bangsawan. Memang ada beberapa hirarki dan tokoh katolik yang peduli dan tanggap menolong orang miskin, namun jumlah dan gerakan mereka kurang nampak. Banyak tokoh yang membela rakyat menyerang Gereja baik secara fisik, maupun dengan ajaran yang membawa suasana anti gereja.
Ozanam dan sekelompok temannya rajin mengadakan pertemuan dan membuka diskusi untuk membela Gereja. Mereka setuju bahwa Gereja harus berubah, namun dengan ajakan penuh kasih, bukan dengan menyerangnya. Mereka rajin mempelajari sejarah Gereja dan menunjukkan peran Gereja dalam perkembangan sastra dan ilmu yang sangat berguna bagi umat manusia. Usaha mereka ini agak meredakan suasana anti gereja di kampus. Namun kemudian beberapa lawannya kembali mengecam karena mungkin di masa lalu Gereja telah berbuat banyak untuk kemanusiaan, namun apa yang dilakukan Gereja saat itu ketika rakyat demikian menderita?
Salah seorang dari mereka Auguste le Taillandier mengungkapkan kegelisahannya bahwa mereka memang harus bertindak. Ozanam yang sebenarnya telah lama mempunyai keprihatinan yang sama merasa yakin bahwa memang sudah saatnya untuk bertindak. Mereka menghubungi Prof Emmanuel Bailly sahabat dan pendamping kaum muda ini. Kemudian mereka menghadap pastor paroki untuk menyatakan gagasan mereka. Pastor sulit memahami maksud mereka dan menganjurkan mereka untuk mengajar katekese. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengadakan pertemuan di kantor Le Tribune percetakan Prof Bailly pada tanggal 23 April 1833, kebetulan hari itu tepat ulang tahun Frederic Ozanam yang keduapuluh. Disitulah Auguste Le Taillandier, Frederic Ozanam, Paul Lamache, Francois Lallier, Jules Deveaux, Felix Clave memulai Serikat Cintakasih dan Prof Emmanuel Bailly diminta menjadi ketua mereka. Kemudian direncanakan tindakan langsung untuk menolong orang miskin dengan membantu Sr Rosalie Rendu PK yang waktu itu sangat terkenal dengan karyanya untuk orang miskin. Sr Rosalie Rendu PK dianggap oleh SSV sebagai Pembimbing Rohaninya yang pertama.
Semula puas dengan keakraban mereka berenam, mereka tak berminat untuk menerima tambahan anggota. Namun Ozanam menyadarkan mereka untuk menjadi kelompok yang terbuka untuk menerima anggota baru. Demikianlah anggota mereka semakin bertambah.
Tanggal 4 Februari 1834 Jean Leon le Provost (1803-1874) anggota tertua waktu itu selain Bailly mengusulkan agar Santo Vinsensius yang terkenal kasihnya pada orang miskin menjadi pelindung, teladan dan nama serikat. Santo ini juga penggerak kaum awam dalam Gereja. Pada kenyataannya dibawah bimbingan Sr Rosalie Rendu sebenarnya sejak awal serikat telah menghayati spiritualitas santo Vinsensius. Mereka sepakat menyetujui, bahkan selanjutnya dalam pertemuan mereka juga membaca “Kisah Santo Vinsensius pelayan orang miskin” agar mereka semakin dapat meneladan orang kudus tersebut. Betapa rinci santo Vinsensius menulis tentang pelayanan kepada orang miskin. Tak ada inspirasi dan teladan yang lebih tepat dari santo ini bagi serikat kaum muda itu. Santo yang menyebut orang miskin “Tuhan dan Guru”. Jean Leon le Provost juga mendirikan Pusat Kaum Muda dan Kongregasi Bruder St Vinsensius Depaul.
Leonce Curnier orang muda yang pernah menghadiri Pertemuan Serikat pada bulan Juni 1834 demikian terkesan. Ketika beberapa bulan kemudian dia kembali ke Nimes anak saudagar sutera itu menulis kepada Ozanam bahwa dia mendirikan perkumpulan yang sama di kotanya. Ozanam bersukacita mendengar perkembangan pertama Serikat di luar Paris itu.
Sementara itu serikat yang di Paris anggotanya juga terus berkembang. Akhir 1834 Ozanam ingin agar serikat dipecah, tapi Le Perriere menentang dengan keras. Perdebatan berlangsung dengan sengit. Bailly dengan bijaksana menunda pemecahan itu. Februari 1835 ketika anggota sudah hampir 60 orang, mereka sepakat untuk memecah serikat. Selanjutnya Serikat ini terus berkembang di berbagai kota di Prancis, bahkan juga ke luar negri.
Serikat mengenang para pendiri dengan penuh syukur karena teladan yang mereka berikan untuk mengabdi orang miskin dan Gereja. Roh Kudus jelas sekali menaungi mereka semua tatkala mereka berkumpul pada pendirian serikat itu, meneguhkan karisma mereka masing-masing. Di antara mereka Beato Frederic Ozanam menjadi sumber inspirasi yang luarbiasa. Serikat ini sejak berdirinya adalah katolik dan tetap menjadi organisasi awam katolik internasional. Para pendirinya adalah awam katolik sejati yang bersemangat mewujudkan rahmat dari Sakramen Baptisnya sebagaimana diteguhkan oleh Konsili Vatikan II lebih dari seratus tahun kemudian.
Sumber: selain Rule Dewan Umum, juga Madeleine des Rivieres, OZANAM, un savant chez les pauvres, editions Bellarmin, Montreal, 1989 (1983)
Read More..

.jpg)





