"Sepuluh kali sehari, Anda pergi kepada orang miskin, sepuluh kali pula Anda akan menemukan Tuhan "(St. Vinsensius A Paulo)
Tampilkan postingan dengan label Berita Luar Negeri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Luar Negeri. Tampilkan semua postingan

23 Agustus 2011

SSV Bertumbuh Dewasa

Michael Thio, 66, baru saja memulai jabatannya sebagai ketua umum ke-15 dari International Confederation of the Society of St. Vincent de Paul (SSVP) atau yang lebih dikenal dengan SSV (Serikat Sosial Vinsensius). Terpilih dengan suara 87 persen pada 28 Mei, 2010 dalam Sidang Umum di Salamanca, Spanyol, pria asal Singapura ini merupakan orang Asia pertama dan orang non-Eropa pertama yang memimpin serikat kerasulan awam sedunia itu sejak didirikan 1833 di Perancis.


Thio secara resmi memulai tugasnya pada 27 September, pesta St. Vincent de Paul. Thio telah terlibat dalam SSV sejak 1967, pertama di Singapura, lalu di tingkat Asia, dan akhirnya di tingkat global. Dia berbicara dengan ucanews.com di Melaka, Malaysia, ketika menghadiri sebuah acara SSV tingkat nasional di sana.


ucanews.com: Apa artinya menjadi orang Asia pertama yang mengetuai SSV di tingkat internasional?


Setelah 177 tahun sejak didirikan, gerakan global di 146 negara itu untuk pertama kalinya memilih seorang ketua umum non-Eropa. Ini tak terduga dan merupakan sebuah momen sejarah bagi Serikat tersebut. Menurut saya, dalam perjalannya yang cukup lama, Serikat ini telah bertumbuh dan menjadi dewasa. Sementara negara-negara Eropa kini memiliki 30 persen keanggotaan, keanggotaan global dari Afrika dan Asia / Oceania mencapai 50 persen. Dan juga, secara individual, anggota di Eropa berkurang sementara anggota di Afrika dan Asia/Oceania terus meningkat. Ini merupakan suatu peralihan paradigma yang dilihat perlu dalam pertumbuhan dan perkembangan Serikat ini di luar Eropa.


Lingkungan demografis, politik, ekonomi, budaya, dan profesional di luar Eropa telah menghasilkan orang yang mampu untuk mengelola organisasi global. Kenyataan bahwa orang non-Eropa terpilih, ini menunjukkan bahwa demokrasi dan keterbukaan ada dalam Serikat ini, yang berani menghadapi tantangan dalam mengatasi kebutuhan orang miskin dan tertindas yang semakin meningkat di seluruh dunia. Serikat ini merupakan sebuah Serikat Katolik global yang benar-benar Kristiani.


Dewasa ini, kita ada di 147 negara yang tersebar di setiap benua. Kita beroperasi di bawah delapan wilayah, masing-masing dipimpin oleh Wakil Ketua Internasional Tingkat Teritorial (ITVP, International Territorial Vice President) yang memberi melapor untuk Dewan Umum Internasional,yang berpusat di Paris. Serikat ini kini menjadi salah satu kerasulan amal yang sangat bersemangat, bertumbuh, terkenal, dan disegani di dunia.


Sebagai ketua umum, apa rencana Anda untuk SSV?


Ketika terpilih Mei lalu, saya men-sharing-kan tujuan-tujuan saya sebagaimana tercatat dalam manifesta saya kepada Sidang Internasional di Salamanca. Tujuan saya, antara lain, meningkatkan pembinaan spiritual anggota, membina dan mengembangkan pemimpin untuk melayani orang miskin di abad ke-21, dengan terus meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan bagi orang miskin.


Saya juga ingin memusatkan perhatian pada orang muda dengan membuka kesempatan bagi mereka untuk ikut terlibat dalam pelayanan, mengembangkan komunikasi efektif guna meningkatkan pemahaman dan pengetahuan yang lebih baik tentang kegiatan dan karya Serikat, bekerjasama dengan berbagai organisasi Kristen lainnya dalam karya amal dan keadilan, dan memelihara hubungan yang dekat dan kuat dengan hirarki Gereja. Inilah tujuan manifesto untuk mendorong perkembangan Serikat untuk menerobos ke negara-negara baru guna memberi pelayanan kepada lebih banyak orang yang membutuhkan dengan suatu pandangan yaitu perubahan sistematis dari orang miskin yang kami layani dan bantu. Ini berarti membantu orang miskin untuk menjadi mandiri dan meningkatkan martabat kemanusiaan mereka.


Apa rencana Anda untuk pembinaan spiritual dan pelatihan para anggota


Pembinaan spiritual para anggota itu perlu dan fundamental untuk bertumbuh dalam kerasulan dan spiritualitas Vincentian. SSV merupakan organisasi kerasulan awam Katolik dan Kristus menjadi pusat dari semua yang kita lakukan. Karya amal Kristen merupakan cinta kita kepada Kristus dalam bentuk pelayanan kasih kepada orang lain. Inilah salah satu nilai penting dari Spiritualitas Vincentian kami.


Banyak Dewan Nasional memiliki program pembinaan dan pelatihannya sendiri. Tanggung jawab ada pada mereka untuk memiliki tim pembina yang bertanggungjawab atas program pembinaan dan pengembangan bagi anggotanya. Jika mereka membutuhkan bimbingan dan bantuan, mereka bisa memintanya pada Dewan Umum atau dari para Vincentian di negara-negara yang lebih maju dan dewasa dalam bidang ini. Pembinaan dan pengembangan, baik spiritualitas maupun kepemimpinan, merupakan proses berkelanjutan.


Komunitas macam apa yang perlu mendapat perhatian khusus SSV?


Ada banyak jenis “orang miskin baru” di berbagai negara dan itu tergantung pada kebutuhan. Mereka adalah orang-orang tidak bekerja dan dapat dipekerjakan, orang yang menderita kecanduan seperti alkoholisme, anak nakal, keluarga yang disfungsional, pengungsi dan orang-orang yang terpaksa kehilangan tempat tinggal lantaran bencana alam atau politik. Jenis pelayanan yang kami berikan juga tergantung pada kemampuan, keahlian, dan pengalaman dari para anggota kami di lokalitas tertentu.


Banyak konferensi SSV tidak memiliki orang muda sebagai anggota


Ini menjadi fenomena terutama di negara-negara maju. Gaya hidup, prioritas, dan tujuan kaum muda berbeda dari apa yang pernah dimilki orangtua dan leluhur mereka. Tidak hanya di sejumlah konferensi kami tetapi juga di Gereja-Gereja, kehadiran orang muda telah menurun jauh. Namun, di beberapa negara dunia ketiga dan sedang berkembang, orang muda masih sangat aktif dalam konferensi kami. Sebagai contoh, Serikat kami memiliki anggota muda yang sangat aktif di banyak negara di Amerika Selatan dan di beberapa negara Afrika dan Asia serta daerah Oceania. Kita tidak bisa membuat generalisasi bahwa orang muda yang tidak aktif itu ada di mana-mana di semua negara.


Dampak yang sangat positif dari Hari Kaum Muda se-Dunia (WYD, World Youth Day) yang dihidupkan kembali oleh Paus Yohanes Paulus II, cukup peka dalam membawa banyak orang muda dari seluruh dunia kembali ke Gereja dan terlibat dalam berbagai kerasulan. Banyak orang muda mulai bergabung konferensi SSV dan beberapa dari mereka mampu melakukan pekerjaan luar biasa. Kita perlu fokus pada orang muda dan mempercayakan program yang cocok bagi mereka dan memberi mereka kesempatan untuk terlibat dalam pertumbuhan dan kepemimpinan. Biasanya, sekitar tiga hari sebelum program WYD yang sebenarnya, SSV memberi program-program khusus untuk Kaum Muda Vincentian yang datang dari berbagai belahan dunia.


Oleh C.Y. Lai, ucanews.com, Melaka, Malaysia


.

Read More..

04 Juli 2011

Michael Thio - Ketua Dewan Umum SSV Yang Baru

Michael Thio terpilih sebagai Ketua Dewan Umum XV SSV dengan perolehan suara 87 % pada tanggal 28 Mei 2010 di Salamanca, Spanyol. Secara resmi memulai tugasnya pada tanggal 27 September 2010 (Pesta St. Vinsensius de Paul). Beliau berasal dari Singapura dan merupakan orang Asia pertama dan orang non Eropa pertama yang menjadi Ketua Dewan Umum SSV.

Sejak 177 tahun SSV didirikan, untuk pertama kalinya memilih seorang ketua umum non-Eropa. Ini merupakan sesuatu yang tak terduga dan sejarah baru bagi Serikat. Menurut Michael Thio, Ketua Dewan Umum yang baru, SSV telah bertumbuh dan menjadi dewasa. Ada demokrasi dan keterbukaan dalam Serikat.



Rencana Ketua Dewan Umum ke depan adalah meningkatkan pembinaan spiritualitas anggota, membina dan mengembangkan kepemimpinan untuk melayani kaum miskin di abad 21. dengan terus meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan bagi orang miskin. Memusatkan perhatian pada kaum muda dengan melibatkan mereka dalam pelayanan, mengembangkan komunikasi efektif guna meningkatkan pemahaman dan pengetahuan yang lebih baik berkaitan dengan kegiatan dan karya Serikat. Bekerjasama dengan berbagai organisasi sosial kristiani sehubungan dengan karya dan keadilan dan menjalin hubungan yang dekat dan erat dengan hirarki Gereja.Mendorong perkembangan Serikat untuk menerobos ke negara-negara baru guna memberi pelayanan kepada lebih banyak orang yang membutuhkan dengan suatu pandangan baru yaitu perubahan sistematis (systemic change) dari orang miskin. Ini berarti membantu orang miskin untuk menjadi mandiri dan meningkatkan martabat kemanusiaan kaum miskin.



PERUBAHAN KEPENGURUSAN DEWAN UMUM


Awal Januari 2011, Dewan Umum mengumumkan susunan kepengurusan yang baru. Bro John Lee (China/Hong Kong) yang pernah hadir dalam Pertemuan Nasional SSV Indonesia di Sawiran 2010, pada periode yang lalu menjabat sebagai ASIA-OCENIA International Territorial Vice President sekarang menjabat sebagai General Vice President for the Structure. Jabatan Asia-Ocenia International Territorial Vice President digantikan oleh Bro Thomas Tan dari Singapura yang sebelumnya menjabat sebagai Koordinator Asia Grup 1. Thomas Tan pernah berkunjung ke Indonesia (Pertemuan Asia Grup di Bali dan Pertemuan Nasional tahun 2006). Saat ini Koordinator Asia Group 1 yang meliputi negara Indonesia, Brunai, Malaysia, Philipina dan Singapura dijabat oleh Salvador G. Silverio (Philiphina). Susunan kepengurusan yang lengkap dapat dilihat di Website Dewan Umum (www.ssvpglobal.org).


Read More..

PANASCO VII di Goa - India

PANASCO VII diselenggarakan di Goa, India pada tanggal 13-17 Agustus 2010. SSV Indonesia diwakili oleh Rm Antonius Sad Budianto CM (Penasehat Rohani Denas), Basukisworo (Ketua Denas), Diana Sumandianti (Sekretaris) dan Lanasari (Dept KomDok).


PANASCO (Pan Asian Congress) adalah pertemuan para Vinsensian tingkat Asia dan Ocenia (26 negara) yang diselenggarakan 4 tahun sekali. PANASCO merupakan inisiatif/prakarsa dari SSV Australia agar anggota SSV yang berasal dari berbagai Negara itu dapat bersama-sama bertemu untuk saling sharing pengalaman mengenai karya pelayanan di negara masing-masing, berdiskusi dan menemukan metode/langkah-langkah yang tepat untuk meningkatkan pelayanan kepada kaum miskin.

PANASCO VII ini mengambil Thema "Keadilan dan Perdamaian akan Merangkul." Dalam dunia modern saat ini, terjadi perubahan yang sangat pesat, banyak tantangan dan permasalahan baru yang muncul. Ada pula bentuk kemiskinan baru. Ada kebutuhan mendesak dari para Vinsensian untuk bertemu di tingkat internasional guna membahas dan mencari jalan keluar permasalahan tersebut. Melalui refleksi, doa, sharing dan diskusi dalam PANASCO VII diharapkan para Vinsensian dapat memiliki komitmen dan langkah-langkah yang nyata (tindakan praktis, konkrit dan positif) untuk membangun dunia dengan masa depan yang lebih baik

Read More..

22 Maret 2011

Kisah dari Para Pemulung di Akamasoa - Madagaskar


Akamasoa adalah bahasa Madagaskar (Malagasy) yang mempunyai arti "komunitas dari para sahabat baik". Kisah ini demikian terkenal di Madagaskar dan dunia karya cinta kasih. Akamasoa adalah gerakan cinta kasih bersama-sama.

Diawali oleh seorang Misionaris yaitu Romo Pedro Opeka, CM. Ia berasal dari Argentina tetapi ayah dan ibunya merupakan pengungsi dari Eropa (Slovenia). Dalam kegiatannya sebagai misionaris, dia mengunjungi daerah-daerah miskin di ibukota Madagaskar, Tannarive. Suatu saat dia menjumpai wilayah dengan kemiskinan hebat di sudut ibukota Madagaskar, di wilayah pembuangan sampah.

Romo Pedro mengunjungi dengan ketelatenan. Ia berkenalan dengan mereka. Kerap pula dia dicemooh sebagai "kulit putih". Diperlukan kira-kira enam bulan atau lebih bagi Romo Pedro untuk memiliki relasi yang baik dengan mereka. Sampai suatu saat, Romo Pedro bersama-sama dengan orang miskin disekitar mulai membangun rumah yang pantas bagi mereka, sekolah yang layak dan pendirian beberapa aktivitas untuk lapangan pekerjaan.

Romo Pedro kini telah bekerja lebih dari dua puluh tahunan bersama orang-orang miskin Akamasoa dan bersama-sama mereka telah mendirikan perumahan yang layak bagi lebih dari 20 ribu-an unit. Jumlah orang miskin yang dibantu secara efektif mencapai 250 ribu manusia diantaranya lebih dari 8.500 anak-anak usia sekolah. Hingga saat ini Romo Pedro Opeka CM yang mencintai sepakbola masih sehat dan tengah merencanakan hal-hal yang lebih besar lagi untuk kemandirian orang-orang miskin di Akamasoa.

Karya Romo Pedro dipandang sebagai kisah Systemic Change, bukan karena besarnya melainkan karena kebersamaannya. Karya itu lahir dan berkembang serta hidup dari Gerak Bersama para sahabat kaum miskin.

Disadur dari buku "Seed of Hope"
Rm. Armada Riyanto, CM

Read More..

16 Juni 2010

General Assembly di Salamanca – Spanyol



Pada tgl. 28 Mei s/d 1 Juni 2010 bertempat di Salamanca, Spanyol telah diadakan General Assembly yang dihadiri oleh 180 peserta dari 110 negara dari seluruh dunia. Agenda utama dalam pertemuan itu adalah pemilihan ketua SSV ke-15 untuk menggantikan Juan Ramon Torramocha (Spanyol). Setiap negara memiliki satu suara untuk ikut berpartisipasi dalam pemilihan itu. Indonesia mengirimkan Bpk. Erik Subiyanto, wakil ketua DeNas, dalam pemilihan itu. Berikut ini sebagian laporannya.

Hari ke-1
Misa pagi selalu mengawali hari-hari pertemuan. Pada kesempatan itu Hymne SSV untuk pertama kali diperkenalkan dalam bahasa Perancis, Inggris dan Spanyol. Sungguh ini suatu kebanggaan bagi kita bersama bahwa lagu ini bisa membantu kita untuk saling membina persaudaraan SSV dengan semua orang, dengan semua bangsa tanpa terkecuali. Mengingatkan bahwa kita punya rekan kerja seiman dimana-mana.

Ketua Juan Ramon membuka acara sekaligus melaporkan aktivitas Dewan Umum SSV selama periode kepemimpinannya. Laporan itu juga meliputi laporan keuangan yang disampaikan oleh Ian Mcturk, bendahara Dewan Umum. Secara keseluruhan ada kemajuan dalam perkembangan SSV di seluruh dunia. Kerjasama di tingkat Internasional semakin berkembang dengan dilibatkannya SSV dalam proyek Unesco. Kondisi keuangan Dewan Umum tahun ini juga memperlihatkan perbaikan dari tahun sebelumnya, ini disebabkan karena semakin banyak negara yang ikut memberikan kontribusinya.


Dalam sambutannya, Juan Ramon mengharapkan agar SSV semakin terlibat dalam kerjasama yang dibangun oleh Family Vincentian ( Keluarga Vinsensian ). Kerjasama ini penting mengingat kita mempunyai tujuan yang sama yaitu menolong orang miskin. Didalam keluarga Vinsensian, tidak ada yang boleh merasa paling penting. CM bukan paling penting meskipun St. Vinsensius yang mendirikan, Putri Kasih juga bukan paling penting meskipun dia yang membimbing SSV pertama kali juga bukan SSV yang paling penting meskipun memiliki cabang yang terbanyak. Tapi yang terpenting karena kita disatukan dalam satu semangat kerasulan. Kita diundang untuk melayani sesama, melayani Kristus. Kekuatan kita adalah Allah sendiri. Banyak jalan menuju Yerusalem, tetapi Allah sendiri yang akan memberi jalan / kekuatan.
Selain itu beliau juga mendorong kita untuk terus berbuat seperti apa yang dilakukan oleh Frederic Ozanam bersama teman-temannya di thn 1833. Kita harus membuat gerakan nyata untuk mengentas kemiskinan.

Siang harinya dilakukan pemilihan suara. Bagi mereka yang tidak datang, suara dikirim melalui surat. Setiap negara berhak atas satu suara. Dari 5 orang nominasi calon ketua, akhirnya terpilih Michael Thio dari Singapore dengan jumlah suara meyakinkan sebanyak 87 %. Terpilihnya Michael Thio yang mewakili benua Asia merupakan sejarah baru dalam organisasi SSV. Mengapa demikian? Sebab ketua sebelumnya selalu berasal dari benua Eropa. Ini membuktikan bahwa SSV sebagai organisasi sosial berhasil menunjukkan sifat internasionalnya dan tidak membedakan ras sesuai dengan semangat yang dibawa oleh pendiri SSV, Frederic Ozanam dan rekan-rekannya, ketika mendirikan serikat ini di Paris.

Michael Thio seperti diketahui selama ini sangat aktif memperjuangkan SSV dimana-mana. Terlibat di SSV selama 43 tahun. Posisi sebelumnya sebagai Wakil Ketua Dewan Umum SSV mengantarnya untuk terlibat aktif dalam pengembangan SSV di beberapa negara. Selain itu kemampuan organisasinya yang cukup baik (pernah menjadi Direktur Operasional British Company) diharapkan mampu membuat SSV menjadi organisasi yang lebih efektif dalam membantu orang miskin.

Hari ke-2
Dr. John Falzon (CEO SSV Australia) menyampaikan tentang Social Justice. John mengingatkan bahwa SSV merupakan sebuah gerakan sosial yang harus maju kedepan. SSV berkomitmen untuk melakukan perubahan sosial dimasyarakat yang lebih adil dan penuh kasih sayang. Selain itu SSV juga merupakan sebuah gerakan spiritual. Dalam SSV kita juga digerakkan oleh kasih Allah. Kita menjadi saksi dari kehadiran Allah didunia. ”Berbahagialah kamu yang miskin dihadapan Allah....karena kamulah pemilik kerajaan Allah.” Lukas 6: 20, 24. Kita harus meniru pendiri kita, Frederic Ozanam, yang selalu belajar melihat penyebab kemiskinan dan penindasan agar bisa mencegahnya dikemudian hari.

Diskusi berikutnya mengenai topik Kaum Muda dibawakan oleh Julien Spiewak (Perancis), International Youth Coordinator CGI, yang sangat bersemangat dalam menggerakkan anak muda.
Kita diingatkan kepada sejarah bahwa sekelompok mahasiswa, dalam hal ini anak muda, di bulan April 1833 mulai bekerja dengan komitmen untuk melayani orang miskin. Meskipun saat ini banyak konferensi yang anggotanya tidak muda lagi, namun sangat penting bahwa ”semangat muda” untuk berinovasi dan beradaptasi harus selalu ada diantara kita. Julien mengingatkan kita untuk selalu memberikan kesempatan kepada anak muda untuk terlibat aktif. Memberi ruang dan tempat bagi mereka untuk bersuara. Saat ini ditingkat Internasional sudah beberapa kali diadakan pertemuan kaum muda mulai di Salamanca (2008), Filipina (2009) dan di delapan negara di Amerika Selatan. Ada rencana pertemuan kaum muda di Salamanca pada tgl. 13-15 Agustus 2011.

Di sore hari peserta diajak berdiskusi dalam kelompok untuk membicarakannya tentang Social Justice dan Kaum Muda. Hasil diskusi ini dituangkan dalam laporan yang disampaikan kepada panitia.

Hari ke-3
Kardinal Paul J. Cordes dari Roma juga menyempatkan hadir dalam pertemuan ini. Pada kesempatan itu, Kardinal memberikan penghargaan dari Bapa Paus Benediktus kepada Juan Ramon atas usahanya melalui SSV yang telah berkarya menolong orang miskin di seluruh dunia.
Kardinal Cordes mengingatkan bahwa sebagai Vinsensian, kita harus menjadi alat Kristus untuk menyatakan cinta Allah. Pelayanan kita tidak bisa dipisahkan dari Gereja. Melalui Gereja, Tuhan memberikan kekuatan untuk melayani orang miskin. Tuhan memberikan contoh dirinya sendiri dalam mencintai manusia. Yesus mau hidup dan mengalami sengsara yang luarbiasa demi cintaNya kepada manusia. Ini merupakan contoh paling baik bagi karya kita. Kita juga perlu belajar melihat pengalaman dari Beato Frederic Ozanam. Semasa hidupnya pendiri SSV ini sempat mengalami keraguan akan kehadiran Tuhan. Sampai suatu saat, Ia berkata: ”Aku akan mempersembahkan diri sepenuhnya untuk kebenaran”. Setelah bergulat dalam pelayanan kepada orang miskin, pada akhirnya, Frederic bisa mengatakan ”mengapa aku harus takut dengan Tuhan ? Aku mencintainya.”

Para peserta General Assembly hari ini juga mendapat kesempatan mengunjungi kota Avilla tempat kelahiran St. Theresia. Perjalanan dari Salamanca ke Avilla ditempuh dalam waktu 1 jam dengan bus yang sudah disediakan oleh panitia. Kota Avilla sendiri sebenarnya merupakan kota tua yang didirikan pada abad ke-9. Yang membuatnya menarik adalah kota ini dikelilingi oleh benteng yang tampak kokoh dari kejauhan. Didalam kota benteng ini ada beberapa gereja, katedral, kapel, museum, situs tempat St. Theresia, pasar, toko-toko dan bangunan tempat tinggal penduduk. Suasana kristen tampak terasa ketika kita berada didalam benteng ini.

Hari ke-4
Romo Robert Maloney, CM membahas topic mengenai Systemic Change and the poor dengan cara yang menarik berupa pemutaran beberapa film tentang studi kasus. Topik bahasan dimulai dari kisah awal impian untuk membuat proyek Systemic Change.
Saat ini Romo Greg Gay, Superior Jenderal CM, telah membentuk suatu komisi untuk menyebarluaskan pemikiran tentang Systemic Change terutama kepada para anggota Keluarga Vinsensian (Family Vincentian) di seluruh dunia. Sytemic Change bertujuan untuk menghentikan lingkaran kemiskinan yang ada. Dalam Systemic Change kita perlu memutus rantai kemiskinan yang ada sehingga bisa memperbaiki kondisi bagi masyarakat miskin. Contoh Lingkaran tsb sebagai berikut:
1. Seseorang tidak memiliki pekerjaan, maka tidak bisa punya uang
2. Tidak punya uang membuat mereka tidak memiliki makanan yang baik
3. Konsumsi makanan yang tidak baik menyebabkan kesehatan menurun
4. Kesehatan yang buruk membuat mereka tidak bisa bersekolah dengan baik
5. Jenjang pendidikan yang tidak tinggi menyebabkan mereka tidak bisa bersaing untuk mendapat pekerjaan dan akhirnya mereka menjadi pengangguran

Beberapa kriteria dari proyek Systemic Change:
1. Punya dampak sosial yang luas dalam kehidupan orang miskin
Proyek membantu perubahan secara keseluruhan terhadap hidup mereka yang terlibat.
2. Berkelanjutan
Proyek ini juga dapat merubah secara permanen dalam diri orang miskin, seperti mendapat pekerjaan, pendidikan, perumahan dan tersedianya air bersih dan makanan yang cukup dan lain-lain
3. Bisa ditiru
Proyek ini bisa juga diterapkan untuk masalah yang sama di tempat lain. Strategi dan tehnik bisa diimplementasikan di berbagai lingkungan.
4. Innovasi
Proyek juga bisa mengadaptasi inovasi / temuan baru. Systemic Change diharapkan bisa membantu kita ”untuk belajar melihat dunia baru” seperti yang dikatakan oleh Albert Einstein.
Kita bisa mengadaptasikan beberapa contoh keberhasilan proyek yang berbasis model Systemic Change untuk digunakan pada lokasi yang berbeda. Beberapa pelatihan tentang Systemic Change sudah dilakukan, yang terakhir adalah dalam pertemuan Keluarga Vinsensian di Thailand bulan November 2010 yang lalu. Selain memenuhi kebutuhan mendasar dari individu, sebagai Vinsensian kita juga dituntut kejelian dalam memutus rantai kemiskinan.

Contoh kasus adalah apa yang terjadi di Okoa – Guatemala dimana kerjasama antara Romo Louis (misionaris dari Kanada), SSV dan masyarakat setempat berhasil mengentas kemiskinan dengan membuat saluran air untuk memperbaiki lingkungan masyarakat. Akibatnya pengangguran berkurang. Proyek ini menjadi percontohan bagi proyek sejenis yang sekarang berlokasi di 120 desa.
Romo Maloney juga memberi contoh proyek pengerjaan sampah yang dilakukan di Madagaskar dimana sekarang masyarakat akhirnya memiliki sekolah sendiri, punya rumah sakit modern, setiap keluarga memiliki rumah.

Seperti dihari ke-3 para peserta juga dibagi dalam kelompok dan mendiskusikan pengalaman masing-masing negara terkait dengan Systemic Change Project.

Hari ke-5
Pada hari terakhir ini, para peserta mendapatkan kesimpulan hasil workshop selama pertemuan di Salamanca. Hasil pertemuan ini diharapkan dapat disosialisasikan di semua negara. Harapannya SSV bisa berkembang lebih maju dan mempunyai jaringan kerjasama yang lebih solid di masa yang akan datang.
Sebagai penutup, ketua SSV yang baru, Michael Thio menyampaikan banyak terima kasih atas partisipasi yang aktif dari seluruh peserta. Beliau juga memaparkan rencana kerja dan hal-hal yang menjadi fokus perhatiannya untuk membuat SSV menjadi organisasi Internasional yang lebih baik dalam memberikan pelayanan kepada orang miskin. Beliau juga menginginkan adanya pengembangan kepemimpinan di SSV.
SSV adalah sebuah organisasi yang menginspirasikan nilai-nilai katolik pada karya kasih diseluruh penjuru dunia. Dengan rahmat Tuhan dan kerjasama dengan teman-teman Vinsensian, kita akan menumbuhkan nilai-nilai itu lebih jauh sehingga tujuan dan misi pendiri kita tercapai.” demikian yang disampaikannya pada CatholicNews. Pada kesempatan itu beliau juga menyebutkan nama-nama yang akan mendampinginya untuk periode mendatang, yaitu:
1. Brian O Reilly - Vice President General (Irlandia)
2. Bruno Menard - Secretary General (Perancis)
3. Liam Fitzpatrick - Treasurer General (Irlandia)

Read More..

29 April 2010

Kisah dari Pinggiran Sungai Okoa - Republik Dominika


Kisah ini bagai sebuah drama kehidupan sehari-hari.
Di pinggiran sungai Okoa (aslinya tertulis Ocoa), terletak nun jauh di belahan benua Amerika Latin, terdapat sebuah stasi dengan beberapa ratus keluarga. Selama bertahun-tahun penduduk hidup dari pertanian. Mereka bercocok tanam, memanen hasilnya, sebagian dimakan dan sebagian yang lain dijual. Demikian keseharian mereka sejak nenek moyangnya.
Tetapi, bencana terjadi beberapa tahun terakhir ini. Anak-anak yang baru lahir cepat mati. Sementara yang sudah agak besar tidak mendapat nutrisi yang baik. Akibatnya, mereka tidak tumbuh dengan sehat. Sementara yang sekolah tidak bisa melanjutkan sekolahnya karena biaya tidak ada lagi. Yang dewasa menjadi pengangguran. Keluarga-keluarga muda sering cekcok, karena suami tidak memberikan uang belanja cukup. Yang lain menjatuhkan diri dalam minum yang berlebihan karena frustasi.

Mengapa semuanya itu terjadi ?

Romo Lo (Romo Louis) misionaris dari Kanada yang sudah berkarya di wilayah itu sangat prihatin. Secara telaten Romo Lo mengajak berkumpul tokoh-tokoh umat untuk saling mendengarkan. Mereka saling tukar pandangan, mengapa ‘bencana” itu terjadi di dalam hidup mereka setiap hari.
Mereka menyebut semua itu terjadi karena kekurangan uang. Tetapi, ada juga yang bertanya, mengapa mereka kekurangan uang ? Beberapa berkata, karena tidak ada lagi pekerjaan. Kenapa mereka tidak bekerja ? Tidak sedikit yang berterus terang, tanah mereka kini kering. Tanah tidak bisa diapa-apakan lagi. Mengapa tanah kering ? Tidak ada air. Mengapa tidak ada air ? Hujan tidak lagi turun dengan teratur, seperti beberapa tahun yang lalu. Sungai Okoa pun kini mengering. Wilayah hutan di sekitar itu sudah rusak oleh pembabatan yang tak bertanggung jawab.
Jadi, sampai disini, dalam kesempatan “rembugan bersama”’ mereka sampai pada kesimpulan bahwa sebab dari segala bencana hidup mereka adalah Kekurangan Air.
Kini, Romo Lo dan tokoh-tokoh umat stasi mengakhiri pertemuan dengan doa khusus mohon bantuan Tuhan agar mengirimkan air …. Apakah Tuhan mengabulkan permohonan mereka ???
Penyelenggaraan Tuhan berliku. Kerap kali datang secara tidak terduga. Demikian juga dengan apa yang terjadi pada umat stasi di pinggiran sungai Okoa.
Hari itu, Romo Lo kedatangan beberapa mahasiswi dan mahasiswa. Mereka tidak mengenal wilayah itu untuk “survey lapangan”, melihat kemungkinan apakah mereka bisa tinggal bersama mereka nantinya. Romo Lo seperti biasa menyambut mereka dengan kesederhanaan dan keramahan ala kadarnya.
Diantara mahisiswa mahasiswi yang berkunjung, ada seorang gadis yang ayahnya adalah seorang ketua konferensi SSV di Amerika. Gadis itu sebutlah Anna namanya. Anna pulang dan cerita kepada ayahnya tentang apa yang dilihat dan dirasakannya. Anna tidak berkata banyak, kecuali dengan tegas minta kepada ayahnya, Jack Esham namanya; “Papa harus kesana untuk melihat umat di pinggiran sungai Okoa !”
Jack seorang aktivis SSV yang sehari-harinya ditengah kesibukan kerja dan waktu untuk keluarga. Dalam kesempatan kunjungannya ke Okoa ia melihat dan merasakan kemiskinan yang benar-benar merupakan sebuah bencana, menggerogoti kehidupan sehari-hari anak-anak, remaja, kaum muda dan keluarga. Mereka tidak punya pekerjaan. Akibatnya, mereka tidak punya cukup uang. Ketidak-cukupan uang membuat mereka tidak bisa makan dengan baik, sebagai konsekuensinya selanjutnya banyak yang sakit dan cepat mati terutama bayi dan anak-anak. Tidak punya uang juga membuat mereka tidak mampu mengirim anak ke sekolah. Ketika mereka tidak ke sekolah, mereka tidak mampu tumbuh dengan baik, tidak punya bekal masa depan. Dan, begitulah lingkarannya kembali lagi, ketika mereka tidak mampu sekolah, mereka tidak terdidik dan mereka juga pasti kehilangan kesempatan untuk mendapat pekerjaan yang layak. Ini sebuah lingkaran sebab akibat yang tiada putus. Sebuah lingkaran setan.
Jack mendengarkan Romo Lo dan umat dipinggiran sungai Okoa, apa yang bisa dikerjakan untuk “memotong” rantai lingkaran setan ini ?
Tokoh-tokoh umat dan Romo Lo berkata, mereka bisa ‘menghidupkan kembali” lahan-lahan tanah mereka yang kering dan mengolah tanah kembali asalkan ada air. Tetapi bagaimana mendatangkan air ? Ada air, tapi ditempat yang jauh disana, di bukit atas yang jaraknya beberapa kilometer. Dibutuhkan biaya beberapa ratus juta untuk pemasangan pipa sekaligus dengan biaya pembangunan dan perawatannya.
Jack mendengarkan rancangan mereka, sembari berkata bahwa jika ada bantuan, tetap diperlukan kolaborasi yang tetap dan kokoh dari umat untuk merealisasikan proyeknya.
Jack kembali ke Amerika dengan segudang rancangan bantuan. Mulailah Jack mengerahkan konferensi-konferensi di Amerika untuk mengumpulkan dana bantuan. Dan, ketika berhasil didapat beberapa ratus juta, dimulailah proyek itu.
Okoa kembali teraliri air. Sawah menjadi menghijau lagi. Mereka menanam pohon disekitarnya untuk penahan air dan konservasi kesuburan tanah. Lahan bisa ditanami dan dipanen. Mereka mendapatkan kembali makanan yang cukup. Kematian dini anak-anak bisa ditekan seminimal mungkin. Sekolah pun juga dapat dibangun.
Dan…umat dipinggiran sungai Okoa pun kini mendapatkan KEHIDUPAN mereka kembali. Senyum dan keceriaan anak-anak pun kini menebar keindahan.
Itulah, kisah Systemic Change. Kisah yang berupa:
• Kesadaran Bersama bahwa mereka telah dirundung kemiskinan
• Gerakan Bersama bahwa mereka bisa melepaskan diri dari kemiskinan dengan kerja bersama dan “mencari bantuan” dari Tuhan dan sesama (SSV)
• Perubahan Sistem Kehidupan sehari-hari yang diupayakan Bersama.
Rm. Armada Riyanto, CM
.

Read More..

28 April 2010

Umat Kaya berbagi Kebahagiaan Paskah dengan Umat Miskin


Umat Katolik yang kaya di paroki terbesar di Bangladesh membantu kaum papa untuk merayakan Paskah. Sedikit uang tunai dan sumbangan kebutuhan sehari-hari disediakan bagi umat yang miskin.
Para anggota Serikat Sosial Vinsensius (SSV) di Paroki Rosario Suci di Tejgaon, Dhaka, mengumpulkan sekitar 25.000 taka (US$ 357) dari umat dan membeli beras, minyak, dan kacang-kacangan yang didistribusikan kepada sekitar 30 keluarga miskin pada 30 Maret.
Pascah Pamer, 60, ketua SSV tingkat paroki itu mengatakan, “Setiap tahun pada masa Natal dan Paskah, kami berusaha untuk membantu umat Katolik yang miskin untuk bisa turut menikmati kegembiraan pesta-pesta keagamaan itu. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada umat Katolik mampu yang dengan murah hati memberikan sesuatu kepada orang miskin.”
SSV cabang lokal itu dibentuk tahun 1972. Sejak itu, serikat itu telah membantu umat Katolik yang miskin untuk membangun rumah, membeli mesin jahit, alat pertukangan, rickshaw (semacam becak), mengadakan warung teh, dan menyediakan beasiswa bagi pendidikan para siswa miskin.
Pada acara pembagian bantuan di gereja itu, 30 keluarga menerima masing-masing 5 kilogram beras, 1 kilogram minyak, 1 kilogram kacang-kacangan, dan uang tunia sebesar 100 taka.
Pushpa Gomes, 30, ibu rumah tangga yang menjadi donor, mengatakan kepada UCA News, “Saya senang sekali bisa berbagi kegembiraan Paskah dengan umat yang miskin. Saya ingin melihat mereka merayakan Paskah dengan gembira. ”
Katolik yang miskin mengucapkan terima kasih SSV dan umat yang kaya atas sumbangan mereka.

“Saya berjuang setiap hari bersama empat anak. Sumbangan ini akan membantu keluarga saya merayakan Paskah,” kata Maria Theresa Sangma, 45, warga suku Garo yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga.
Pushpa Costa, 38, seorang janda yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga mengatakan kepada UCA News, “Saya tidak bisa menunjang keluarga saya dengan pendapatan saya yang kecil. Sebagai seorang Kristen, saya tidak bisa mengemis atau mencari uang melalui cara-cara tidak etis [pelacuran],” katanya, dengan menahan airmata.
“Jadi saya datang untuk mendapat sumbangan di Gereja dan saya gembira menerimanya,” tambahnya.
Michael Cruze, 36, bekerja sebagai pembuat pot di pasar terdekat pada malam hari. Dia tinggal di rumah saudarinya.
Setelah menerima sumbangan, dia mengatakan kepada UCA News, “Saya tidak bisa makan tiga kali sehari, jadi saya sangat berterima kasih kepada para dermawan yang membantu kami untuk merayakan Paskah dengan lebih baik.”
Orang-orang Kristen miskin itu berjumlah sekitar 1.00 orang. Mereka tinggal di daerah-daerah kumuh di Dhaka, demikian sumber-sumber Gereja.
-UCA News
www.cathnewsindonesia.com.

Read More..

21 Juni 2009

500 ribu anak muda menghadiri World Youth Day 2008



Setelah acara Famvin di Bathurst, Australia berakhir (9-13 Juli 2008), semua peserta berangkat menuju ke Sydney dengan menggunakan 7 bus besar untuk mengikuti WYD 2008. Sesuai rencana, para peserta Famvin akan makan siang bersama di komplek gereja St. Vincent di daerah Ashfield. Setelah makan siang, peserta akan diantar ke tempat dimana kita akan menginap selama mengikuti WYD 2008. Untuk acara WYD, kami minus Romo Tetra CM menginap di De La Salle College sekitar 1 menit berjalan kaki dari gereja St. Vincent dan 5 menit berjalan kaki dari stasiun kereta Ashfield. Kami mendapat satu ruang kelas untuk bertujuh. Akomodasi jauh berbeda dengan di Famvin yang sangat terjamin, kami tidur di lantai dengan sleeping bag, gak ada heater, kamar mandi terbatas, tapi konsumsi tetap terjamin lho. Untuk acara WYD, setiap peserta yang ikut disebut pilgrim atau peziarah. Berdasar informasi yang aku peroleh, WYD 2008 diikuti oleh 170 negara dengan jumlah peserta mencapai 500 ribu orang. Acaranya terdiri dari acara umum dan pilihan. Acaranya cukup beragam seperti misa, katekese, jalan salib, adorasi, pengakuan dosa, konser musik, pemutaran film, pameran dan masih banyak lagi. Setiap hari kita harus membuat program acara untuk hari berikutnya dan yang menjadi patokan adalah acara umum, sehingga kita menyesuaikan acara pilihan kita. Tapi yang paling aku tunggu-tunggu adalah bertemu dengan Paus Benediktus XIV. Selama WYD berlangsung, setiap peserta mendapat pilgrim passport yang berfungsi sebagai ID card, kupon makan, tiket gratis kereta CityRail dan bus kota ke venue- venue acara. Jadi mobilitas kita sangatmudah dan cepat. Acaranya cukup padat, setiap hari acara dimulai jam 06.30 pagi dan kita harus kembali ke penginapan diberi batas waktu sebelum jam 12 malam, karena seluruh transportasi baik CityRail maupun bus kota akan berhenti beroperasi pada jam tersebut. Dalam rangkaian acara WYD 2008, kami mengikuti beberapa acara gathering seperti Indonesian Gathering dan St. Vincent de Paul Society International Youth Gathering. Kami mengikuti Indonesian Gathering bersama peserta WYD lainnya yang berasal dari Indonesia dan masyarakat Indonesia yang bermukim di Australia, sekitar 2000 orang hadir dalam acara tersebut baik muda maupun tua. Khusus SSV Indonesia, kami bertiga mendapat undangan untuk mengikuti St. Vincent de Paul Society International Youth Gathering, disini kami bertemu lagi dengan anggota SSV dari seluruh dunia yang sebagian besar juga ikut acara Famvin. Kami diajak mengikuti berbagai presentasi tentang: SSV, Salamanca Meeting, kaum muda, karya sosial SSV seperti pendampingan anak, kunjungan dan bantuan bencana tsunami dari beberapa negara. Acara ini dihadiri oleh Barbara Ryan ( Ketua SSV negara bagian New South Wales), John Falzon (Ketua Denas SSV Australia) dan Jose Ramon Diaz Torremocha (Ketua Dewan Umum SSV). Meskipun acara padat, kami sempat mengunjungi Opera House dan cari oleh-oleh, kapan lagi bisa ke Australia he.....he....... Selama mengikuti WYD kita dapat jatah makan 3 kali dari panitia, untuk menu makan pagi dan siang perut kita masih bisa terima tapi kalau untuk menu makan malam kita gak berani makan soalnya rasanya aneh. Untuk makan malam kita biasanya bikin mie instant di penginapan atau kalau pas pengin makan nasi kita hunting masakan Indonesia di China Town. Jauh-jauh ke Australia makannya apa? Tetap menu lokal Indonesia seperti nasi goreng, nasi uduk, nasi kuning, gado-gado dll. Untung dech, meskipun rasanya agak beda tapi cukup menghibur. O, iya ada satu cerita yang menggelikan selama WYD berlangsung. Kalo di Indonesia kita bisa mandi 2 sampai 3 kali sehari. Tapi selama di WYD kita hanya bisa mandi sehari sekali. Bukan karena terbatasnya air dan shower atau udara dingin, tapi lebih dikarenakan jadwal kegiatan yang sangat padat serta menguras tenaga yang kita ikuti setiap hari. Maka untuk mensiasatinya, kami mandi sehari sekali pada malam hari menjelang tidur. Untuk pagi hari? Mana mungkin kita bisa bangun pagi untuk mandi, jadi cukup cuci muka dan sikat gigi beres dech. Maklumlah kita baru tidur sekitar jam 1 – 2 pagi setelah kita mengevaluasi kegiatan kita hari itu dan doa malam dalam satu kelompok, dan pagi jam 6.30 kita harus segera keluar dari ruang tidur untuk memulai aktivitas kita. Hari terakhir menjelang misa penutupan bersama Paus Benediktus XIV, semua peziarah berkumpul di North Sydney untuk memulai perjalanan kita ke Randwick tempat diselenggarakannya misa penutupan. Untuk acara ini kita wajib membawa peralatan perang seperti jaket, syal, sarung tangan, sleeping bag, makanan dan minuman. Seluruh peserta berjalan kaki menuju ke tempat acara. Spektakuler!!!! Karena ratusan ribu peziarah berjalan kaki bersama-sama melalui rute yang sudah ditentukan panitia. Kami sama sekali tidak merasa lelah karena kami melewati tempat-tempat yang indah dan belum pernah kita lihat dari dekat, apalagi pada saat kita melewati Harbour Bridge yang menjadi ikon kota Sydney. Dari situ kita bisa melihat Opera House ikon kota Sydney yang lain dari arah yang berbeda dan melihat pemandangan kota Sydney yang penuh dengan gedung-gedung tua yang terawat baik dan gedung bertingkat yang tertata rapi. Ternyata kota Sydney dibangun dengan konsep satu kesatuan yang direncanakan dengan matang. Selama perjalanan itu peserta WYD disambut dengan sukacita oleh warga setempat dengan lambaian tangan. Tak hanya sambutan positif yang kami terima tapi beberapa demo negatif juga kami jumpai di beberapa lokasi. Tapi para peserta WYD tidak mempedulikannya. Selama perjalanan, secara berkelompok para peserta berdoa jalan salib, doa rosario dan menyanyi lagu-lagu pujian. Apalagi kami satu kelompok Kevin, berjalan beriringan dengan teman-teman dari Meksiko yang membawa alat musik lengkap dan bernyanyi di sepanjang jalan, pokoknya full music dech. Oh betapa indahnya..... dan betapa eloknya....... bila saudara seiman....... hidup dalam kesatuan....., begitulah kira-kira gambaran suasana saat itu yang aku rasakan. Kurang lebih 3 jam perjalanan kita sampai di Randwick sekitar pukul 5 sore. Ya, hari itu semua peserta WYD akan tidur di lapangan. Cuaca saat itu cukup dingin. Malam harinya kita mengikuti ibadat malam yang dipimpin langsung oleh Paus Benediktus XIV, kita berdoa sambil menyalakan lilin. Kemudian acara dilanjutkan dengan konser musik sampai jam 10 malam. Pagi harinya kita persiapan untuk misa penutupan, setelah makanpagi, kami bersiap-siap menyambut kedatangan Paus, dengan mobil kebesarannya, Paus berkeliling lapangan dengan pengawalan ketat untuk memberi salam dan memberkati kaum muda yang hadir. Suatu pengalaman yang gak akan aku lupakan bisa melihat Paus dalam jarak dekat meskipun Cuma beberapa detik. Misa berlangsung sekitar 3 jam. Setelah misa selesai kami kembali ke penginapan untuk persiapan pulang ke Indonesia. World Youth Day 2008 yang diselenggarakan di Sydney, Australia ini berjalan dengan sukses dan lancar. Sungguh sebuah pengalaman terindah dan tidak terlupakan bisa berkumpul dengan kaum muda dari seluruh penjuru dunia. Kami tidak melihat perbedaan warna kulit, status social ataupun masalah politik, tapi aku hanya melihat persaudaran, persahabatan, kegembiraan. Meskipun kami tidak bisa mengenal secara personal, tapi Tuhan Yesus punya kuasa untuk menyatukan kami dalam acara tersebut. Sungguh, Tuhan membuat kita menjadi gila, gila akan persahabatan, persaudaraan dan perdamaian. God is good all the time, all the time God Is good.Terima kasih saya sampaikan kepada Dewan Nasional atas kepercayaan, dukungan dan kesempatan yang diberikan kepada kami untuk mengikuti WYD 2008. Buat Vinsensian muda ayo segera bergabung dalam kegiatan SSV ditempatmu. Siapa tahu World Youth Day berikutnya yang akan dilaksanakan di Madrid, Spanyol, kamu yang terpilih untuk mewakili SSV Indonesia.


By : Ferdinan Wahyu Aria - DD Magetan

Read More..

Family Vincentian - 2008 di Australia





Pada tanggal 9 – 13 Juli 2008 yang lalu, saya mengikuti acara Famvin (Keluarga Vinsensius) 2008 yang diselenggarakan di Bathurst, Australia. Saya berangkat ke Australia bersama Devina (DD Bandung) dan Josi (Denas). Kami bertiga berangkat dari Bandara Juanda, Surabaya pada hari Selasa, 8 Juli 2008. Pesawat yang kami tumpangi berangkat pada Pk. 17.00 WIB menuju Denpasar, Bali untuk transit untuk selanjutnya berangkat menuju Sydney, Australia pada Pk. 23.55 WITA. Sesampainya di Sydney International Airport, ternyata kami sudah dijemput oleh salah seorang panitia yaitu Bec Bromhead.
Setelah berkenalan, kami menuju kantor SSV Australia untuk beristirahat sambil menanti kedatangan teman-teman SSV dari negara lain yang kedatangannya dikoordinir oleh SSV Australia. Saat di Kantor SSV Australia, kami diberikesempatan untuk sarapan pagi dan berkenalan dengan Vinsensian muda dari negara lain yang sudah datang sebelum kami. Menjelang makan siang seluruh peserta diajak berjalan-jalan menuju sebuah mall, kami diberi kesempatan untuk belanja keperluan kami masing-masing. Setelah belanja kami diajak makan siang di food court di mall tersebut. Setelah belanja dan makan siang, kami kembali ke kantor SSV Australia untuk persiapan berangkat ke tempat dimana akan dilangsungkannya acara Family Vincentian.
Pada Pk. 14.00 waktu Sydney, kami berangkat ke tempat acara dengan menumpang bus yang sudah disiapkan oleh panitia. Famvin dilaksanakan di Bathurst Region, sekitar 3 jam dari Sydney dan diikuti oleh 31 negara termasuk Indonesia dengan jumlah peserta sekitar 300 orang. Delegasi Indonesia berjumlah 8 orang terdiri dari SSV 3 orang, JMV 2 orang, PK 2 orang dan CM 1 orang. Meskipun satu delegasi, kami dari Indonesia tidak berangkat bersama-sama .
Sesampainya di Bathurst, kami baru tahu kalau seluruh peserta menginap di asrama St.Stanislaus’ College. Pada saat registrasi kami mendapat ID card, mini bagpack dan kaos. Panitia juga menyiapkan perlengkapan untuk musim dingin bagi peserta secara cuma-Cuma seperti syal, sarung tangan, dan penutup kepala. Setelah itu kami menuju kekamar untuk beristirahat dan persiapan pribadi menjelang acara pembukaan. Sebelum acara pembukaan kami makan malam bersama. Wow! Sungguh luar biasa, hampir seluruh peserta sudah hadir, tapi delegasi Indonesia yang lain mana ya? Disitu kami berkenalan satu sama lain, pengalaman yang sangat berarti buat kami. Pada saat berkenalan banyak orang yang mengira kami orang Filipina, wah Indonesia kemana nich? Memang untuk acara Famvin sendiri, delegasi dari Filipina cukup besar sekitar 50 orang coba bandingkan dengan delegasi. Indonesia yang hanya 8 orang itupun kami belum bertemu satu sama lain di makan malam tersebut.
Acara pembukaan diawali dengan tarian selamat datang dari suku Aborigin, pengenalan logo Famvin 2008, penyalaan lilin oleh organisasi/tarekat yang mempunyai semangat Vinsensius dan dari negara-negara yang ikut serta dalam acara tersebut. Saat itu saya mewakili Indonesia
dalam penyalaan lilin. Tema dari Famvin 2008 ini adalah “Experience Family, Witness and Mission, God’s Story and Ours”.
Hari kedua, acara dimulai dengan makan pagi pada Pk. 06.30 waktu setempat. Setelah doa pagi, kemudian dilanjutkan dengan presentasi oleh Romo Richard Benson, CM tentang visi dan misiSanto Vinsensius terhadap kaum miskin. Untuk informasi, kami dibagi dalam beberapa kelompok kecil dengan anggota sekitar 10 orang. Ada 3 pertanyaan yang menjadi bahan diskusi kelompok:
1. Apa saja 3 karakter terpenting dari Santo Vinsensius bagi kita dan mengapa?
2. Dapatkah visi Santo Vinsensius mengubah kehidupan kita?
3. Bagaimanakah cara mengenalkan Santo Vinsensius dan visinya kepada teman sebaya kita?
Setelah diskusi session 1 selesai , acara diselingi dengan ice breaking. Presentasi yang kedua disampaikan oleh Sr. Chaterine Salani, PK tentang Santa Louise De Marillac dan peransertanya dalam melayani kaum miskin. Presentasi ini cukup menyegarkan karena dikemas dengan ringan tapi cukup mengena. Ada pertanyaan refleksi yang diberikan untuk bahan diskusi: Dukungan atau faktor apa saja yang kita butuhkan untuk hidup dengan hati? Dalam perjalanan rohani kita? Dalam pelayanan kita kepada kaum miskin? Dalam pemahaman tentang Sejarah Santo Vinsensius?
Setelah makan siang seluruh peserta berkumpul di ruang registrasi, sesuai jadwal kami akan mengikuti acara “Justice Pilgrimage” semacam napak tilas. Peserta dibagi dalam beberapa kelompok besar. Delegasi Indonesia tergabung dengan Filipina,Thailand, Myanmar, Fiji, Bangladesh, Sri Lanka dan Ethiopia. Setelah mendapat pengarahan dari panitia, kami diberangkatkan dengan jeda 5 menit tiap kelompok.Selama napak tilas kami berhenti di 5 pos dan mendapat materi yang berbeda-beda. Rute perjalanan ini kurang lebih 5 km mengeliling kota Bathurst yang cukup indah. Cuaca di Bathurst saat itu sangat dingin sempat minus 2 derajat. Meskipun cuaca dingin dan rasa lelah menyerang, kami sangat menikmati acara tersebut. Setelah makan malam kami semua menuju ke gedung olahraga yang berada di komplek St.Stanislaus’ College, ternyata di sana telah siap sebuah grup musik tradisional yang siap menghibur kita.
Acara ini dinamakan bush dance, karena kami disini diajak berdansa ala Kate Winslet dan Leonardo Dicaprio di film “Titanic” itu lho, seluruh peserta berdansa bersama-sama dengan musik yang energik. Heboh dan bener-bener hilang rasa dinginnya, malah semua peserta melepas peralatan perangnya seperti jaket, syal dan sarung tangan karena kepanasan.
Hari ketiga setelah sarapan dan doa pagi, kami mengikuti Sesi 3 tentang Frederic Ozanam, Sr. Rosalie Rendu dan latar belakang terbentuknya SSV yang dibawakan oleh DR Andy Marks dari SVDP. Setelah break acara dilanjutkan dengan sesi ke 4 tentang Santa Catherine Labour yang dibawakan oleh Anna Maria P. Escano dari JMV Filipina. Setelah makan siang kami berkumpul di Marble Hall tempat dimana kita melakukan registrasi. Kami akan mengikuti acara social outing, untuk acara ini peserta dibagi dalam 3 kelompok besar. Saya berada di kelompok B, sedang Josi dan Devina berada dikelompok C. Kelompok B saat itu dijadwalkan mengunjungi museum tambang emas.
Kami berangkat dengan menumpang 2 bus besar, cuaca saat itu sangat cerah apalagi pemandangan disepanjang perjalanan sangat indah, di dalam bus kami berkesempatan untuk mengenal lebih dekat teman-teman dari negara lain. Sampai dilokasi kami dipandu oleh seorang guide. Kami diajak berkeliling lokasi bekas tambang emas tersebut, mencoba beberapa peralatan yang digunakan untuk menambang, mencoba mendulang emas dan melihat jenis-jenis bebatuan yang ditemukan di tempat tersebut. Sungguh pengalaman yang luar biasa dan tidak akan terlupakan. Sekitar 2 jam kami berada disana dan kita harus kembali ke tempat penginapan untuk mengikuti misa.
Setelah makan malam, seluruh peserta berkumpul di PAC tempat dimana kita selama ini mengikuti presentasi. Malam itu kami diberi kesempatan untuk melakukan pengakuan dosa. Sebelum pengakuan dosa, panitia memutar slide dan diiringi lagu yang membantu kita untuk merenung dan bermeditasi. Tiap peserta yang telah melakukan pengakuan dosa menyalakan lilin yang menjadi simbol terang bagi diri kita.
Hari keempat setelah sarapan, kami mengikuti misa pagi, kemudian dilanjutkan dengan diskusi dengan kelompok kecil tentang menjadi Vinsensian sejati, disini kami sharing pengalaman tentang karya Vinsensian di negara masing-masing. Setelah break kami berkumpul dalam delegasi negara masing-masing untuk berdiskusi tentang panggilan untuk beraksi dan hasilnya disampaikan kepada forum. Sebelum makan siang, panitia mengadakan ice breaking, saat itu Indonesia yang kebagian tugas untuk memimpin. Saya dan Windhidari JMV Indonesia memimpin acara tersebut. Kami mengajak para peserta untuk bernyanyi “Train of Love” sambil melakukan gerakan. Ternyata para peserta sangat antusias dan bergembira dengan persembahan kami, bahkan beberapa peserta meminta dibuatkan catatan syair lagunya. Hidup Indonesia !!!
Setelah makan siang kami mengikuti acara social outing, hari itu kelompokku mengunjung peternakan dan rumah pemotongan hewan. Disini kami melihat jenis-jenis hewan ternak yang ada di Australia, melihat cara memotong bulu biri-biri, cara memerah susu dan berkeliling peternakan yang cukup luas dengan naik traktor.Di sini juga ada kangguru yang diternakan lho. Setelah puas kami kembali ke penginapan untuk mengikuti doa novena / rosario. Setelah makan malam kami melakukan persiapan untuk acara malam. Panitia mengadakan malam International Festival, masing–masing delegasi diberi kesempatan untuk tampil. Delegasi Indonesia menampilkan Tari Merak yang dibawakan oleh Sr. Kristi PK, Sr. Stefani PK, dan Windhi dari JMV, sedang aku, Josi, Devina dan Juanli dari JMV, memakai pakaian tradisional sedangkan Romo Tetra CM jadi fotografer kami. Antusiasme peserta yang lain sangat bagus lho. Setelah tampil kita bagi-bagi souvenir ke audience. Acara tersebut berlangsung sangat meriah. Kami berfoto bersama dengan negara-negara lain dan bertukar souvenir.
Hari kelima, setelah sarapan, kami mengikuti misa penutup yang dipimpin oleh Romo Gregory Gay, CM. Misa diawali dengan perarakan bendera negara-negara peserta, dari Indonesia diwakili oleh Juanli dari JMV. Misa tersebut berlangsung sangat meriah apalagi tiap-tiap negara ambil bagian dalam misa tersebut. Delegasi Indonesia mendapat tugas untuk doa umat multibahasa, dari Indonesia diwakili oleh Devina dan kita juga menyanyikan lagu Kudus dalam bahasa Indonesia.
Misa yang panjang itu terasa singkat karena kami bergembira dan bersemangat dalam mengikutinya. Setelah misa, kami makan siang dan dilanjutkan dengan acara social outing, kelompokku saat itu mendapat tugas untuk menjadi sukarelawan lingkungan untuk melakukan penanaman pohon disekitar kota Bathurst. Kami diajari cara menanam pohon dan melakukan penanaman di lokasi yang telah ditentukan. Malam hari setelah makan malam, di lapangan St.Stanislaus’ College diadakan Bathurst Diocesan Festival yaitu konser musik dan pameran.
Tapi malam itu rata-rata peserta Famvin tidak mengikuti acara itu sampai selesai karena harus berkemas-kemas untuk berangkat ke Sydney keesokan harinya untuk mengikuti acara World Youth Day 2008.
Dengan ikut acara FamVin 2008, aku makin merasa kecil, ternyata yang aku lakukan di SSV selama ini belum ada apa-apanya dibanding dengan yang dilakukan oleh teman-teman dari negara lain. Suatu sharing pengalaman yang cukup berguna buat aku. Lama atau tidaknya kita ikut SSV bukan suatu jaminan kita total dalam pelayanan, tetapi kesungguhan kita dalam melayani kaum miskinlah yang diharapkan. Dengan mengikuti acara ini aku makin tertantang dan makin bersemangat dalam melayani kaum miskin.
Dalam konteks kaum muda memang kita harus memberi perhatian lebih dalam pembinaan kaum muda. Ada satu pengalaman yang membuat saya berpikir, ada beberapa orang yang bisa saya katakan sudah tua, ikut dalam acara FamVin, setelah ngobrol beberapa saat, aku baru tahu kalau salah satu dari mereka adalah Ketua Denas SSV dari sebuah negara di ASEAN. Beliau cerita kalau mereka kesulitan dalam merekrut kaum muda jadi terpaksa yang berangkat ketua Denasnya. Kasihan deh tu bapak. Begitu susahkah mengajak kaum muda untuk terlibat dalam SSV ataukah ada sesuatu yang salah dengan regenerasi dalam organisasi kita. Bagaimana Bagaimana dengan SSV Indonesia? Kalau dari segi pembinaan dan perekrutan kaum muda, Indonesia tidak kalah dengan negara lain bahkan hasil sharing pengalaman dengan negara lain, mereka memuji kita karena kaum muda Indonesia banyak terlibat dalam kegiatan SSV. Tapi apakah itu sudah merata di semua konferensi?
Kita memang tidak bisa mengharapkan buah matang secara instant, tetapi harus dipupuk, disirami dan dirawat secara berkesinambungan dan terus-menerus seperti kita dalammengenalkan SSV dan semangat Vinsensius kepada kaum muda. Hasilnya mungkin tidak seperti yang kita inginkan tetapi kita harus tetap berusaha dan bersemangat dalam pembinaan kaum muda. Semangat!!!

By : Ferdinan Wahyu Ariya (DD Magetan)

Read More..