"Sepuluh kali sehari, Anda pergi kepada orang miskin, sepuluh kali pula Anda akan menemukan Tuhan "(St. Vinsensius A Paulo)
Tampilkan postingan dengan label Kaum Muda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kaum Muda. Tampilkan semua postingan

22 November 2012

Pertemuan Umum Lampung 26-28 Oktober 2012




Pertemuan Umum Dewan Wilayah Lampung kali ini diadakan di Kotabumi (Lampung Utara) pada tgl. 26-28 Oktober 2012, mengambil lokasi di sekolah Slamet Riyadi. Pengurus Dewan Nasional juga hadir yang diwakili oleh Sdri. Linda & Winata.  Para peserta baik tua & muda sangat bersemangat mengikuti acara pertemuan ini, yang merupakan sarana untuk mencari dan berbagi pengalaman dalam pelayanan di SSV. Mereka semua berkumpul menjadi satu tidur & mandi pun bersama-sama di sekolah tsb.  

Di tengah cuaca yang sangat terik, para Vinsensian dari segala penjuru Lampung berdatangan dengan jumlah peserta hampir 230 orang. Waaooow... Baru kali ini kami melihat sebuah pertemuan dengan lingkup Dewan Wilayah namun peserta seperti sebuah Pertemuan setingkat Dewan Nasional.

Mengambil tema "Dengan Mengembangkan Jaringan Kasih & Persaudaraan Sejati, Semoga dapat meringankan beban penderitaan kaum miskin“, pertemuan dibuka dengan misa syukur oleh Rm. Agus Sayekti, Pr. Dalam kotbahnya, beliau mengingatkan bahwa generasi muda janganlah menjadi generasi yang loyo, namun dapat mengikuti yang namanya tanda-tanda jaman.
Sesi pada hari pertama diisi oleh Dewan Nasional dengan mengangkat spiritualitas tentang 4 pilar Serikat Sosial Vinsensius, yaitu : Iman, Karya, Persaudaraan, & Tertib Organisasi. Di mana dengan dasar 4 pilar inilah yang menjadi landasan pelayanan kita untuk para kaum miskin dapat merasakan persaudaraan & kasih yang berasal dari Yesus sendiri. Melalui sesi ini beberapa anggota Vinsensian diberi kesempatan untuk sharing, bagaimana mereka menjadi Vinsensian. Dimana dengan ikut SSV mereka bisa berjumpa dengan Yesus, diberikan berkat yg berlimpah, dan terutama semangat Persaudaraan yang belum pernah mereka jumpai di organisasi yang lain.

Read More..

01 Februari 2012

Menarik Kaum Muda

Saat ini di Indonesia berdasarkan data terakhir yang dimiliki Dewan Nasional SSV hanya ada sekitar 11 % dari total 350 konferensi yang beranggotakan anak muda. Kondisi ini perlu menjadi catatan tersendiri dalam pengembangan serikat di tanah air. Padahal bila melihat pada sejarah diawal pendiriannya tahun 1833 di Paris, motor penggerak SSV adalah para mahasiswa yang nota bene adalah kaum muda. Saat itu Ozanam bersama teman-teman mahasiswanya bangkit mulai bekerja untuk melayani orang miskin. Mereka begitu bersemangat dalam pelayanan, sesuai dengan jiwa dinamis yang menyertainya.


Problem yang dialami oleh SSV juga sering dihadapi oleh kelompok-kelompok kategorial yang lainnya. Apa penyebab dari kurangnya minat kaum muda untuk terjun di aktivitas sosial ? Perilaku Hedonisme yang berkembang di kalangan muda ditunjuk sebagai salah satu “kambing hitam”. Di kota-kota besar tumbuhnya mal-mall, pusat perbelanjaan serta hypermarket ikut mempengaruhi perilaku anak muda. Tayangan televisi dengan berbagai macam acara hiburannya banyak yang menampiljan pesan-pesan kemewahan, menggelontor setiap hari dalam waktu 24 jam. Selain itu perkembangan dalam dunia teknologi yang sangat pesat juga membuat berkurangnya hubungan sosial atau antar pribadi di masyarakat. Internet merupakan sesuatu yang bukan lagi aneh bagi anak muda dimana mereka bisa mencari informasi apapun disana selama 24 jam sehari.




Menyadari akan kondisi itu, maka akhir-akhir ini para anggota Dewan di tingkat daerah, wilayah maupun Nasional memberikan perhatian tersendiri kepada kaum muda di tanah air. Salah satu butir rekomendasi yang diputuskan dalam pertemuan tahunan 2008 di Sarangan - Magetan juga menegaskan bahwa sampai dengan tahun 2010 setiap Dewan Wilayah akan membentuk konferensi baru yang anggotanya khusus terdiri dari anak muda. Butir rekomendasi yang lain juga mengatakan bahwa akan ada pembinaan kaum muda di masing-masing Dewan Wilayah dalam tahun 2009.
Beberapa Dewan Wilayah telah dan mulai melakukan pembinaan untuk kaum muda itu.

Memang, menarik minat kaum muda dibutuhkan kesabaran. Dalam pertemuan baru-baru ini, seorang vinsensian muda menceritakan bahwa dia masuk SSV “tanpa terasa dijebak”. Melibatkan secara tidak langsung pada kegiatan-kegiatan SSV, tanpa menuntut banyak pada dirinya membuat ia akhirnya jatuh cinta pada SSV.

Kabar yang menggembirakan datang setelah Dewan Nasional menyelenggarakan TMKV (Temu Kaum Muda Nasional ) yang diadakan di Wisma Bethlehem – Malang Bulan Juli 2011 yang lalu. Bak “gelombang tsunami” antusiasme dari vinsensian muda menular ke daerah-daerah. Dimulai dari DD Surabaya, DD Klaten, Dewil Madiun, DD Yogya, Dewil Lampung semua berinisiatif mangadakan acara yang serupa dengan TMKV itu. Lalu tanpa dikomando, mereka membuat group “SSV Kaum Muda” di media sosial Facebook. Keberadaan group ini meramaikan group-group SSV. Ini merupakan sarana yang baik bagi berkembangnya SSV di tanah air.

Saat ini dari beberapa informasi mulai tampak tumbuh beberapa konferensi muda seperti di Madiun, Surabaya, Lampung, Klaten. Kemudian ada harapan konferensi muda juga tumbuh di Jember juga Banyuwangi. Nah …mari kita bina jiwa muda ini untuk berkarya dengan sesama.
Alangkah indahnya bila pertemuan kita banyak dihadiri oleh kaum muda. Mereka akan menjadi tulang punggung bagi karya SSV di masa yang akan datang.

Mengajak, mengundang dan melibatkan kaum muda adalah tugas kita bersama. Tidak hanya tugas Dewan Nasional, Dewan Wilayah ataupun Dewan Daerah, tapi ini tugas setiap vinsensian untuk merangkul anak muda dalam karya sosial. Sebuah tugas yang tak kalah pentingnya dengan pelayanan yang dilakukan oleh SSV itu sendiri….

Tuhan memberkati.
Erik

Read More..

23 Agustus 2011

SSV Bertumbuh Dewasa

Michael Thio, 66, baru saja memulai jabatannya sebagai ketua umum ke-15 dari International Confederation of the Society of St. Vincent de Paul (SSVP) atau yang lebih dikenal dengan SSV (Serikat Sosial Vinsensius). Terpilih dengan suara 87 persen pada 28 Mei, 2010 dalam Sidang Umum di Salamanca, Spanyol, pria asal Singapura ini merupakan orang Asia pertama dan orang non-Eropa pertama yang memimpin serikat kerasulan awam sedunia itu sejak didirikan 1833 di Perancis.


Thio secara resmi memulai tugasnya pada 27 September, pesta St. Vincent de Paul. Thio telah terlibat dalam SSV sejak 1967, pertama di Singapura, lalu di tingkat Asia, dan akhirnya di tingkat global. Dia berbicara dengan ucanews.com di Melaka, Malaysia, ketika menghadiri sebuah acara SSV tingkat nasional di sana.


ucanews.com: Apa artinya menjadi orang Asia pertama yang mengetuai SSV di tingkat internasional?


Setelah 177 tahun sejak didirikan, gerakan global di 146 negara itu untuk pertama kalinya memilih seorang ketua umum non-Eropa. Ini tak terduga dan merupakan sebuah momen sejarah bagi Serikat tersebut. Menurut saya, dalam perjalannya yang cukup lama, Serikat ini telah bertumbuh dan menjadi dewasa. Sementara negara-negara Eropa kini memiliki 30 persen keanggotaan, keanggotaan global dari Afrika dan Asia / Oceania mencapai 50 persen. Dan juga, secara individual, anggota di Eropa berkurang sementara anggota di Afrika dan Asia/Oceania terus meningkat. Ini merupakan suatu peralihan paradigma yang dilihat perlu dalam pertumbuhan dan perkembangan Serikat ini di luar Eropa.


Lingkungan demografis, politik, ekonomi, budaya, dan profesional di luar Eropa telah menghasilkan orang yang mampu untuk mengelola organisasi global. Kenyataan bahwa orang non-Eropa terpilih, ini menunjukkan bahwa demokrasi dan keterbukaan ada dalam Serikat ini, yang berani menghadapi tantangan dalam mengatasi kebutuhan orang miskin dan tertindas yang semakin meningkat di seluruh dunia. Serikat ini merupakan sebuah Serikat Katolik global yang benar-benar Kristiani.


Dewasa ini, kita ada di 147 negara yang tersebar di setiap benua. Kita beroperasi di bawah delapan wilayah, masing-masing dipimpin oleh Wakil Ketua Internasional Tingkat Teritorial (ITVP, International Territorial Vice President) yang memberi melapor untuk Dewan Umum Internasional,yang berpusat di Paris. Serikat ini kini menjadi salah satu kerasulan amal yang sangat bersemangat, bertumbuh, terkenal, dan disegani di dunia.


Sebagai ketua umum, apa rencana Anda untuk SSV?


Ketika terpilih Mei lalu, saya men-sharing-kan tujuan-tujuan saya sebagaimana tercatat dalam manifesta saya kepada Sidang Internasional di Salamanca. Tujuan saya, antara lain, meningkatkan pembinaan spiritual anggota, membina dan mengembangkan pemimpin untuk melayani orang miskin di abad ke-21, dengan terus meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan bagi orang miskin.


Saya juga ingin memusatkan perhatian pada orang muda dengan membuka kesempatan bagi mereka untuk ikut terlibat dalam pelayanan, mengembangkan komunikasi efektif guna meningkatkan pemahaman dan pengetahuan yang lebih baik tentang kegiatan dan karya Serikat, bekerjasama dengan berbagai organisasi Kristen lainnya dalam karya amal dan keadilan, dan memelihara hubungan yang dekat dan kuat dengan hirarki Gereja. Inilah tujuan manifesto untuk mendorong perkembangan Serikat untuk menerobos ke negara-negara baru guna memberi pelayanan kepada lebih banyak orang yang membutuhkan dengan suatu pandangan yaitu perubahan sistematis dari orang miskin yang kami layani dan bantu. Ini berarti membantu orang miskin untuk menjadi mandiri dan meningkatkan martabat kemanusiaan mereka.


Apa rencana Anda untuk pembinaan spiritual dan pelatihan para anggota


Pembinaan spiritual para anggota itu perlu dan fundamental untuk bertumbuh dalam kerasulan dan spiritualitas Vincentian. SSV merupakan organisasi kerasulan awam Katolik dan Kristus menjadi pusat dari semua yang kita lakukan. Karya amal Kristen merupakan cinta kita kepada Kristus dalam bentuk pelayanan kasih kepada orang lain. Inilah salah satu nilai penting dari Spiritualitas Vincentian kami.


Banyak Dewan Nasional memiliki program pembinaan dan pelatihannya sendiri. Tanggung jawab ada pada mereka untuk memiliki tim pembina yang bertanggungjawab atas program pembinaan dan pengembangan bagi anggotanya. Jika mereka membutuhkan bimbingan dan bantuan, mereka bisa memintanya pada Dewan Umum atau dari para Vincentian di negara-negara yang lebih maju dan dewasa dalam bidang ini. Pembinaan dan pengembangan, baik spiritualitas maupun kepemimpinan, merupakan proses berkelanjutan.


Komunitas macam apa yang perlu mendapat perhatian khusus SSV?


Ada banyak jenis “orang miskin baru” di berbagai negara dan itu tergantung pada kebutuhan. Mereka adalah orang-orang tidak bekerja dan dapat dipekerjakan, orang yang menderita kecanduan seperti alkoholisme, anak nakal, keluarga yang disfungsional, pengungsi dan orang-orang yang terpaksa kehilangan tempat tinggal lantaran bencana alam atau politik. Jenis pelayanan yang kami berikan juga tergantung pada kemampuan, keahlian, dan pengalaman dari para anggota kami di lokalitas tertentu.


Banyak konferensi SSV tidak memiliki orang muda sebagai anggota


Ini menjadi fenomena terutama di negara-negara maju. Gaya hidup, prioritas, dan tujuan kaum muda berbeda dari apa yang pernah dimilki orangtua dan leluhur mereka. Tidak hanya di sejumlah konferensi kami tetapi juga di Gereja-Gereja, kehadiran orang muda telah menurun jauh. Namun, di beberapa negara dunia ketiga dan sedang berkembang, orang muda masih sangat aktif dalam konferensi kami. Sebagai contoh, Serikat kami memiliki anggota muda yang sangat aktif di banyak negara di Amerika Selatan dan di beberapa negara Afrika dan Asia serta daerah Oceania. Kita tidak bisa membuat generalisasi bahwa orang muda yang tidak aktif itu ada di mana-mana di semua negara.


Dampak yang sangat positif dari Hari Kaum Muda se-Dunia (WYD, World Youth Day) yang dihidupkan kembali oleh Paus Yohanes Paulus II, cukup peka dalam membawa banyak orang muda dari seluruh dunia kembali ke Gereja dan terlibat dalam berbagai kerasulan. Banyak orang muda mulai bergabung konferensi SSV dan beberapa dari mereka mampu melakukan pekerjaan luar biasa. Kita perlu fokus pada orang muda dan mempercayakan program yang cocok bagi mereka dan memberi mereka kesempatan untuk terlibat dalam pertumbuhan dan kepemimpinan. Biasanya, sekitar tiga hari sebelum program WYD yang sebenarnya, SSV memberi program-program khusus untuk Kaum Muda Vincentian yang datang dari berbagai belahan dunia.


Oleh C.Y. Lai, ucanews.com, Melaka, Malaysia


.

Read More..

05 Juli 2011

Pertemuan Nasional Kaum Muda - SSV


Semangat muda yang bernyala-nyala tampak dalam wajah-wajah peserta TMKV 2011  (Temu Kaum Muda Vinsensian) yang diselenggarakan di Wisma BethlehemMalang. Acara yang diadakan tanggal 30 Juni s/d 3 Juli 2011 itu diikuti oleh 105 peserta kaum muda SSV (Serikat Sosial Vinsensius) yang berasal dari berbagai kota di Indonesia. Peserta ada yang datang dari Flores, Lembata, Alor, Kupang yang harus menempuh perjalanan selama 3 hari untuk datang ke tempat pertemuan. Sementara peserta dari Lampung harus melewati 2 hari dalam kendaraan yang mereka tumpangi. Bukan Main….suatu perjuangan yang cukup melelahkan, namun tidak mengurangi semangat dalam mengikuti acara yang digagas oleh Dewan Nasional SSV Indonesia.
Acara tersebut bertujuan untuk mengkader anggota SSV kaum muda agar mereka semakin terlibat dalam kehidupan serikat terutama dalam pelayanan kaum miskin. Selain Pengurus Dewan Nasional mereka juga didampingi oleh 4 Romo yaitu Romo Antonius Sad Budianto, CM, Romo Gigih Julianto CM, Romo Dr. Armada Riyanto CM dan Romo Sapto Adi CM. Mereka dibekali dengan berbagai hal yang terkait dengan pelayanan SSV kepada Kaum Miskin. Untuk lebih mengenal kehidupan orang miskin juga dilakukan Social Outing yang diadakan dibeberapa tempat seperti Sanggar Anak, Gempol, Bhakti Luhur dan Alun-alun kota Malang. Disana

Read More..

28 Maret 2011

Lebih Baik Dibohongi Orang Miskin

Suatu ketika bersama-sama teman-teman SSV, kami bertemu dengan seorang penderita HIV di sebuah rumah sakit milik Pemerintah. Pasien ini, sebut saja A, dalam pengakuannya terinfeksi virus HIV karena suntikan. Dia mengaku berasal dari Makasar dan di kota ini tidak ada keluarga sama sekali yang bisa dihubungi. Tidak begitu jelas bagaimana kisahnya, hingga dia bisa dirawat di rumah sakit ini, karena pengakuannya berbeda-beda.
Dia merasa bahwa pihak rumah sakit tidak begitu suka akan kehadirannya ditempat itu. Perawat bersikap sinis dan bahkan bersikap "kasar" terhadap dia, begitu keluhannya. Mungkin karena A dianggap tidak memiliki dana untuk pengobatannya. Singkat cerita, karena merasa kasihan, kami akhirnya berbagi tugas untuk melayani A. Ada yang datang membesuk di pagi hari, ada yang sore hari. Tiap hari ada saja yang kami bawakan untuk A. Selimut, makanan, sarung, baju dll. Itu kami lakukan dengan senang hati.


Sampai suatu saat A merasa bahwa harapan hidup baginya sudah tidak ada, maka ia berharap agar bisa dibantu untuk keluar dari Rumah Sakit dan pulang kembali ke tanah kelahirannya di kota Makasar.



Kami mendiskusikan permintaan A dan akhirnya diputuskan untuk mencari donatur yang bisa membantu rencana itu. Beberapa orang yang aku hubungi menyanggupi untuk memberi sumbangan. Bahkan istriku juga bersemangat untuk mencarikan tiket ke Makasar. Nah....untuk pertimbangan kemanusiaan, mengingat waktu yang mendesak, aku berinisiatif memberikan uang sekitar 3 jutaan ke A dengan maksud agar ia sendiri yang membayar hutang biaya pengobatannya. Harapan kami agar dia menjadi lebih percaya diri dihadapan petugas dan perawat RS. Uang itu sebenarnya masih uang pribadi, karena masih belum sempat bertemu para donatur. Setelah menerima uang tersebut, A bergegas ijin untuk mengurus administrasi keluar dari RS. Setelah ditunggu 1 jam lebih......eh ternyata A menghilang. Pihak administrasi RS juga menyatakan bahwa A tidak datang ke bagian administrasi. Lemaslah badanku.




Perasaan marah dan jengkel bercampur aduk menjadi satu. Kami merasa kesal. Ditipu oleh orang yang selama ini kami beri perhatian..... Umpatan dan makian keluar. Dalam hati kami menyadari kebodohan kami. Terlalu percaya dengan A. Dari informasi yang berhasil kami telusuri, ternyata dia juga menjadi buronan polisi di kota lain. Dia juga sering menipu kesana kemari.

Selama beberapa hari aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Hati ini begitu sakit, mengingat uang yang dilarikan adalah uang pribadi. Nilai uang itu sangat berarti bagi keluargaku. Peristiwa ditipu oleh orang miskin sudah pernah kami alami. Namun yang terakhir ini benar-benar membuat aku kecewa. Sampai terlintas dipikiranku, ....ah sebaiknya aku berhenti saja untuk berkarya di bidang sosial ini.

Sampai suatu saat aku diingatkan oleh seorang Romo tentang Vinsensius, seorang santo yang berasal dari Perancis. Vinsensius sangat dekat dengan orang miskin. Meskipun dia memiliki tugas rutin sebagai seorang imam, namun dia tetap memberikan waktunya untuk menolong dan mengunjungi orang-orang miskin. Hidupnya sangat bersahaja. Dia mencoba meneladani sang Guru Agung. Vinsensius pun pernah mengalami hal yang sama, namun dia tidak pernah berhenti untuk melayani sesamanya yang menderita. Ada kata-katanya yang patut untuk direnungkan "lebih baik aku ditipu oleh orang miskin, daripada aku tidak berbuat apa-apa ketika ada orang miskin yang meminta tolong."

Vinsensius tidak ingin peristiwa yang pahit itu menjadi halangan untuk menolong orang-orang lain yang barangkali betul-betul membutuhkan uluran tangan kita. Vinsensius ingin mengingatkan bahwa apapun yang terjadi, kita tetap harus concern untuk penderitaan mereka, walau kadang-kadang hal itu menyakitkan. Karena bagaimanapun mereka tetap bagian dari saudara kita. Merekapun ciptaan Allah yang maha kasih.

Aku sadar....kadang-kadang berbagai cara dilakukan bagi orang miskin untuk tetap bisa bertahan hidup. Banyak yang bisa tetap berada di jalur yang direstui oleh-Nya, meskipun hidup terasa berat. Namun, ada juga yang ingin mengatasinya dengan jalan pintas.

Hingga suatu hari.....
saat membaca sebuah majalah rohani nasional, ada sebuah artikel yang memuat kisah tentang A dari yang bersangkutan. Kisahnya memilukan dengan alur cerita yang luar biasa. Membaca kisahnya orang akan bersimpati. Disana ...rupanya sang wartawan tidak tahu apa yang sebenarnya telah dilakukan oleh A.

Namun.... belajar dari semangat Vinsensius, aku mencoba untuk memaafkannya.

Semoga Allah menyertai langkah hidupnya.

Oleh: Erik

Read More..

27 Juni 2010

Beato Frederic Ozanam - Pendiri SSV


Frederic Ozanam dilahirkan di Milan (waktu itu dibawah wilayah Perancis) pada tanggal 23 April 1813. Dua tahun kemudian keluarganya pindah ke kota Lyons dimana Frederic Ozanam tumbuh dewasa. Pada usia 15 tahun, Frederic Ozanam mengalami keragu-raguan akan kepercayaannya namun Abbe Noirot, seorang pastor dapat membimbingnya.

Frederic Ozanam masuk kuliah hukum di Sorbonne, paris pada tahun 1831. Pada waktu itu terdapat banyak orang anti Gereja dan beberapa orang yang masih percaya merasa takut dan tidak aman karena serangan orang-orang tersebut. Tetapi Ozanam yang bergabung dengan seorang guru dan beberapa temannya (Prof. Emmanuel Bailly, Paul Lamache, Felix Clave, Auguste Le tailandier, Jules Devaux dan Francois Lallier) merasa tertantang untuk menjawab serangan tersebut. Mula-mula mereka mendirikan suatu kelompok yang dinamakan Konferensi Sejarah, yaitu suatu kelompok yang membicarakan tentang agama dan sejarah.

Tetapi ejekan dari musuh-musuh Gereja dengan pertanyaan:”Mana perbuatanmu yang membuktikan kebenaran imanmu?”, membuat Frederic Ozanam dan teman-temannya menyadari bahwa konferensi sejarah belum berhasil menjawab usaha mereka. Maka pada tahun 1833, mereka membentuk konferensi cinta kasih dengan kegiatan mengunjungi dan membantu orang-orang miskin.


Yang menjadi ketua konferensi pertama adalah mahaguru mereka yaitu Prof. Emmanuel Bailly dan kemudian kelak menjadi ketua dewan-dewan yang pertama. Dua tahun kemudian yaitu 1835 lahir suatu perkumpulan yang telah mempunyai tujuan dan peraturan-peraturan, yang mempunyai nama Serikat Sosial Vinsensius (Society of St. Vincent de Paul). Pada tahun 1841 Frederic Ozanam menikah dengan Amelie Soulacroix, seorang yang mempunyai perhatian yang sama dengannya dan dari pernikahan mereka mempunyai seorang putri bernama Marie. Ozanam lulus sarjana Hukum dan berpraktek di Lyons hingga menjadi mahaguru (professor) pertama di bidang hukum dagang di universitas tersebut. Tetapi ia menyadari bahwa bakat dan minat sesungguhnya terdapat di bidang pendidikan dan kesusastraan asing. Maka ia kembali kuliah kesusastraan di Universitas Sorbonne dan memperoleh gelar pada tahun 1835, gelar doctor pada tahun 1839 dan menjadi mahaguru di bidang kesusasteraan asing pada usia 31 tahun.

Di samping kehidupan Ozanam dalam dunia akademis, ia terus menerus bertugas melayani Gereja dan pengabdiannya yang penuh pada perkembangan Serikat Santo Vinsensius. Ia juga banyak menyumbangkan karyanya dan menjadi editor bulletin sosial dan majalah katolik yang terkenal. Ia bertindak sebagai penghubung antara dewan-dewan di Paris dan Lyon dan menjadi tuan rumah dalam pertemuan–pertemuan untuk kepentingan Gereja. Sayang karena fisiknya yang lemah dan penyakitnya berangsur-angsur melemahkan kekuatan dan tenaganya. Ozanam meninggal dunia di Marseilles pada tanggal 8 September 1853 di usia 40 tahun.

Proses pengajuan beatifikasi Frederic Ozanam telah dimulai tahun 1925. Tepat pada peringatan perayaan 160 tahun berdirinya SSV, yaitu tanggal 27 April 1993 di depan anggota-anggota SSV yang berkumpul di Roma Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II berkata:”Kita harus berterima kasih kepada tuhan atas berkah anugerah yang telah diberikan kepada Gereja, dengan adanya Ozanam. Suatu keajaiban yang luar biasa, dihasilkan dari karya Ozanam terhadap Gereja, masyarakat, dan orang miskin. Mahasiswa ini, Profesor ini, Bapa para keluarga ini, telah menimbulkan suatu keyakinan keluarga ini, telah menimbulkan suatu keyakinan keluarga ini, telah menimbulkan suatu keyakinan keluarga ini, telah menimbulkan suatu keyakinan yang kuat dan kasih sayang yang tiada henti. Namanya tidak lepas dengan nama St. Vinsensius a Paulo.... Bagaimana kita tidak akan berharap bahwa Gereja akan juga menempatkan Ozanam di antara orang-orang suci dan para Santo?”

Pada tanggal 6 Juli 1993, dihadiri oleh Mr. Amin A. De Tarrazi, Ketua Dewan Umum/Internasional SSV, Rev. Fr. Gioseppe Guerra, dari Kongregasi Misi (CM); para Postulator; Monsignor Luigi Porsi, Advocate; dan suster Maria Antonia Di Tano, PK; Bapa Suci mengumumkan suatu keputusan mengenai kebijakan Frederik Ozanam. Keputusan tersebut berarti bahwa Frederic Ozanam, pendiri utama SSV adalah “layak untuk dimuliakan”.Dengan pernyataan Bapa Suci tersebut, nampaknya jalan telah terbuka terhadap usaha-usaha yang berhubungan dengan proses beatifikasi Frederic Ozanam. Proses beatifikasi tersebut telah melalui usaha-usaha bertahun-tahun yang tidak mengenal lelah dengan doa-doa para anggota SSV dan harapan-harapan yang penuh dengan kesabaran, kini tampaknya telah menunjukkan suatu harapan.

Ucapan Frederic Ozanam yang terkenal adalah “saya ingin merangkul dunia dengan suatu jaringan cinta kasih.” Pada tahun 1993, Serikat impian Frederic Ozanam yang tersebar di 125 negara di seluruh dunia.

Read More..

Melibatkan Kaum Muda dalam Pelayanan




Sebagaimana panggilan pertama Serikat menyentuh dan menggerakkan kaum muda, maka Serikat senantiasa mengajak dan menggerakkan kaum muda untuk peka terhadap panggilan Tuhan, mewujudkan imannya dalam tindakan nyata melayani orang miskin dengan penuh kasih dan persahabatan. Dengan demikian mereka menghadirkan kasih Allah sendiri bagi orang yang paling terlantar dan menderita. “ Di sekitarmu ada banyak anak muda. Betapa penting dan meneguhkan bagi hati muda mereka untuk menunjukkan pada mereka Yesus Kristus. Bukan dalam lukisan karya pelukis agung, bukan pula di altar yang gemerlap oleh emas dan cahaya, namun untuk menunjukkan kepada mereka Yesus Kristus dan luka-lukaNya dalam diri orang miskin” (Beato F. Ozanam)

Read More..

30 Maret 2010

Berjumpa Sesama Lewat Bhakti Luhur






Bersama Romo Iswandir, CM, sebanyak 11 orang pengurus dan eks pengurus konferensi mahasiswa St. Benoit Labre – Surabaya melakukan refleksi bersama di Biara Suster Passionis - Malang. Acara yang digelar tgl. 13-14 Maret 2010 itu bertujuan untuk menumbuhkan kebersamaan dan semangat pelayanan para pengurus. Hari Sabtu malam diisi dengan Pembekalan yang diberikan Romo Iswandir, CM. Dilanjutkan dengan sharing pengalaman dari pengurus Dewan Nasional selama terlibat di SSV.
Yang menarik dari rangkaian refleksi tersebut adalah acara kunjungan ke Bhakti Luhur pada hari Minggunya. Saat mengikuti Misa didalam kompleks Bhakti Luhur, kami dikejutkan dengan kehadiran sebagian peserta misa yang memiliki cacat fisik. Hati kami terasa ditusuk melihat berbagai macam penderitaan yang dialami oleh para asuhan disana. Terutama melihat anak-anak dari berbagai kalangan. Ada yang menderita Celebral Palsy, ada yang punya kaki dan jari dengan ukuran besar (mirip kaki gajah), ada yang tidak punya tangan dan kaki, ada yang buta, ada yang tidak bisa menegakkan kepala dan banyak lagi.
Kami tersentuh dengan ketabahan mereka.

Meskipun kondisi fisik yang tidak memungkinkan, namun sebagian besar masih bisa mengikuti Misa dengan baik. Misa yang dipimpin oleh Romo Gigih, CM dan Romo Iswandir, CM itu terasa mengharukan. Kunjungan ke Bhakti Luhur sebenarnya bukan yang pertama kali kami lakukan dan berjumpa dengan para penghuninya, namun mengikuti Misa dengan mereka baru kali ini kami alami. Ada berbagai macam perasaan yang bercampur aduk. Terharu, karena melihat penderitaan yang mereka rasakan. Bersyukur, karena Tuhan memberi kami fisik yang mendekati sempurna dibandingkan mereka. Bahagia karena bisa berdekatan dan bersama-sama mereka memuji Tuhan.
Selesai Misa, kami diajak berkeliling melihat dari dekat wisma-wisma tempat tinggal mereka bersama bu Yayuk. Kami sangat tersentuh melihat seorang anak yang bernama Hendra. Hendra merupakan penderita autis yang saat ini berusia 12 tahun. Akibat sering memukul kepalanya sendiri, tangannya oleh para perawat Bhakti Luhur terpaksa diikat kebelakang dengan kain. Siang itu kami juga melihat dia membawa kemana-mana kursi dibadannya. Oleh orang tuanya dia dititipkan disana sejak kecil.
Ada lagi gadis cilik berusia 8 tahun. Intan panggilannya. Meskipun tampak ada perbedaan dengan anak-anak diusianya, ia tampak terlihat cantik. Wajahnya yang imut-imut menimbulkan iba bagi siapa saja yang melihat. Terlebih bila mendengar cerita latar belakang sampai ia disana. Seakan-akan orangtuanya sudah tidak menghendaki dia lagi. Duh…gusti kasihan sekali anak ini.
Ada pula ibu-ibu dan nenek-nenek yang menempati wisma terpisah. Beberapa dari mereka sudah tidak pernah dikunjungi lagi oleh keluarganya. Ada yang masih berusaha mengingat-ingat anggota keluarganya. Namun ada juga yang sudah lupa melupakan keluarganya. Bahkan ada yang tidak suka ketika didekati. Seakan ada trauma mendalam yang dialami.
Saat ini anggota asuh ada kurang lebih 300 orang yang tinggal di Bhakti Luhur. Sedangkan para perawat dan sukarelawan yang bertugas dan sedang belajar mencapai 500 orang. Suatu angka yang besar. Untuk kebutuhan beras saja sebulan mereka membutuhkan kurang lebih 8 ton.
Kami juga belajar banyak dari para perawat dan suster yang bertugas disana. Para sukarelawan itu hidup sehari-hari bersama mereka tanpa dibayar. Mereka tampak tahu betul masalah dan cara mengatasi masing-masing orang yang menjadi tanggung jawabnya. Mereka melayani dengan penuh sukacita. Ada pula yang menjadi suster atau perawat setelah mereka sendiri pernah tinggal disana sewaktu kecil. Apa yang mereka lakukan menjadi teladan bagi kami dalam melayani para anggota asuh SSV.
Siang itu kami mensharingkan apa yang dijumpai di Bhakti Luhur. Masing-masing dari kami menceritakan perasaan, pengalaman yang didapat dari perjumpaan dengan anggota asuhan Bhakti Luhur. Bertemu dengan mereka, membuat kami, para pengurus Benoit Labre, merasa disegarkan dan disemangati.
Kami berjanji untuk melayani anggota asuh kami dengan lebih baik…….semoga.

Read More..

21 Juni 2009

500 ribu anak muda menghadiri World Youth Day 2008



Setelah acara Famvin di Bathurst, Australia berakhir (9-13 Juli 2008), semua peserta berangkat menuju ke Sydney dengan menggunakan 7 bus besar untuk mengikuti WYD 2008. Sesuai rencana, para peserta Famvin akan makan siang bersama di komplek gereja St. Vincent di daerah Ashfield. Setelah makan siang, peserta akan diantar ke tempat dimana kita akan menginap selama mengikuti WYD 2008. Untuk acara WYD, kami minus Romo Tetra CM menginap di De La Salle College sekitar 1 menit berjalan kaki dari gereja St. Vincent dan 5 menit berjalan kaki dari stasiun kereta Ashfield. Kami mendapat satu ruang kelas untuk bertujuh. Akomodasi jauh berbeda dengan di Famvin yang sangat terjamin, kami tidur di lantai dengan sleeping bag, gak ada heater, kamar mandi terbatas, tapi konsumsi tetap terjamin lho. Untuk acara WYD, setiap peserta yang ikut disebut pilgrim atau peziarah. Berdasar informasi yang aku peroleh, WYD 2008 diikuti oleh 170 negara dengan jumlah peserta mencapai 500 ribu orang. Acaranya terdiri dari acara umum dan pilihan. Acaranya cukup beragam seperti misa, katekese, jalan salib, adorasi, pengakuan dosa, konser musik, pemutaran film, pameran dan masih banyak lagi. Setiap hari kita harus membuat program acara untuk hari berikutnya dan yang menjadi patokan adalah acara umum, sehingga kita menyesuaikan acara pilihan kita. Tapi yang paling aku tunggu-tunggu adalah bertemu dengan Paus Benediktus XIV. Selama WYD berlangsung, setiap peserta mendapat pilgrim passport yang berfungsi sebagai ID card, kupon makan, tiket gratis kereta CityRail dan bus kota ke venue- venue acara. Jadi mobilitas kita sangatmudah dan cepat. Acaranya cukup padat, setiap hari acara dimulai jam 06.30 pagi dan kita harus kembali ke penginapan diberi batas waktu sebelum jam 12 malam, karena seluruh transportasi baik CityRail maupun bus kota akan berhenti beroperasi pada jam tersebut. Dalam rangkaian acara WYD 2008, kami mengikuti beberapa acara gathering seperti Indonesian Gathering dan St. Vincent de Paul Society International Youth Gathering. Kami mengikuti Indonesian Gathering bersama peserta WYD lainnya yang berasal dari Indonesia dan masyarakat Indonesia yang bermukim di Australia, sekitar 2000 orang hadir dalam acara tersebut baik muda maupun tua. Khusus SSV Indonesia, kami bertiga mendapat undangan untuk mengikuti St. Vincent de Paul Society International Youth Gathering, disini kami bertemu lagi dengan anggota SSV dari seluruh dunia yang sebagian besar juga ikut acara Famvin. Kami diajak mengikuti berbagai presentasi tentang: SSV, Salamanca Meeting, kaum muda, karya sosial SSV seperti pendampingan anak, kunjungan dan bantuan bencana tsunami dari beberapa negara. Acara ini dihadiri oleh Barbara Ryan ( Ketua SSV negara bagian New South Wales), John Falzon (Ketua Denas SSV Australia) dan Jose Ramon Diaz Torremocha (Ketua Dewan Umum SSV). Meskipun acara padat, kami sempat mengunjungi Opera House dan cari oleh-oleh, kapan lagi bisa ke Australia he.....he....... Selama mengikuti WYD kita dapat jatah makan 3 kali dari panitia, untuk menu makan pagi dan siang perut kita masih bisa terima tapi kalau untuk menu makan malam kita gak berani makan soalnya rasanya aneh. Untuk makan malam kita biasanya bikin mie instant di penginapan atau kalau pas pengin makan nasi kita hunting masakan Indonesia di China Town. Jauh-jauh ke Australia makannya apa? Tetap menu lokal Indonesia seperti nasi goreng, nasi uduk, nasi kuning, gado-gado dll. Untung dech, meskipun rasanya agak beda tapi cukup menghibur. O, iya ada satu cerita yang menggelikan selama WYD berlangsung. Kalo di Indonesia kita bisa mandi 2 sampai 3 kali sehari. Tapi selama di WYD kita hanya bisa mandi sehari sekali. Bukan karena terbatasnya air dan shower atau udara dingin, tapi lebih dikarenakan jadwal kegiatan yang sangat padat serta menguras tenaga yang kita ikuti setiap hari. Maka untuk mensiasatinya, kami mandi sehari sekali pada malam hari menjelang tidur. Untuk pagi hari? Mana mungkin kita bisa bangun pagi untuk mandi, jadi cukup cuci muka dan sikat gigi beres dech. Maklumlah kita baru tidur sekitar jam 1 – 2 pagi setelah kita mengevaluasi kegiatan kita hari itu dan doa malam dalam satu kelompok, dan pagi jam 6.30 kita harus segera keluar dari ruang tidur untuk memulai aktivitas kita. Hari terakhir menjelang misa penutupan bersama Paus Benediktus XIV, semua peziarah berkumpul di North Sydney untuk memulai perjalanan kita ke Randwick tempat diselenggarakannya misa penutupan. Untuk acara ini kita wajib membawa peralatan perang seperti jaket, syal, sarung tangan, sleeping bag, makanan dan minuman. Seluruh peserta berjalan kaki menuju ke tempat acara. Spektakuler!!!! Karena ratusan ribu peziarah berjalan kaki bersama-sama melalui rute yang sudah ditentukan panitia. Kami sama sekali tidak merasa lelah karena kami melewati tempat-tempat yang indah dan belum pernah kita lihat dari dekat, apalagi pada saat kita melewati Harbour Bridge yang menjadi ikon kota Sydney. Dari situ kita bisa melihat Opera House ikon kota Sydney yang lain dari arah yang berbeda dan melihat pemandangan kota Sydney yang penuh dengan gedung-gedung tua yang terawat baik dan gedung bertingkat yang tertata rapi. Ternyata kota Sydney dibangun dengan konsep satu kesatuan yang direncanakan dengan matang. Selama perjalanan itu peserta WYD disambut dengan sukacita oleh warga setempat dengan lambaian tangan. Tak hanya sambutan positif yang kami terima tapi beberapa demo negatif juga kami jumpai di beberapa lokasi. Tapi para peserta WYD tidak mempedulikannya. Selama perjalanan, secara berkelompok para peserta berdoa jalan salib, doa rosario dan menyanyi lagu-lagu pujian. Apalagi kami satu kelompok Kevin, berjalan beriringan dengan teman-teman dari Meksiko yang membawa alat musik lengkap dan bernyanyi di sepanjang jalan, pokoknya full music dech. Oh betapa indahnya..... dan betapa eloknya....... bila saudara seiman....... hidup dalam kesatuan....., begitulah kira-kira gambaran suasana saat itu yang aku rasakan. Kurang lebih 3 jam perjalanan kita sampai di Randwick sekitar pukul 5 sore. Ya, hari itu semua peserta WYD akan tidur di lapangan. Cuaca saat itu cukup dingin. Malam harinya kita mengikuti ibadat malam yang dipimpin langsung oleh Paus Benediktus XIV, kita berdoa sambil menyalakan lilin. Kemudian acara dilanjutkan dengan konser musik sampai jam 10 malam. Pagi harinya kita persiapan untuk misa penutupan, setelah makanpagi, kami bersiap-siap menyambut kedatangan Paus, dengan mobil kebesarannya, Paus berkeliling lapangan dengan pengawalan ketat untuk memberi salam dan memberkati kaum muda yang hadir. Suatu pengalaman yang gak akan aku lupakan bisa melihat Paus dalam jarak dekat meskipun Cuma beberapa detik. Misa berlangsung sekitar 3 jam. Setelah misa selesai kami kembali ke penginapan untuk persiapan pulang ke Indonesia. World Youth Day 2008 yang diselenggarakan di Sydney, Australia ini berjalan dengan sukses dan lancar. Sungguh sebuah pengalaman terindah dan tidak terlupakan bisa berkumpul dengan kaum muda dari seluruh penjuru dunia. Kami tidak melihat perbedaan warna kulit, status social ataupun masalah politik, tapi aku hanya melihat persaudaran, persahabatan, kegembiraan. Meskipun kami tidak bisa mengenal secara personal, tapi Tuhan Yesus punya kuasa untuk menyatukan kami dalam acara tersebut. Sungguh, Tuhan membuat kita menjadi gila, gila akan persahabatan, persaudaraan dan perdamaian. God is good all the time, all the time God Is good.Terima kasih saya sampaikan kepada Dewan Nasional atas kepercayaan, dukungan dan kesempatan yang diberikan kepada kami untuk mengikuti WYD 2008. Buat Vinsensian muda ayo segera bergabung dalam kegiatan SSV ditempatmu. Siapa tahu World Youth Day berikutnya yang akan dilaksanakan di Madrid, Spanyol, kamu yang terpilih untuk mewakili SSV Indonesia.


By : Ferdinan Wahyu Aria - DD Magetan

Read More..

Family Vincentian - 2008 di Australia





Pada tanggal 9 – 13 Juli 2008 yang lalu, saya mengikuti acara Famvin (Keluarga Vinsensius) 2008 yang diselenggarakan di Bathurst, Australia. Saya berangkat ke Australia bersama Devina (DD Bandung) dan Josi (Denas). Kami bertiga berangkat dari Bandara Juanda, Surabaya pada hari Selasa, 8 Juli 2008. Pesawat yang kami tumpangi berangkat pada Pk. 17.00 WIB menuju Denpasar, Bali untuk transit untuk selanjutnya berangkat menuju Sydney, Australia pada Pk. 23.55 WITA. Sesampainya di Sydney International Airport, ternyata kami sudah dijemput oleh salah seorang panitia yaitu Bec Bromhead.
Setelah berkenalan, kami menuju kantor SSV Australia untuk beristirahat sambil menanti kedatangan teman-teman SSV dari negara lain yang kedatangannya dikoordinir oleh SSV Australia. Saat di Kantor SSV Australia, kami diberikesempatan untuk sarapan pagi dan berkenalan dengan Vinsensian muda dari negara lain yang sudah datang sebelum kami. Menjelang makan siang seluruh peserta diajak berjalan-jalan menuju sebuah mall, kami diberi kesempatan untuk belanja keperluan kami masing-masing. Setelah belanja kami diajak makan siang di food court di mall tersebut. Setelah belanja dan makan siang, kami kembali ke kantor SSV Australia untuk persiapan berangkat ke tempat dimana akan dilangsungkannya acara Family Vincentian.
Pada Pk. 14.00 waktu Sydney, kami berangkat ke tempat acara dengan menumpang bus yang sudah disiapkan oleh panitia. Famvin dilaksanakan di Bathurst Region, sekitar 3 jam dari Sydney dan diikuti oleh 31 negara termasuk Indonesia dengan jumlah peserta sekitar 300 orang. Delegasi Indonesia berjumlah 8 orang terdiri dari SSV 3 orang, JMV 2 orang, PK 2 orang dan CM 1 orang. Meskipun satu delegasi, kami dari Indonesia tidak berangkat bersama-sama .
Sesampainya di Bathurst, kami baru tahu kalau seluruh peserta menginap di asrama St.Stanislaus’ College. Pada saat registrasi kami mendapat ID card, mini bagpack dan kaos. Panitia juga menyiapkan perlengkapan untuk musim dingin bagi peserta secara cuma-Cuma seperti syal, sarung tangan, dan penutup kepala. Setelah itu kami menuju kekamar untuk beristirahat dan persiapan pribadi menjelang acara pembukaan. Sebelum acara pembukaan kami makan malam bersama. Wow! Sungguh luar biasa, hampir seluruh peserta sudah hadir, tapi delegasi Indonesia yang lain mana ya? Disitu kami berkenalan satu sama lain, pengalaman yang sangat berarti buat kami. Pada saat berkenalan banyak orang yang mengira kami orang Filipina, wah Indonesia kemana nich? Memang untuk acara Famvin sendiri, delegasi dari Filipina cukup besar sekitar 50 orang coba bandingkan dengan delegasi. Indonesia yang hanya 8 orang itupun kami belum bertemu satu sama lain di makan malam tersebut.
Acara pembukaan diawali dengan tarian selamat datang dari suku Aborigin, pengenalan logo Famvin 2008, penyalaan lilin oleh organisasi/tarekat yang mempunyai semangat Vinsensius dan dari negara-negara yang ikut serta dalam acara tersebut. Saat itu saya mewakili Indonesia
dalam penyalaan lilin. Tema dari Famvin 2008 ini adalah “Experience Family, Witness and Mission, God’s Story and Ours”.
Hari kedua, acara dimulai dengan makan pagi pada Pk. 06.30 waktu setempat. Setelah doa pagi, kemudian dilanjutkan dengan presentasi oleh Romo Richard Benson, CM tentang visi dan misiSanto Vinsensius terhadap kaum miskin. Untuk informasi, kami dibagi dalam beberapa kelompok kecil dengan anggota sekitar 10 orang. Ada 3 pertanyaan yang menjadi bahan diskusi kelompok:
1. Apa saja 3 karakter terpenting dari Santo Vinsensius bagi kita dan mengapa?
2. Dapatkah visi Santo Vinsensius mengubah kehidupan kita?
3. Bagaimanakah cara mengenalkan Santo Vinsensius dan visinya kepada teman sebaya kita?
Setelah diskusi session 1 selesai , acara diselingi dengan ice breaking. Presentasi yang kedua disampaikan oleh Sr. Chaterine Salani, PK tentang Santa Louise De Marillac dan peransertanya dalam melayani kaum miskin. Presentasi ini cukup menyegarkan karena dikemas dengan ringan tapi cukup mengena. Ada pertanyaan refleksi yang diberikan untuk bahan diskusi: Dukungan atau faktor apa saja yang kita butuhkan untuk hidup dengan hati? Dalam perjalanan rohani kita? Dalam pelayanan kita kepada kaum miskin? Dalam pemahaman tentang Sejarah Santo Vinsensius?
Setelah makan siang seluruh peserta berkumpul di ruang registrasi, sesuai jadwal kami akan mengikuti acara “Justice Pilgrimage” semacam napak tilas. Peserta dibagi dalam beberapa kelompok besar. Delegasi Indonesia tergabung dengan Filipina,Thailand, Myanmar, Fiji, Bangladesh, Sri Lanka dan Ethiopia. Setelah mendapat pengarahan dari panitia, kami diberangkatkan dengan jeda 5 menit tiap kelompok.Selama napak tilas kami berhenti di 5 pos dan mendapat materi yang berbeda-beda. Rute perjalanan ini kurang lebih 5 km mengeliling kota Bathurst yang cukup indah. Cuaca di Bathurst saat itu sangat dingin sempat minus 2 derajat. Meskipun cuaca dingin dan rasa lelah menyerang, kami sangat menikmati acara tersebut. Setelah makan malam kami semua menuju ke gedung olahraga yang berada di komplek St.Stanislaus’ College, ternyata di sana telah siap sebuah grup musik tradisional yang siap menghibur kita.
Acara ini dinamakan bush dance, karena kami disini diajak berdansa ala Kate Winslet dan Leonardo Dicaprio di film “Titanic” itu lho, seluruh peserta berdansa bersama-sama dengan musik yang energik. Heboh dan bener-bener hilang rasa dinginnya, malah semua peserta melepas peralatan perangnya seperti jaket, syal dan sarung tangan karena kepanasan.
Hari ketiga setelah sarapan dan doa pagi, kami mengikuti Sesi 3 tentang Frederic Ozanam, Sr. Rosalie Rendu dan latar belakang terbentuknya SSV yang dibawakan oleh DR Andy Marks dari SVDP. Setelah break acara dilanjutkan dengan sesi ke 4 tentang Santa Catherine Labour yang dibawakan oleh Anna Maria P. Escano dari JMV Filipina. Setelah makan siang kami berkumpul di Marble Hall tempat dimana kita melakukan registrasi. Kami akan mengikuti acara social outing, untuk acara ini peserta dibagi dalam 3 kelompok besar. Saya berada di kelompok B, sedang Josi dan Devina berada dikelompok C. Kelompok B saat itu dijadwalkan mengunjungi museum tambang emas.
Kami berangkat dengan menumpang 2 bus besar, cuaca saat itu sangat cerah apalagi pemandangan disepanjang perjalanan sangat indah, di dalam bus kami berkesempatan untuk mengenal lebih dekat teman-teman dari negara lain. Sampai dilokasi kami dipandu oleh seorang guide. Kami diajak berkeliling lokasi bekas tambang emas tersebut, mencoba beberapa peralatan yang digunakan untuk menambang, mencoba mendulang emas dan melihat jenis-jenis bebatuan yang ditemukan di tempat tersebut. Sungguh pengalaman yang luar biasa dan tidak akan terlupakan. Sekitar 2 jam kami berada disana dan kita harus kembali ke tempat penginapan untuk mengikuti misa.
Setelah makan malam, seluruh peserta berkumpul di PAC tempat dimana kita selama ini mengikuti presentasi. Malam itu kami diberi kesempatan untuk melakukan pengakuan dosa. Sebelum pengakuan dosa, panitia memutar slide dan diiringi lagu yang membantu kita untuk merenung dan bermeditasi. Tiap peserta yang telah melakukan pengakuan dosa menyalakan lilin yang menjadi simbol terang bagi diri kita.
Hari keempat setelah sarapan, kami mengikuti misa pagi, kemudian dilanjutkan dengan diskusi dengan kelompok kecil tentang menjadi Vinsensian sejati, disini kami sharing pengalaman tentang karya Vinsensian di negara masing-masing. Setelah break kami berkumpul dalam delegasi negara masing-masing untuk berdiskusi tentang panggilan untuk beraksi dan hasilnya disampaikan kepada forum. Sebelum makan siang, panitia mengadakan ice breaking, saat itu Indonesia yang kebagian tugas untuk memimpin. Saya dan Windhidari JMV Indonesia memimpin acara tersebut. Kami mengajak para peserta untuk bernyanyi “Train of Love” sambil melakukan gerakan. Ternyata para peserta sangat antusias dan bergembira dengan persembahan kami, bahkan beberapa peserta meminta dibuatkan catatan syair lagunya. Hidup Indonesia !!!
Setelah makan siang kami mengikuti acara social outing, hari itu kelompokku mengunjung peternakan dan rumah pemotongan hewan. Disini kami melihat jenis-jenis hewan ternak yang ada di Australia, melihat cara memotong bulu biri-biri, cara memerah susu dan berkeliling peternakan yang cukup luas dengan naik traktor.Di sini juga ada kangguru yang diternakan lho. Setelah puas kami kembali ke penginapan untuk mengikuti doa novena / rosario. Setelah makan malam kami melakukan persiapan untuk acara malam. Panitia mengadakan malam International Festival, masing–masing delegasi diberi kesempatan untuk tampil. Delegasi Indonesia menampilkan Tari Merak yang dibawakan oleh Sr. Kristi PK, Sr. Stefani PK, dan Windhi dari JMV, sedang aku, Josi, Devina dan Juanli dari JMV, memakai pakaian tradisional sedangkan Romo Tetra CM jadi fotografer kami. Antusiasme peserta yang lain sangat bagus lho. Setelah tampil kita bagi-bagi souvenir ke audience. Acara tersebut berlangsung sangat meriah. Kami berfoto bersama dengan negara-negara lain dan bertukar souvenir.
Hari kelima, setelah sarapan, kami mengikuti misa penutup yang dipimpin oleh Romo Gregory Gay, CM. Misa diawali dengan perarakan bendera negara-negara peserta, dari Indonesia diwakili oleh Juanli dari JMV. Misa tersebut berlangsung sangat meriah apalagi tiap-tiap negara ambil bagian dalam misa tersebut. Delegasi Indonesia mendapat tugas untuk doa umat multibahasa, dari Indonesia diwakili oleh Devina dan kita juga menyanyikan lagu Kudus dalam bahasa Indonesia.
Misa yang panjang itu terasa singkat karena kami bergembira dan bersemangat dalam mengikutinya. Setelah misa, kami makan siang dan dilanjutkan dengan acara social outing, kelompokku saat itu mendapat tugas untuk menjadi sukarelawan lingkungan untuk melakukan penanaman pohon disekitar kota Bathurst. Kami diajari cara menanam pohon dan melakukan penanaman di lokasi yang telah ditentukan. Malam hari setelah makan malam, di lapangan St.Stanislaus’ College diadakan Bathurst Diocesan Festival yaitu konser musik dan pameran.
Tapi malam itu rata-rata peserta Famvin tidak mengikuti acara itu sampai selesai karena harus berkemas-kemas untuk berangkat ke Sydney keesokan harinya untuk mengikuti acara World Youth Day 2008.
Dengan ikut acara FamVin 2008, aku makin merasa kecil, ternyata yang aku lakukan di SSV selama ini belum ada apa-apanya dibanding dengan yang dilakukan oleh teman-teman dari negara lain. Suatu sharing pengalaman yang cukup berguna buat aku. Lama atau tidaknya kita ikut SSV bukan suatu jaminan kita total dalam pelayanan, tetapi kesungguhan kita dalam melayani kaum miskinlah yang diharapkan. Dengan mengikuti acara ini aku makin tertantang dan makin bersemangat dalam melayani kaum miskin.
Dalam konteks kaum muda memang kita harus memberi perhatian lebih dalam pembinaan kaum muda. Ada satu pengalaman yang membuat saya berpikir, ada beberapa orang yang bisa saya katakan sudah tua, ikut dalam acara FamVin, setelah ngobrol beberapa saat, aku baru tahu kalau salah satu dari mereka adalah Ketua Denas SSV dari sebuah negara di ASEAN. Beliau cerita kalau mereka kesulitan dalam merekrut kaum muda jadi terpaksa yang berangkat ketua Denasnya. Kasihan deh tu bapak. Begitu susahkah mengajak kaum muda untuk terlibat dalam SSV ataukah ada sesuatu yang salah dengan regenerasi dalam organisasi kita. Bagaimana Bagaimana dengan SSV Indonesia? Kalau dari segi pembinaan dan perekrutan kaum muda, Indonesia tidak kalah dengan negara lain bahkan hasil sharing pengalaman dengan negara lain, mereka memuji kita karena kaum muda Indonesia banyak terlibat dalam kegiatan SSV. Tapi apakah itu sudah merata di semua konferensi?
Kita memang tidak bisa mengharapkan buah matang secara instant, tetapi harus dipupuk, disirami dan dirawat secara berkesinambungan dan terus-menerus seperti kita dalammengenalkan SSV dan semangat Vinsensius kepada kaum muda. Hasilnya mungkin tidak seperti yang kita inginkan tetapi kita harus tetap berusaha dan bersemangat dalam pembinaan kaum muda. Semangat!!!

By : Ferdinan Wahyu Ariya (DD Magetan)

Read More..

11 Mei 2009

Bakti Sosial di Ngrambe - Ngawi






Mencari Yesus dalam diri orang miskin. Itulah yang dikerjakan oleh sebagian anak muda yang melakukan acara Bakti Sosial pada tgl. 10-11 Januari 2009 di stasi Ngrambe kabupaten Ngawi. Enam Konferensi muda di Surabaya bekerjasama melayani para sepuh yang menderita. Konferensi yang terlibat itu adalah St. Benoit Labre – Kristus Raja, Bunda Teresa - Kenjeran, St. Stanislaus, St. Catarina Labore, St. Dominikus Savio dan St. Yakobus - Kepanjen. Para peserta sebanyak 60 orang berangkat bersama dari paroki St. Marinus Yohanes - Kenjeran pkl. 14.00 dengan menggunakan 2 bus, 1 truk dan 2 mobil. Sampai di Ngrambe pkl. 21.00 malam para vinsensian muda itu disambut senyum ramah dari rekan-rekan vinsensian Ngawi. Kegiatan malam hari tersebut diawali dengan misa oleh Romo Iswandir, CM Setelah misa para Vinsensian berkumpul untuk ramah tamah dengan tuan rumah. Ketua DD Ngawi, Bpk. Agus, pada kesempatan itu memperkenalkan para pengurus Dewan daerah dan beberapa konferensi yang ada disana. Beliau menyampaikan terima kasih atas perhatian yang diberikan oleh rekan-rekan muda tadi. Malam itu para peserta tidur beramai-ramai di ruang bangsal. Kelelahan akibat perjalanan panjang membuat sebagian dari mereka bisa menikmati istirahat malam itu.
Keesokkan harinya bakti sosial dilakukan dirumah salah seorang umat yang sering digunakan untuk acara-acara sosial kemasyarakatan. Bakti sosial itu selain membagikan sembako juga ada pemeriksaan dan pemberian obat secara gratis. Para vinsensian juga melibatkan 6 dokter umum, 4 dokter gigi, 1 apoteker dan 2 perawat. Sebagian besar mereka yang mendapat bantuan adalah orang-orang yang sudah tua dari daerah disekitar Ngrambe. Tercatat mereka yang mendapat pengobatan sebanyak 245 orang.Betapa indahnya kerjasama yang dilakukan oleh anak-anak muda tadi. Itulah salah satu impian Frederic Ozanam pada waktu beliau mendirikan SSV.

Read More..

Serikat dengan semangat kaum muda




Karena serikat ini telah didirikan oleh dan untuk kaum muda, yang persaudaraannya diteruskan sampai mati, kecondongan asli dan tetap dari Serikat ini selalu diarahkan pada "semangat kaum muda". Hal ini sejak semula sudah dinyatakan dalam peraturan dan akan merupakan unsur yang tetap. Tetapi di sini pun SSV harus waspada, karena tiap manusia lama kelamaan akan kehilangan kesegaran fisiknya. Jadi haruslah Serikat ini diremajakan dalam semangatnya dan penerimaan anggota-anggota muda.
Jiwa kaum muda adalah dinamisme, semangat yang berkobar-kobar dan peneropongan masa depan. Mereka sanggup mengambil resiko, mempunyai daya khayal yang mencipta dan yang terutama ialah mereka memiliki daya penyesuaian diri; inilah yang merupakan ciri khas kaum muda. Hal ini jauh lebih penting dari pada penyesuaian yang agak dipaksakan. Karena jika seseorang tak sanggup lagi menyelaraskan dirinya, kelihatannya ia seperti sel yang membatu saja.
Dalam arti semangat kaum muda inilah, maka SSV dapat dinamakan suatu "gerakan cinta kasih dan kerasulan". Tentu saja karena masih muda dalam usia, tak selalu dapat terjamin mutu yang tinggi dari semangat kaum muda ini, meskipun tentunya serikat ini mempermudah hal itu. Untuk menambah anggota dan di lain pihak juga untuk menjaga kesetiaan pada tradisi-tradisi asli serikat dan Ozanam, perlulah dibina persaudaraan dengan kaum muda, memaklumi mereka, bercakap-cakap dengan mereka dengan penuh kesabaran, memberikan mereka tanggung jawab dan berlaku muda seperti mereka.

Read More..

10 Mei 2009

Sejarah Serikat Sosial Vinsensius




Serikat Sosial Vinsensius (SSV) atau yang dikenal juga sebagai St. Vincent De paul Society (SVDP) adalah komunitas kristiani internasional, didirikan di Paris tahun 1833 dengan perhatian utama membuat Gereja dan iman katolik sungguh tanggap pada kondisi masyarakat, terutama mereka yang miskin dan terlantar.
Serikat ini diawali oleh sekelompok kaum muda dan mahasiswa yang prihatin akan keadaan Gereja dan masyarakatnya pada waktu itu. Saat itu masih jaman Revolusi Prancis yang mulai meletus 1789 dan terus berkepanjangan. Rakyat marah pada kaum bangsawan dan Gereja yang dianggap kurang peduli pada penderitaan rakyat, bahkan seringkali berpihak pada orang kaya dan bangsawan. Memang ada beberapa hirarki dan tokoh katolik yang peduli dan tanggap menolong orang miskin, namun jumlah dan gerakan mereka kurang nampak. Banyak tokoh yang membela rakyat menyerang Gereja baik secara fisik, maupun dengan ajaran yang membawa suasana anti gereja.
Ozanam dan sekelompok temannya rajin mengadakan pertemuan dan membuka diskusi untuk membela Gereja. Mereka setuju bahwa Gereja harus berubah, namun dengan ajakan penuh kasih, bukan dengan menyerangnya. Mereka rajin mempelajari sejarah Gereja dan menunjukkan peran Gereja dalam perkembangan sastra dan ilmu yang sangat berguna bagi umat manusia. Usaha mereka ini agak meredakan suasana anti gereja di kampus. Namun kemudian beberapa lawannya kembali mengecam karena mungkin di masa lalu Gereja telah berbuat banyak untuk kemanusiaan, namun apa yang dilakukan Gereja saat itu ketika rakyat demikian menderita?

Salah seorang dari mereka Auguste le Taillandier mengungkapkan kegelisahannya bahwa mereka memang harus bertindak. Ozanam yang sebenarnya telah lama mempunyai keprihatinan yang sama merasa yakin bahwa memang sudah saatnya untuk bertindak. Mereka menghubungi Prof Emmanuel Bailly sahabat dan pendamping kaum muda ini. Kemudian mereka menghadap pastor paroki untuk menyatakan gagasan mereka. Pastor sulit memahami maksud mereka dan menganjurkan mereka untuk mengajar katekese. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengadakan pertemuan di kantor Le Tribune percetakan Prof Bailly pada tanggal 23 April 1833, kebetulan hari itu tepat ulang tahun Frederic Ozanam yang keduapuluh. Disitulah Auguste Le Taillandier, Frederic Ozanam, Paul Lamache, Francois Lallier, Jules Deveaux, Felix Clave memulai Serikat Cintakasih dan Prof Emmanuel Bailly diminta menjadi ketua mereka. Kemudian direncanakan tindakan langsung untuk menolong orang miskin dengan membantu Sr Rosalie Rendu PK yang waktu itu sangat terkenal dengan karyanya untuk orang miskin. Sr Rosalie Rendu PK dianggap oleh SSV sebagai Pembimbing Rohaninya yang pertama.
Semula puas dengan keakraban mereka berenam, mereka tak berminat untuk menerima tambahan anggota. Namun Ozanam menyadarkan mereka untuk menjadi kelompok yang terbuka untuk menerima anggota baru. Demikianlah anggota mereka semakin bertambah.
Tanggal 4 Februari 1834 Jean Leon le Provost (1803-1874) anggota tertua waktu itu selain Bailly mengusulkan agar Santo Vinsensius yang terkenal kasihnya pada orang miskin menjadi pelindung, teladan dan nama serikat. Santo ini juga penggerak kaum awam dalam Gereja. Pada kenyataannya dibawah bimbingan Sr Rosalie Rendu sebenarnya sejak awal serikat telah menghayati spiritualitas santo Vinsensius. Mereka sepakat menyetujui, bahkan selanjutnya dalam pertemuan mereka juga membaca “Kisah Santo Vinsensius pelayan orang miskin” agar mereka semakin dapat meneladan orang kudus tersebut. Betapa rinci santo Vinsensius menulis tentang pelayanan kepada orang miskin. Tak ada inspirasi dan teladan yang lebih tepat dari santo ini bagi serikat kaum muda itu. Santo yang menyebut orang miskin “Tuhan dan Guru”. Jean Leon le Provost juga mendirikan Pusat Kaum Muda dan Kongregasi Bruder St Vinsensius Depaul.
Leonce Curnier orang muda yang pernah menghadiri Pertemuan Serikat pada bulan Juni 1834 demikian terkesan. Ketika beberapa bulan kemudian dia kembali ke Nimes anak saudagar sutera itu menulis kepada Ozanam bahwa dia mendirikan perkumpulan yang sama di kotanya. Ozanam bersukacita mendengar perkembangan pertama Serikat di luar Paris itu.
Sementara itu serikat yang di Paris anggotanya juga terus berkembang. Akhir 1834 Ozanam ingin agar serikat dipecah, tapi Le Perriere menentang dengan keras. Perdebatan berlangsung dengan sengit. Bailly dengan bijaksana menunda pemecahan itu. Februari 1835 ketika anggota sudah hampir 60 orang, mereka sepakat untuk memecah serikat. Selanjutnya Serikat ini terus berkembang di berbagai kota di Prancis, bahkan juga ke luar negri.
Serikat mengenang para pendiri dengan penuh syukur karena teladan yang mereka berikan untuk mengabdi orang miskin dan Gereja. Roh Kudus jelas sekali menaungi mereka semua tatkala mereka berkumpul pada pendirian serikat itu, meneguhkan karisma mereka masing-masing. Di antara mereka Beato Frederic Ozanam menjadi sumber inspirasi yang luarbiasa. Serikat ini sejak berdirinya adalah katolik dan tetap menjadi organisasi awam katolik internasional. Para pendirinya adalah awam katolik sejati yang bersemangat mewujudkan rahmat dari Sakramen Baptisnya sebagaimana diteguhkan oleh Konsili Vatikan II lebih dari seratus tahun kemudian.
Sumber: selain Rule Dewan Umum, juga Madeleine des Rivieres, OZANAM, un savant chez les pauvres, editions Bellarmin, Montreal, 1989 (1983)

Read More..